Sunday, February 10, 2008

Kukecup Dahimu Lama

Kucoba memainkan ujung-ujung rambutmu yang tebal dan terjalin rapi. Kucium, mhmhmhm … harum. Teringat betapa seringnya kumain-maini rambutmu di dalam kelas. Betapapun hebatnya tarik-tarikanku, rambutmu tetap tebal. Tidak melar. Apalagi putus.

Beringsut aku mendekatkan wajahku ke wajahmu. Mencoba kembali mencium pipimu. Hati-hati sekali, seperti takut membangunkanmu. Mhmhm ….. lembut pipimu terasa. Terbayang betapa hebohnya orang-orang di keluargamu tatkala aku mencium pipimu di bandara Soekarna Hatta waktu itu. Walau semua orang tahu kalau aku pasti akan melamarmu, kita akan menikah, namun kebiasaan ketimuran yang ada dan berakar, membuatnya tampak sebagai tindakan menjijikkan. Kuingat, mukamu memerah tatkala ayahmu tiba-tiba batuk terus menerus. Kita cuma terbahak kecil mendengarnya.

Matamu memang indah Dina. Terhias dengan alis hitam pekat, penuh. Paduan yang sangat serasi. Apalagi dengan bola matamu yang putih dan hitam. Sangat kontras. Kuingat betapa aku mulai senang melihatmu karena mata itu. Mata yang menatapku tajam tatkala mempertanyakan mengapa perempuan harus berada di belakang laki-laki dalam segala hal. Aku benar-benar tak berkutik kala itu. Terpesona. Atau tatkala panas menghentak Saijo. Kau tiba-tiba minta menghentikan mobil di samping vending machine, membeli sekaleng pespi zero dingin, lalu menempelkan dinding dingin kaleng itu di kelopak matamu. Wajahmu yang tadinya resah gelisah, berubah drastis dramatis menjadi senang luar biasa. Senyum menghias.

Kuraba pelan bibirmu. Lembut. Merah muda indah menghiasi wajahmu. Kuingat, dari bibir itu sering keluar kata-kata yang tajam. Menghentakkanku. Menyadarkanku akan egoisme semu kelelakianku. Kadang pula mempertajam rasa sayangku padamu, dengan kata-kata lembutmu yang menenangkanku setelah dimarahi Sensei. Mmhm, teringat juga betapa bibirmu itu selalu menjadi penghantar peraduan kita di malam hari, atau subuh hari, atau kapan saja. Kapan saja aku inginkan ataupun engkau inginkan. Paling sering tatkala aku akan berangkat ke kampus. Bibirmu itu pasti kukecup. Kuambil sebagai penghantar perjalananku sampai di lab. Begitupun tatkala tiba. Walaupun engkau terlalu lelah selepas kerja seharian di pabrik, walaupun sementara makan, walau apapun; engkau tidak akan memperbolehkanku melakukan apapun, selain menyentuhkan bibirmu dengan bibirku dulu. Mhmhmh, Dina. Tak terasa, kudekatkan bibirku ke bibirmu. Kukecup pelan. Terasa lembut. Hidungku pun ikut menyentuh hidungmu. Hidung yang sangat hebat memainkan akrobat mengeraskan cuping. Aku tergelak kecil mengenang, tatkala engkau selalu bisa dengan gampangnya membuat keras dua bagian hidungmu itu. Atau menggodaku yang marah karena polisi nihon-jin menghentikan mobilku tanpa sebab, sementara aku sudah terlambat memenuhi janji dengan Sensei, atraksi kembang kempismu itu pasti akan membuatku tertawa. Paling tidak tersenyum dan akhirnya melupakan kejadian-kejadian yang membuatku marah tadi.

Selepas bibirmu, kukecup dagumu. Asyik. Penuh daging dan menggemaskan. Bagian dari wajahmu yang paling sering kugigit mesra, dan engkaupun menyukainya. Kuingat beberapa kali, kita sempat bertanding membentuk pola gigi di dagu yang selainnya. Untuk hal ini, aku paling sering menang. Bukan karena gigi-gigiku yang tajam, namun karena daging empuk di dagumu itu. Kenyal. Begtu juga terus ke bawah. Ke lehermu yang berlipat-lipat. Tidak jenjang, namun gemuk. Mhmhm, kuingat terasa sangat lembut tatkala kucium lembut lipatan-lipatan itu. Tatkala engkau berkeringat kuat karena mencoba memasakkanku gulai kambing kesukaanku di dapur panas apato kita di cuaca gerah Saijo. Keringat itu bak parfum yang selalu menggodaku. Engkaupun selalu tergelitik karenanya, lalu kemudian pasti berakhir dengan nafas menderu kita di futon. Mhmhm …..

Dahi itu …..

Suara derik pintu membuka menghentikan lamunanku. Fuji-san masuk.

“Sumimasen, Deni-san. Kyuukyuusha wa mou kuukou ni mukau junbi ga dekimashita. Sorosoro ikimasenka?”

(Mohon maaf, Deni. Mobil jenazah sudah siap berangkat ke bandara. Bisa kita berangkat sekarang?)

Aku mengangguk. Fuji-san pun mengangguk, lalu keluar.

Kupandang kembali wajahmu. Tenang. Seperti tidur. Rambut, mata, hidung, bibir dan dagumu memperlihatkan ketenangan itu. Memperlihatkan kesempurnaan wajahmu. Ahhh …. Walau kutahu, sebentar lagi petugas byooin akan datang, menempatkanmu dalam peti yang terpaku rapat, yang akan menghalangiku untuk dapat memandang wajahmu lagi. Aku tersenyum getir. Kupandang lagi. Mataku tertuju ke dahimu. Belum kuceritakan padamu tentang dahimu itu. Ahhh, Dina. Tak ada waktu lagi. Kukecup dahimu. Lama.


Saijo, Februari 3rd 2008, 02.00AM

Sunday, February 3, 2008

Resah Firman, Impian Dea dan Tangisan Ani

“Maaan. Diaper Ani perlu diganti tuh!”

Firman berhenti mengetik. Diarahkannya pandangannya ke kamar sebelah. Ani mulai merengek-rengek. Menangis, minta diapernya diganti.

“Maaan. Gan …”

“Iya, dengar….”

Sekali lagi diliriknya laptopnya. Paper ini harus selesai sebentar, harus, batin Firman sambil bergegas mencari diaper baru di rak sebelah ranjang. Tidak sampai lima menit, tangisan Ani reda. Diaper baru. Diletakkannya Ani kembali ke boksnya. Ani tertawa, seakan mengajak ayahnya main. Namun Firman hanya bisa senyum kecut. Tak mampu menjawab panggilan Ani. Maklumlah, waktu yang semakin sempit dan terbatas, mengharuskan Firman untuk bekerja seperti gasing yang tidak pernah berhenti berputar. Tahun terakhir beasiswanya. Jika tidak bisa menerbitkan paper terakhir ini, maka dia harus mengajukan perpanjangan ke Sensei. Itupun belum tentu disetujui. Mana lagi, demikian banyak kebutuhan hidup keluarga yang harus dipenuhinya. Diaper dan susu Ani, tuitition fee Dea, logistik sehari-hari. Semuanya, semuanya harus bergantung ke Firman. Beasiswa monbukagakusho jelas tidak bisa menutupi semua itu. Untuk itu dia harus baito dimana-mana. Loper koran-lah, di pabrik roti-lah, di Yamamoto-lah ….. Semuanya. Sementara Dea, jelas-jelas tidak mau kerja. Buat apa kerja? Kan ada beasiswamu? Kamu kerja lagi. Itu pasti cukup. Kan memang sudah menjadi tugasmu sebagai kepala keluarga? Aku kan juga kuliah? Banyak tugas dari Sensei. Mau ujian. Selalu begitu jawabannya tatkala Firman memintanya untuk ikut membantu mencari uang. Namun entah mengapa, Firman sekalipun tak pernah mampu menjawab balik pertanyaan-pertanyaan Dea itu. Tak pernah sekalipun.

Terdengar azan isya dari laptopnya. Firman menghela nafas panjang. Selain shalat isya, azan itu juga mengingatkannya untuk segera ke Sun Square, menunggu jemputan baito di Yamamoto. Ditatapnya sekali lagi Ani yang mulai asyik sendiri dengan mainannya. Aku harus bisa. Harus bisa hidup dengan ini semua, desis Firman menyemangati dirinya sendiri.

***


“Fir, jangan gitu dong. Kamu kan laki-laki. Walau pun memang tugas suami yang mencari nafkah, paling tidak Dea kan bisa ikut bantu-bantu urus rumah. Masa’ sih ganti diaper juga kamu?”

Firman tertunduk. Rentetan kata-kata pedis Irfan seperti sembilu. Menyayat telinganya. Ditatapnya kawan seangkatan dan selabnya di Mechanical Engineering Hirodai lamat-lamat. Seakan meminta persetujuannya akan ketidakmampuannya menyelesaikan masalahnya.

“Bener. Kamu pasti bisa. Harus bisa. Ingat Fir, kita tinggal setahun lho. Masih ada satu paper yang mesti masuk jurnal kan? Belum lagi disertasimu yang mesti bersamaan rampung juga. Harus bisa lho Fir!”

Firman tertunduk. Tak mampu ditatapnya lagi mata sahabatnya itu. Semua kata-katanya benar. Landasan kata-kata itu harus bisa membuatnya berani untuk menanyakan kembali ke Dea. Harus!

“Kapan baiknya Fan aku ngomong ke Dea?”

“Sekarang saja. Aji mumpung kamu semangat. Jangan khawatir, aku absenkan bentar kalo pulang jam 7 pagi, kamu shift sampe pagi kan? Nih, pake aja motorku”, senyum Irfan sambil memberi kunci motornya. Firman ikut tersenyum girang. Beban hatinya seakan lenyap. Terganti dengan harapan yang tinggi.

***

Pukul dua subuh. Firman baru saja tiba di apatonya. Pintu rumah dibukanya perlahan. Tidak dikunci. Firman menggeleng. Kebiasaan Dea yang tidak bisa hilang. Entah kenapa? Walaupun semua tahu kalau tidak pernah ada maling di sekitar pusat kota Saijo, namun apa salahnya untuk jaga-jaga?

Pintu kamar tengah masih terbuka. Firman bergegas masuk. Pemanas ruangan berbahan bakar minyak tanah itu ternyata mati. Segera dilihatnya Ani di boks-nya. Di sudut boks kayu itu, Ani tidur merapat. Menggigil. Selimutnya masih tersampir di dinding boks. Dea kurang ajar, gerutu Firman. Walau marah, pelan diselimutinya Ani. Dinyalakannya pemanas. Lepas itu, digosok-gosoknya kaki mungil yang mulai dingin itu. Lalu tangan. Sepuluhan menit kemudian Ani mulai tertidur pulas. Tanpa gigilan lagi. Firman menghela nafas panjang. Pikirannya berpindah ke Dea. Mana dia? Biasanya dia browsing interet di sofa samping tv. Diliriknya laptop Dea, portal E-bay sementara terbuka. Beli apa lagi dia? Dilihatnya nomor kartu kreditnya tertulis di jendela detail pembayaran. Ahh, geleng Firman lemah. Dea tidak pernah bisa mengerti dirinya. Gegar budaya ternyata tidak mampu Dea atasi. Walau telah Firman nasehati. Walau telah ada Ani. Dea tetap tidak mampu beranjak dari dunia mimpinya. Fiman menghela nafas panjangnya. Seakan mengadu pada semuanya akan ketidakmampuannya menyadarkan Dea. Ahh ….

Tapi mana dia. Atau sudah tidur? Pelan dibukanya pintu kamar tidur. Matanya nanar. Di atas ranjang, ada dua tubuh. Dea dan laki-laki yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya. Berdekapan. Tidur. Nafas mereka teratur. Pulas. Semenit, dua menit, sepuluh, Firman masih mematung menatap mereka. Air matanya menganak. Dirasakannya dirinya mulai melemah. Seluruh tubuhnya dirasakan seperti tertusuk ribuan jarum. Namun entah mengapa, sesuatu dalam dirinya seakan berontak. Seakan bergejolak kuat. Membuatnya mendidih. Pikiran pendeknya mulai beraksi. Dilihatnya gunting di atas meja laptopnya masih ada. Diraihnya kemudian ditimangnya perlahan. Dikuatkannya pegangannya. Pelan didekatinya ranjang tempat dua orang itu pulas tertidur. Tiba-tiba, Firman berhenti. Bayangan-bayangan masa-masa indahnya dan Dea melintas terang. Diingatnya, ranjang inilah yang mengantar kedatangan Ani di rahim Dea. Diingatnya, ranjang ini pula sedemikian kecilnya Ani tertidur nyenyak ditepuk-tepuk mereka berdua. Diingatnya, ranjang ini penuh dengan canda tawa ria mereka bertiga tatkala pertama kalinya mereka melihat salju turun lebat di Saijo. Diingatnya ……

Firman kembali lemas. Tangan kekarnya yang menggenggam kuat gunting, perlahan turun. Dia tertunduk. Air mata yang tadi berhenti mengalir kembali menganak. Haruskah aku jadi pembunuh? Bagaimana dengan Ani? Ditatapnya putri kecilnya yang masih tertidur pulas di boks-nya. Wajah mungil itu tersenyum dalam tidurnya, seakan sedang mimpi yang indah. Firman pun ikut tersenyum.

***

“RRRiiiiiiiiiingggggg. RRRiiiiiiiiiingggggg. RRRiiiiiiiiiingggggg”

Weker keras berdering membangunkan Dea. Jam tujuh. Dea menggeliat. Ditatapnya wajah Ikeda disampingnya. Masih pulas. Kepayahan. Dea tersenyum genit. Digeliatkannya tubuhnya, beringsut ke pinggir ranjang. Secarik kertas melayang jatuh dari bibir ranjang. Bergegas diraihnya. Dea mengernyit. Tulisan tangan Firman, gerutunya. Ingin dibuangnya, namun entah mengapa matanya tetap tertuju ke kertas itu. Dibacanya.

“Dea. Maafkan aku karena tidak mampu membahagiakanmu. Aku pindah. Semua barang-barangku aku bawa. Ani juga. Semoga kau bisa menemukan kebahagianmu, mimpimu. Firman”

Dea mematung. Hening. Dingin. Yuki di luar mulai deras, sederas air mata Dea.


Hou Shaku Apato 203, 3 Februari 2008, 08.01.

Saturday, January 26, 2008

Cepat ke sini, istrimu mau melahirkan!

“Cepat ke sini, istrimu mau melahirkan!”


Kalimat itu masih terus mengiang di telinganya. Terus dan terus. Kayuhan kakinya mendesak pedal sepeda tua pemberian Koichi Sensei, si empunya apato, tidak mampu mengusir gaungan kalimat itu. Hati Firman galau bukan main. Pasalnya, jadwal persalinan yang diberitahukan dokter waktu periksa di Motonaga tadi siang, masih lima hari lagi. Lima hari! Mengapa tiba-tiba bisa bergeser menjadi tengah malam seperti ini, geram Firman. Berkali-kali gemeretuk gerahamnya memecah sunyinya malam.


“Cepat ke sini, istrimu mau melahirkan!”


Kondisi jalanan samping rel kereta antara Seno dan Saijo yang naik turun mulai mengganggu kayuhannya. Memang tidak pernah disangkanya, Lina akan melahirkan malam-malam begini. Tahu begini mending bolos baito semalam, gerutunya. Walaupun demikian, kayuhan sepedanya tetap berirama, mengikuti kondisi jalanan. Kadang meninggi karena jalanan menurun, atau melambat karena mendaki. Jarak antara kedua stasion kereta yang diantarai Hatchihonmatsu Eki ini memang cukup jauh. Sehari-hari, tatkala baito dengan shift malam, Firman biasa menghabiskan sepuluh sampai limabelas menitan, untuk menempuh jarak tersebut. Itupun dengan densha. Bukan sepeda tua.


“Cepat ke sini, istrimu mau melahirkan!”


Degup jantung Firman mulai cepat. Maklum, tanjakan tercuram mulai dijalaninya. Gila, tanjakan ini lebih terjal dari tanjakan Kagamiyama Koen, batinnya. Walau sehari-hari dilewatinya, namun tidak pernah terlintas dibenaknya akan melintasi tanjakan ini dengan sepeda. Deru nafasnya sekarang mampu didengarnya jelas, tanda bahwa kelelahan yang amat sangat, mulai menggelayutinya. Jantung berupaya keras mengantarkan oksigen murni menuju paru-paru via darah, pikirnya. Dalam hati Firman tersenyum, mungkin beginilah sebuah perjuangan yang mesti dijalaninya. Teringat dia akan penjelasan guru biologi semasa SMA dulu.

“Partikel darah akan mengangkut atom oksigen yang cukup berat, naik turun pembuluh, dari pusat pengambilannya di hidung menuju paru-paru. Energi yang dibutuhkannya sangat besar kan? Untuk itu, tubuh memerlukan asupan energi yang cukup”.

Firman kembali tersenyum dalam hati. Mana bisa cukup energi, bekal bento dari Lina pun belum kusentuh, desaunya dingin.


“Cepat ke sini, istrimu mau melahirkan!”


Beberapa kayuh sebelum tiba di puncak, bunyi derak terdengar keras dari bawah. Firman mulai gelagapan. Terbayang dibenaknya, rantai sepeda tuanya itu putus. Dengan sigap, dituntunnya menuju tiang lampu pinggir jalan. Alhamdulillah, hanya lepas, syukurnya. Perlahan mulai dicobanya mengembalikan posisi rantai karatan tersebut ke tempat yang semestinya. Namun cuaca yang mulai mendingin memaksanya bekerja ekstra. Tangannya gemetar. Maklumlah, badai yuki yang kemarin menghantam Saijo masih menyimpan sisa-sisa. Walau jelas tak menimpa Seno, namun arahan angin dari gugusan gunung sekitar Saijo mulai ikut mendinginkan malam-malam di daerah ini.

Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya rantai berkarat pun kembali ke posisinya semula. Firman menyeka keringatnya dengan punggung tangan. Dingin. Ditatapnya langit. Satu demi satu butiran putih mulai berjatuhan. Yuki, gumamnya. Deru nafas yang tadinya cepat dan keras, perlahan melambat. Raut muka Firman berubah. Perlahan-lahan tertunduk. Diingatnya dengan jelas, tepat setahun yang lalu, seperti malam-malam begini, kala yuki turun, Lina meregang nyawa. Mukanya memucat. Pendarahan berat setelah pecahnya ketuban. Ah, Firman menengadahi langit. Diingatnya lagi tatkala genggaman Lina perlahan mengendur, pertanda mulai hilangnya tenaga. Dorongan untuk melahirkan hampir habis. Dokter pun mendesaknya mundur, meminta Firman bergerak menjauhi ranjang. Satu perawat memintanya keluar ruang persalinan. Secio, kami akan secio, kata perawat itu. Firman tidak bisa berbuat apa-apa. Sekilas dilihatnya sinar mata Lina melemah, seakan-akan berkata “Maafkan aku ….. maafkan aku”. Firman hilang keseimbangan. Hilang pegangan. Tubuhnya limbung. Dia terjatuh tepat di depan pintu kamar operasi.


“Cepat ke sini, istrimu mau melahirkan!”


Firman masih terduduk di bawah sinar lampu jalanan yang mulai temaram karena tertutup derasnya yuki. Lamunannya masih ke peristiwa itu. Diingatnya, tatkala siuman, begitu banyak teman yang ada disekelilingnya. Semuanya bermuka sedih. Semuanya memintanya untuk bersabar. Firman bergerak cepat. Ditepisnya semua tangan-tangan itu. Namun apa daya, tenaganya habis. Seorang teman membisiknya, “Sabar Fir. Relakan. Relakan. Ingat Allah ….”. Firman kembali melemas. Dia terduduk kembali. Tak berapa lama, dokter yang mendorongnya tadi, datang mendekat. Berbicara perlahan namun jelas. Lina selamat, namun bayinya tidak. Belitan tali pusar di leher menghantarnya kembali ke Sang Pencipta. Secio ternyata tidak mampu menyelamatkan nafasnya yang terlanjur terhenti. Firman tertunduk lemas. Air menganak dipipinya. Dibayangkannya betapa hancurnya hati Lina jika mengetahuinya. Betapa sulitnya perjuangan untuk bisa hamil. Betapa susahnya berjuang belajar di negeri orang sementara tetap harus membawa sang anak dalam kandungan. Sembilan bulan yang penuh perjuangan. Firman terisak. Beberapa teman merangkulnya, mengelus-elus punggungnya, memohonnya bersabar. Firman hanya bisa terisak.


“Cepat ke sini, istrimu mau melahirkan!”


Yuki masih sangat deras. Dingin yang diantarkan angin, menyadarkan Firman dari lamunannya. Walau gemeletuk giginya mengeras, tetap saja ditengadahkannya kepalanya menatap yuki yang dingin. Butirannya jatuh satu demi satu diwajahnya. Dingin yang terasa menyengat, seakan-akan dinikmatinya. Seakan-akan berusaha mengatakan, “Kami bisa bangkit kembali. Bisa”. Diingatnya, dukungan teman-teman sepenanggungan membuat Lina dan dirinya sendiri bisa bangkit dari kekalutan sedih. Memberikan semangat untuk bisa kembali hidup seperti sedia kala. Memberikan semangat untuk bisa kembali meniti hidup dan meraut rejang keluarga dengan berusaha kembali mempunyai anak. Firman mendesah panjang. Disapunya yuki dari wajahnya. Walau tidak seperti yang dibayangkannya, namun hari-hari seperti ini sebenarnya sangat dinantikannya. Hari dimana berita kelahiran anaknya sampai ditelinganya. Harus! Aku harus bersemangat, tegasnya mengepalkan tinjunya dan bergegas berdiri.


“Kriinnggg, kriinngg ……”


Keitainya berbunyi. Nyaring membelah sunyi malam. Firman terpana. Tangannya semakin gemetar. Gelagapan diraihnya saku jaket kanan.


“Kriinnggg, kriinngg ……”


Keitai Toshiba lama itu masih berdering keras ditangannya. Kenangan masa lalu itu kembali menggelayut kuat. Seperti memaksanya untuk jatuh. Namun dikumpulkannya kekuatan batinnya. Bismillah ….


“Moshi moshi. Firman desu” (Halo, Firman di sini)


“Haik. Motonaga byooin desu. Okosan ga umaremashita. Onnanoko desu...” (Di sini Rumah Sakit Motonaga. Anak anda telah lahir. Perempuan)


Firman terhenyak. Semua kenangan buruk yang tadi merongrong batinnya sontak hilang. Tanpa gurat tanpa bekas. Dingin malam pun lenyap. Tak terasa lagi. Sama sekali. Ah …… Firman mendesah panjang. Senyumnyapun mengembang lebar. Alhamdulillah ……


Saijo, 26 Januari 2008, 04.50

Dipersembahkan kepada ibu-ibu di Saijo yang baru saja melakukan tugas sucinya.

Friday, December 21, 2007

Kebun Jagung

“Gus .... Agus .......... Bantu emakmu ambil air nak”

Walau telah berulang kali didengarnya kalimat itu, Agus belum beranjak sejengkalpun. Kelumpuhan bapaknya akibat terjatuh dari pohon sukun hampir setahun lalu, membuat remaja tigabelas tahun itu menjadi pembantu utama ibunya, mencari nafkah dengan menjual bubur jagung di pasar. Selain air, sering pula ibunya menyuruh mencari bumbu-bumbu penyedap bubur jagung di hutan kecil sebelah timur lubuk. Dan benar saja, suruhan itu kembali terjadi.

“Gus, kalo sudah cukup segentong airnya, tolong juga cari juga bunga candu dan sedikit madu hutan”, teriak ibunya dari dapur. Agus yang sedari tadi masih setia di depan buku cerita yang dipinjamnya di sekolah, mendengus pelan. Dia ingat ajaran Ustad Umar, “Jangan pernah berkata ah pada ibumu, karena dosanya sudah cukup untuk membawamu menghuni neraka selama-lamanya”. Walau Agus bukanlah murid yang patuh pada guru, namun jika sudah ada kaitannya dengan neraka, pastilah dia tidak bertanya lagi. Akhirnya setelah merapikan buku cerita itu di atas meja, dihampirinya ibunya. Ibunya tersenyum, “Lagi membaca ya? Nantilah kau lanjutkan, tolong emak sebentar ya?” kata ibunya sambil menyorongkan gentong kecil dan keranjang bambu anyam. Agus cuma tersenyum. Dia tahu, walau hidup kesusahan, ibunya selalu sadar akan pentingnya pendidikan. Dia tidak mau tahu kalau Agus jauh lebih suka membaca buku cerita ketimbang buku pelajaran. Yang penting, buku! Karena menurutnya, buku apapun itu, asal kita mau membacanya, pastilah kita bisa menangkap maksudnya. Dan tidak ada buku yang mengajarkan kesia-siaan. Asal maksud dan tujuan buku tersebut benar-benar nyata dan dapat dipahami.

Tidak lama, Agus sudah ada di tepi hutan. Kalau dilihat baik-baik, walau tidak terlalu besar, hutan itu sebenarnya cukup menyeramkan. Beberapa teman Agus pernah hilang di sana. Orang-orang bilang, disembunyikan setan. Namun setelah beberapa lama, mereka yang hilang pasti ditemukan kembali setelah sehari atau dua. Sebenarnya ada rasa takut bergelayut di tengkuk Agus. Terakhir kali ke situ, walau hari masih siang menjelang sore, Agus mendengar percakapan yang amat ramai dari dalam hutan. Namun dia pun tahu, kalau tidak pernah ada orang yang tinggal dalam hutan itu. Makanya hari itu, Agus agak gemetar juga masuk ke hutan. Soalnya waktunya persis dengan kejadian terakhir kali ke sana. Kata orang, setan, dedemit atau apapun sebangsanya, paling suka mengganggu pada waktu-waktu yang sama. Hii ... ngeri juga, batin Agus.

Sepuluh langkah pertama, Agus masih hati-hati sekali. Butuh hampir tiga menit untuk sampai pada posisinya sekarang. Setiap dua langkah, ditajamkannya pendengarannya. Segala macam bunyi disaringnya. Ditelaahnya sampai yakin kalau itu hanya suara dedaunan yang bergerak tertiup angin. Setelah langkah terakhir, dirasakannya tidak ada kejadian yang mencurigakan. Napas lega mulai dihelanya. Mulai disesuaikannya matanya dengan keadaan sekitar. Daun, perdu sampai lumut, hijau. Ranting, batang pohon sampai akar muncul dan gantung, coklat. Kalau ada warna lain, pastilah burung atau serangga atau bahkan sampah. Sampah? Beberapa meter di sebelah kanan, ada sesuatu berwarna ungu kebiruan. Ungunya seperti ungu bungkusan deterjen bubuk yang banyak di pasar. Didekatinya benda ungu itu. Semakin dekat, semakin nyata kalau benda itu bukan sampah. Tapi seperti kain selendang. Diambilnya pelan. Benar, ternyata selembar selendang. Selendang? Siapa yang punya selendang? Perempuan mana yang berani masuk ke hutan ini? Agus menyernyitkan dahi, mencoba mengeliminasi siapa saja di kampungnya yang punya selendang seperti itu. Ibunya, tidak. Mbak Tiwil, tidak. Hmmmm .... tidak ..... tidak ... tidak .... Sudah terlalu banyak nama dan bayangan muka perempuan-perempuan yang silih berganti lewat di benaknya. Namun tidak ada satupun yang dapat membuatnya yakin. Ada satu dua, tapi mereka jelas tidak bisa masuk hutan, sudah terlalu tua. Hmmm, siapa ya? Masih dalam kebingungannya, mata Agus melihat lagi satu benda, sekitar empat meter ke arah depan. Warnanya keemasan. Segera Agus menghampiri. Tusuk konde dengan bentuk kipas kecil, lengkap dengan sederetan batu berkilau. Seperti berlian. Atau memang berlian? Selendang ungu diletakkannya di keranjang bambunya, sebelum meraih tusuk konde itu. Emas, tusuk kondenya dari emas, teriak Agus dalam hati. Wow, pastilah batu-batu itu juga berlian. Mata Agus mulai berbinar. Terbayang apa yang dapat dilakukannya dengan benda itu. Dia bisa periksakan bapaknya ke dokter, bantu jualan ibunya, bayar tunggakan uang sekolah. Bahkan mungkin bikin perpustakaan pribadi. Lengkap dengan buku-buku cerita pilihannya. Tapi....? Dahinya kembali berkerut. Ini kan bukan punyaku? Mana bisa aku ambil? serunya dalam hati. Jangan-jangan, barang-barang ini kepunyaan seorang wanita yang dibunuh kemudian mayatnya dibuang dalam hutan! batin Agus. Pernah didengarnya cerita tentang hilangnya seorang wanita juragan kain di pasar. Wanita itu tinggalnya di kampung sebelah. Tapi .. ah, itu kan sudah ketahuan kemana hilangnya. Kawin lagi. Agus tersenyum sendiri. Tapi kalau begitu, selendang dan tusuk konde ini punya siapa? Sambil berpikir terus, matanya melirik kesana kemari. Jangan-jangan ada barang lain lagi. Siapa tahu saja berharga? Kan bisa dipakai buat hal-hal lain! pikir Agus mulai serakah.

Selang beberapa menit, tak didapatnya apa-apa. Kakinya yang tadi gemetar dan hati-hati, mulai gampang melangkah. Perdu-perdu mulai disibaknya. Bawah-bawah pohon dikoreknya. Bahkan lumut pun dicabutnya. Tanpa dia sadari, sudah tengah hutan. Anehnya, jarak antar pohon semakin renggang. Angin yang biasanya dirasakan kalau berada di lembah, malah terasa di pipinya sekarang. Beralasankan heran dan ingin tahu, Agus melangkah terus. Sekitar lima belas meteran, langkahnya terhenti. Tak dipercayainya apa yang terpampang di depan hidungnya. Matanya menatap langsung ladang jagung yang sangat luas. Dengan jagung-jagung yang sudah siap petik. Bahkan ada beberapa yang sudah menyembulkan bongkolnya. Gemuk dan padat. Napas panjang kembali dihelanya untuk redakan detakan jantung yang semakin keras dan cepat. Segala perasaan bertumpuk menjadi satu. Agus berlutut. Matanya berkaca-kaca. Teringat betapa susahnya ibunya membeli jagung, mengolah kemudian menjualnya. Andai sudah diketahuinya ladang jagung itu sejak lama, pasti usaha ibunya sudah sangat maju. Ah ... Tuhan, Engkau Maha Adil. Tatkala kami sedang kesusahan, Kau turunkan bantuan-Mu untuk kami, doa Agus menengadahkan tangannya ke langit. Lepas dengan segala perasaan keingintahuan akan pemilik ladang, Agus berlarian di sela-sela pohon jagung. Dipetiknya dengan riang, jagung demi jagung. Tatkala tangannya penuh, dia kembali ke tempat dimana gentong air dan keranjang bambunya dia letakkan. Dilihatnya kembali selendang dan tusuk konde emas yang didapatnya tadi, tergeletak dalam keranjang. Agus menggeleng riang. Ditumpahkannya isi keranjang ke tanah. Diisinya keranjang dengan jagung-jagung itu. Setelah itu, dia berlari kembali memetik jagung demi jagung. Setelah penuh, kembali ditumpahkannya jagung-jagung itu ke dalam keranjang. Begitu seterusnya sampai hari hampir gelap. Sadar kalau hari sudah hampir malam, Agus berkemas tergesa-gesa. Gentong digantungnya di bahu kiri, sementara keranjang bambu digendongnya dengan kedua tangan. Karena berat, maka Agus tak bisa berlari-lari riang seperti suasana hatinya. Sempat terpikirkan sesuatu, namun sekejap terlupakan. Dia terlalu senang.

Lepas magrib, dia tiba di depan pintu rumahnya.

“Maaaak .... Emaaaaak. Agus pulang!” teriaknya. Terdengar langkah tergopoh-gopoh dari arah dapur. Muka lesu ibunya muncul dari balik kain gorden pembatas ruangan. Didapatinya Agus dengan sekeranjang penuh jagung. Besar-besar lagi. Agus tertawa-tawa. Namun ibunya tidak, tersenyumpun tidak.

“Dari mana jagung-jagung ini Gus?” tanya ibunya.

“Dari hutan Mak. Di sana ada ladang jagung yang luaaaas sekali. Lebih luas dari ladang Haji Toha di pinggir kampung yang terbakar setahun kemarin. Jagung-jagung di keranjang ini cuma secuil. Emak bisa bikin bubur sampai tiga bulan tanpa harus beli di pasar. Kan enak?” cerocos Agus lancar. Ibunya tersenyum arif, “Tapi jagung-jagung ini bukan punya kita kan, Gus? Apa Agus mau pembeli jajanan Emak makan barang haram? Jangan ya? Tolong kembalikan lagi jagung-jagung ini besok sebelum ke sekolah. Ya?”

Agus terdiam terpaku. Akhirnya tertunduk. Segala kegembiraan musnah seketika. Keinginan untuk menyenangkan ibunya, harus dikuburnya dalam-dalam. Sadar akan suasana kelu hati Agus, ibunya bertutur, “Rejeki setiap orang memang telah ditetapkan Tuhan, namun bukan dengan cara yang tidak benar. Setahun lalu Bapakmu pun dapat jagung seperti ini. Tapi dia tidak beritahu Emak. Dibakarnya di dapur tatkala tak ada orang. Waktu Emak tiba dari pasar, Bapakmu sudah terlentang tak bisa bergerak di lantai. Emak tidak mau itu terjadi padamu, Nak”. Agus termangu, “Jadi Bapak tidak jatuh dari pohon sukun?”.

Ibunya tersenyum menggeleng. Dielusnya kepala Agus penuh sayang. Kasih ibu memang penuh mukjizat. Agus pun mengerti, juga ikut tersenyum. Tanpa banyak kata, dibereskannya gentong air dan keranjang bambu yang dibawanya tadi. Peluh mengalir deras, namun kelegaan hati terasa lebih sejuk.

Masih pagi sekali. Setengah enam. Agus dengan seragam putih birunya, kembali menggendong keranjang bambunya yang penuh jagung. Lewati lubuk dan bergerak ke timur, masuk hutan. Langkahnya sudah tidak seperti kemarin. Sekarang sudah ringan dan bahkan dengan bersiul-siul. Namun tatkala mulai lewat tempat ditemukannya selendang serta tusuk konde emas kemarin, siulannya berhenti. Mulai didengarnya suara riuh rendah. Suara itu lagi. Suara yang membuatnya takut untuk masuk hutan sejak lama. Ramai sekali suara itu, pikir Agus. Teringat suara itu pernah didengarnya sebelumnya. Dicobanya mengingat-ingat kembali dimana dia pernah mendengar suara seperti itu.

Walau gemetar, kaki tetap dilangkahkannya. Sampai tepat di tempat ditumpahkannya selendang dan tusuk konde emas kemarin. Tempat dimasukkannya jagung-jagung itu kemarin. Sinar matahari mulai menerangi hutan. Ditolehnya ke samping. Selendang dan tusuk konde itu masih ada di sana. Namun hamparan jagung dalam ladang luas tidak didapatinya. Hanya batu-batu berwarna hitam yang menyembul satu satu. Nisan-nisan! Seketika muka Agus pucat. Dirasanya keranjangnya meringan. Sontak dilepaskannya keranjang bambu itu dari gendongan tangannya. Jagung-jagung itu sudah tidak ada lagi. Hanya dedaunan kering berwarna coklat. Menumpuk acak dalam keranjang. Mukanya bertambah pucat. Langkahnya meringan. Dia berbalik. Dan lari. Terus berlari. Dalam larinya, diingatnya kembali dimana didengarnya suara itu sebelumnya. Kebakaran besar yang melanda asrama pekerja, gudang dan ladang jagung Haji Toha, dua hari setelah panen setahun kemarin. Tak ada yang selamat.

Dimin

Kantin sedang ramai. Memang, sedang waktu makan siang. Antrian masih cukup panjang. Tubuh kecil Dimin masih terjepit di antara raksasa-raksasa mantan jagal kota itu. Biasalah, kalau antrian seperti ini, Dimin pasti terjepit. Memang, nomor urut napinya ada di antara nomor napi tukul, tukang pukul. Mereka itu bodyguard para napi kelas kakap. Entah itu disengaja atau tidak, yang jelas, Dimin selalu terintimidasi kalau antrian makan.

“Heh, lu lagi. Bikin panjang antrian aja. Cepetan sana! Ta’ sabet kon!”, gertak Jodul, Joni Gundul, sambil mengibaskan tangan. Dimin segera merapat ke depan, menaruh omprengannya di meja berjalan. Koki dan tukang bagi makan, mengernyitkan dahi menatapnya. Keringat dingin mulai membahasi overall Dimin. Dia paling tidak bisa ditatap dingin seperti itu. Jluk! Setangkup bubur jagung sudah di omprengannya. Dua buah perkedel jagung yang kelewat matang, juga sudah ada. Terakhir, sayur asem dengan sepertiga jagung. Tergesa-gesa, dia bergeser, seraya meraih gelas minum plastik berwarna biru di akhir meja berjalan. “Hei cunguk! Itu gelasku. Ambil yang lain!”, bentak raksasa di belakangnya. Dimin mengangguk takut. Diambilnya gelas yang berwarna kuning, kemudian bergegas ke ujung kantin, tempatnya biasa makan. Dimin baru dapat bernapas lega, waktu sudah duduk di meja itu. Paling tidak, selama jam makan, dia bisa tenang.

Sebenarnya Dimin bukanlah penakut. Dia juga termasuk penjahat yang cukup sadis. Empat orang yang dibunuhnya dengan sabit di depan orang banyak menjadi saksi nyata kesadisannya. Hanya satu alasannya, “Mereka menginjak-injak harga diriku”.

Awalnya, Dimin bekerja di kantor notaris yang mengurus surat keabsahan tanah. Bukan sebagai notaris, PPAT atau kerani? Dia hanya bertugas membersihkan seluruh ruangan, tatkala semua penghuni ruangan sudah pulang. Cleaning Service, istilah kerennya. Walau cuma CS, singkatan dari Cleaning Service, Dimin sebenarnya cukup terdidik. Lulusan terbaik SMEA di kabupatennya. Itu predikat pendidikan terakhirnya. Setelah itu, orang tua dan keluarganya angkat tangan. Akhirnya ke kota mencari peruntungan. Siapa tahu saja, saya bisa diterima bekerja di kantor sebagai juru hitung? Kan saya lulusan SMEA? Terbaik lagi, batin Dimin. Namun apa dinyana, ijazah SMEA serta piagam penghargaan Bupati, tidak mampu mengantarnya ke posisi yang diidamkannya. Menjadi CS akhirnya menjadi gantungan kehidupannya. Nasib, katanya selalu. Tapi kan saya menabung? Siapa tahu, tabunganku nanti cukup untuk sekolah lagi?

Awal perjalanan hidupnya sebagai napi terjadi di suatu sore di akhir tahun keenamnya di kantor itu sebagai CS. Kala itu, kantor sudah sepi. Seingatnya hanya tinggal dia, Romi dan Musikan. Dua yang terakhir, satpam. Keduanya berpos di dekat lift. Maklumlah, kantor notaris itu hanyalah sebuah kapling kecil di lantai 12. Walau begitu, ruangan dalam kantor cukup banyak. Kalau dijumlahkan semua, termasuk dua WC dan kamar mandi, ada empatbelas ruangan. Jumlah yang cukup fantastis untuk dibersihkan seorang CS dalam waktu kurang dari empat jam. Mulai dari pukul 18.00 sampai 22.00. Itu karena pukul 22.15, seluruh kantor dalam gedung harus sudah tertutup.

Ruang pertama yang akan dibersihkannya adalah ruang pimpinan notariat, Rahman Gurning, SH.,MH. Kunci diputar perlahan. Hei, kok lampu meja pak Rahman masih menyala? Pasti dia lupa mematikannya, batin Dimin. Dinyalakannya lampu besar yang bisa menerangi seluruh ruangan.

“Min”. Dimin terkejut. Dari balik meja, muncul pak Rahman dengan rambut teracak dan bersinglet. Lebih terkejut lagi tatkala di belakang pak Rahman, muncul seorang wanita dengan kondisi pakaian hampir sama dengan pak Rahman. Selintas Dimin memicingkan mata. Wanita ini kok sepertinya saya kenal ya?, tanya Dimin dalam hati.

“Sorry, Min. Aku kira kamu tidak jadi masuk hari ini”, kata pak Rahman sambil terus memperbaiki pakaiannya. “Ngng ... saya tetap masuk pak”, jawab Dimin tak berani menatap. Lewat ekor mata, diliriknya sesekali wanita itu. Kok sepertinya wajah wanita ini familiar sekali ya? batinnya sekali lagi. Tak dirasanya, pak Rahman sudah ada di sampingnya. “Min, lanjutkan kerjamu. Aku pulang. Ingat, jangan sampai lupa kunci pintunya kalau selesai!”, kata pak Rahman tanpa senyum sambil melangkah keluar bersama wanita itu. “Saya pak!”, jawab Dimin patuh. Begitu dua makhluk berlainan jenis itu keluar dari pintu, Dimin pun mengela napas panjang. Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah ...... berulang kali Dimin beristigfar. Namun sesaat kemudian, dia teringat tenggat waktu untuk selesaikan pekerjaannya. Dimin pun mulai membersihkan. Ruang demi ruang. Kurang lima menit pukul sepuluh, seluruh kantor telah dibersihkannya. Usai bersalin, dia pun pulang ke rumah kontrakannya di bantaran kali pinggiran kota.

Dua hari kemudian, gajian datang. Seperti biasa, Dimin datang ke kantor lebih awal. Menunggu bersama-sama Romi dan Musikan.

“Min, kamu bakal dapat kenaikan gaji lho. Sampe 200-an ribu!” seru Musikan serius. Dimin menoleh kaget, “Ah, yang betul mas. Mas tahunya dari mana?”. Musikan tersenyum penuh misteri, “Pokoknya beneran deh. Kamu lihat saja nanti”. “Hmmm, kalo mas berdua, naik juga?” tanya Dimin.

“Gak! Kita kan gak sempat mergoki bos dengan perempuan kiriman bos notariat yang di lantai 11 itu?” jawab Romi enteng.

“Hush! Kamu ngomong apa sih, Mi! Yang begituan gak dicerita sembarangan!” sikut Musikan. Romi merengut. Dimin mulai ingat dimana pernah dilihatnya wanita itu. Beberapa minggu lalu, waktu Dimin baru saja akan memulai pekerjaannya, dilihatnya ada rapat yang masih berlangsung di ruangan pak Rahman. Pintunya terbuka sejengkal, sehingga Dimin dapat langsung melihat siapa-siapa yang ada dalam ruangan. Ada empat orang. Dua orang berstelan jas lengkap, pak Rahman dan seorang wanita. Seorang dari yang dua tadi, dikenalnya sebagai pimpinan notariat di lantai 11.

“Begini pak Rahman, kalau Bapak dengan senang hati dapat bergabung dengan kami, pastilah karir Bapak bakal melonjak. Pak Rahman kan tahu, kami menangani kasus-kasus besar!” bujuk pimpinan notariat lantai 11 itu. Pak Rahman tersenyum. Dia mengangguk yakin. Mereka pun bersalaman.

“Gampanglah itu pak Rahman. Diatur saja. Kalau para pemegang saham itu masih gak mau gabung juga, carikanlah jalan supaya mereka mau. Terserah Bapaklah. Ya?”.

Itulah fragmen yang mengingatkannya akan wanita itu. Wanita itulah yang bersama pak Rahman dua hari lalu.

Benar kata Musikan, gaji Dimin naik 200-an ribu. Alhamdulillah. Tabunganku bisa nambah lagi, syukur Dimin. Memang, walau sudah enam tahun bekerja, gaji Dimin belum pernah dinaikkan. Tapi apa karena kejadian hari itu? Ah, memang sudah waktunya gaji saya dinaikkan, batin Dimin akhirnya.

Sebulan setelahnya, peristiwa itu pun terjadi. Bermula tatkala Dimin mendengar dari Romi, kalau kantor akan ditutup. Segala aset akan dialihkan ke kantor notaris yang ada di lantai 11. Sekejap Dimin terpaku. Kok seperti yang pernah dicuri-dengarnya dulu waktu itu? Apa orang-orang itu beneran mau membeli notariat ini? tanya Dimin dalam hati.

“Mas, kenapa bisa bangkrut? Setahu saya, kantor ini kan aman-aman saja. Malah banyak kasus-kasus yang masuk?” tanya Dimin ke Romi.

“Anu Min. Katanya ada dokumen yang hilang. Dokumen itu merupakan bukti pemilikan tanah yang sangat luas di sekitar Tangerang. Nah, dokumen itu katanya menjadi taruhan kelangsungan hidup kantor ini. Seperti jaminanlah, kalau di Pegadaian. Kalau sampai hilang, maka kantor ini harus bertanggung jawab sepenuhnya. Terus, setelah dihitung, ternyata segala nilai dan harga kantor ini, masih kurang dibandingkan dengan harga tanah itu. Makanya kantor ini dinyatakan bangkrut. Gitu Min!”, jelas Romi panjang. Dimin mengangguk mengerti. Ketika akan beranjak ke gudang CS, tangannya dipegang Romi.

“Eit ... ada lagi Min. Ini ada surat dari bos. Dia tadi nitip ke aku untuk diserahkan ke kamu. Nih”, kata Romi sambil menyodorkan surat ke Dimin. Karena rasa ingin tahu, Dimin segera membuka surat itu. Surat itu cukup pendek. Pelan dibacanya dalam hati.

“Yang terhormat Sudimin. Seperti yang kamu ketahui, kantor ini memerlukan pembiayaan yang lebih baik untuk berkembang. Untuk itu, kantor ini harus bergabung dengan kantor lain yang lebih bonafid. Tapi kami memerlukan kamu untuk jadi sebab. Kamu akan kami tuduh menghilangkan dokumen penting kantor, sampai-sampai kantor ini bangkrut karenanya. Jangan takut, paling-paling kamu akan dipenjara setahun, mungkin kurang. Namun, yang jelas kamu akan kembali kami pekerjakan di kantor yang baru. Itu lho, kantor yang di lantai 11. Nanti setelah kerja di sana, gajimu akan dinaikkan berlipat-lipat dari sekarang. Aku janji deh! Ok ya? Trims. Rahman”.

Mata Dimin memerah. Serasa timah panas dijerang di ubun-ubunnya. Tanpa banyak kata-kata, dilakukannya semua pekerjaannya.

Esoknya, Dimin datang siang hari. Romi dan Musikan tidak curiga sama sekali. Mungkin ada yang harus dilakukannya, berkenaan dengan surat dari pak Rahman yang kemarin, pikir mereka. Apa yang mereka pikirkan, benar adanya. Hanya saja tidak senegatif apa yang akan Dimin lakukan.

Dengan muka merah, Dimin masuk tanpa ketuk. Dihampirinya pak Rahman, yang sedang memimpin rapat. Diraihnya sabit dari dalam tas jinjing yang dibawanya sedari tadi. Diayunkannya ke leher pak Rahman. Bet! Darah mengucur deras. Tak ada suara. Semua peserta rapat terpaku ditempatnya. Tak ada yang berani menolong pak Rahman yang sudah rubuh bersimbah darah. Ditatapnya mata pak Rahman lekat-lekat dengan benci. Setelah puas, dibalikkannya tubuhnya keluar ruangan. Orang-orang yang dilewatinya tak ada yang bersuara. Semuanya terdiam. Sabit berlumuran darah masih digenggamnya. Dimin turun ke lantai 11 lewat tangga darurat. Kantor notaris yang dipimpin orang berstelan jas itu, dimasukinya. Juga tanpa ketuk. Sesaat dia berhenti, kemudian melangkah ke ruangan berdinding kaca di sebelah kiri pintu besar. Dalam ruangan itu ada tiga orang yang dulu pernah dilihatnya di ruangan pak Rahman. Dua orang berstelan jas dan wanita itu. Mereka sepertinya sedang bercengkrama sambil minum-minum. Dimin menendang pintu. Sambil melompat, diayunkannya lagi sabitnya. Pertama ke arah pimpinan kantor. Kedua, ke arah teman pimpinan kantor. Keduanya segera roboh bersimbah darah. Wanita itu berteriak histeris. Namun hanya sekali. Lima detik kemudian, dia pun jatuh dengan darah membanjiri blusnya. Napas Dimin yang semula memburu, perlahan-lahan mulai mereda. Tubuhnya mulai terasa lelah teramat sangat. Sabit penuh darah masih digenggamnya. Lututnya melemas. Matanya nanar. Perlahan tubuhnya melunglai. Sesaat kemudian, Dimin terjatuh. Hilang kesadaran. Pingsan. Masih dengan sabit di tangan.

“Hei buluk! Lo duduk di tempat gue! Minggir sana!”.

Dimin tersentak sadar dari lamunannya. Di depan mejanya sudah sedemikian banyak tubuh besar berdiri. Seperti menantang. Jodul yang tadi membentaknya, berdiri paling dekat dengan mejanya. Dimin tertunduk. Diingatnya lagi betapa seringnya dia diperlakukan seperti itu. Sudah sejak hari pertamanya di LP. Bayangkan! Empat tahun dengan setiap harinya dianggap sampah oleh orang-orang yang juga sampah masyarakat. Darahnya mulai mendidih. Dikepalkannya tangannya, mencoba menenangkan diri.

“Cepetan minggir!” bentak Jodul lagi. Lepas bentakan itu, Dimin loncat. Dicengkeramnya leher Jodul dengan kuat. Titik simpul saraf di antara telinga dan tulang rahang lelaki raksasa itu, ditekannya kuat-kuat. Akhirnya, Jodul jatuh berlutut. Lemas tanpa ada perlawanan berarti. Sendok yang sedari tadi masih dipegangnya, diarahkannya ke mata Jodul. Dimin pun berteriak lantang ke arah serombongan raksasa-raksasa lainnya, “Hei, saya Dimin. Saya bukan cecunguk-cecunguk seperti kalian. Tukang tindas sesama demi uang. Saya juga bisa kejam. Mata temanmu ini pasti bisa jadi saksi”. Tak ada suara. Semuanya berhenti makan. Menatap takut ke arah Dimin. Sampai-sampai ada yang kencing celana, termasuk Jodul yang masih tergeletak tak ada daya.

“Ampun Min. Aku cuman main-main kok”, kata Jodul terbata-bata menahan sakit. Cengkeraman Dimin melonggar. Dihelanya napas panjangnya berulang-ulang. Diingatnya kembali peristiwa itu. Dua jenak kemudian, leher Jodul pun dilepasnya. Sendok itu pun sudah dibuangnya ke lantai. Dimin pun berdiri tegak. Ditatapnya muka mereka satu persatu. Terpancar ketakutan yang amat sangat dari mata mereka. Dimin tertunduk lagi. Dirasakannya beban itu sekali lagi. Bukan tatkala sabit itu diayunkannya berkali-berkali, namun saat darah sudah melingkupi seluruh permukaan sabit. Walau berat, Dimin kembali menegakkan kepalanya, tidak lagi tertunduk lesu. Dia berjalan tegap keluar kantin. Seluruh mata tanpa kedip menatap setiap langkahnya. Tiba di luar, ditolehnya ke arah kanan. Lima belas meter dari tempatnya berdiri sekarang, ada gerbang. Besar, tinggi dan kokoh. Gerbang menuju dunia bebas. Gerbang yang ingin sekali dilewatinya enambelas tahun lagi. Insya Allah, senyum Dimin penuh arti.

Andani dan Irwan

Andani melongok ke dalam dompetnya. Tiga lembar lima puluh ribuan dan selembar duapuluhan. Sudah tanggal limabelas, pertengahan bulan. Ah, kenapa Gayah baru beritahu aku sekarang?, batinnya.

Dibacanya sekali lagi surat istrinya itu. Imah butuh duaratus ribu supaya bisa ujian kenaikan kelas, Dan. Kalau tidak, dia bisa tinggal kelas karena tidak ujian. Begitu tulis Rugayah.

Sekali lagi dilongoknya dompet. Cuman seratus tujuhpuluh. Kalaupun semuanya dikirimnya ke kampung, jumlahnya belum lagi cukup. Ah Gayah, dimana lagi harus kucari tambahan uang?, rintihnya resah. Dihelanya napas panjang. Langit Jakarta di bulan Juli yang penuh asap, ditatapnya nanar. Ingatannya melintas tatkala Imah lahir, walau dengan upah menggergaji kayu di usaha mebel Haji Abdullah yang hanya tiga puluh ribu perbulan, dia mampu membuat kenduri kecil-kecilan di gubuknya. Seekor kambing yang lumayan gemuk menjadi saksinya. Tapi itu sepuluh tahun lalu. Sekarang gajinya sudah lima kali lipat dari yang dulu. Belum lagi kalau lembur sampai jam sepuluhan malam. Rata-rata bisa dapat duaratus limapuluh sebulan. Tapi ini sudah tanggal limabelas. Ah Gayah, kenapa baru beritahu aku sekarang? rintih Andani membatin.

Sebenarnya SPP Imah yang sudah di kelas lima SD, tidak sebanyak itu. Tapi Rugayah tidak pernah mau memberatkan suaminya. Dia tahu, suaminya hanya bergaji sedikit. Makanya tiga tahun lalu, diputuskannya untuk berjualan kue-kue di terminal. Walau tidak banyak, tapi cukuplah meringankan. Tapi sejak terminal itu pindah menjauh, jumlah kue-kue yang laku menurun drastis. Sopir-sopir dan portir-portir yang rajin membeli dagangannya, tidak ada lagi. Pernah dicobanya untuk berjualan depan SD Imah, namun gagal juga. Malah kue-kuenya banyak yang basi, karena sering dijual sampai lebih sehari. Akibatnya Imah, anaknya semata wayang itu, harus menunggak SPP hampir setahun. Kalau seandainya tidak lagi terbayar, entah bagaimana lagi. Tapi kalau sampai tidak terbayar, Gayah yakin Imah bakal jadi seperti dia. Hanya tahu disuruh, tanpa bisa menjadi penyuruh. Mungkin malah hanya akan tahu dua UR, dapur dan kasur. Gayah tak akan pernah mau itu terjadi. Makanya diberanikannya menulis surat itu ke suaminya. Paling tidak, Andani akan mencarikan jalan yang kemungkinan Gayah tidak tahu. Namun sekarang, di halte bus itu, Andani masih duduk lemas sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Belum bisa menemukan jalan itu.

Waktu berlalu. Dhuhur tiba. Andani masih di halte. Duduk berpayung atap-atap bocor, bersama empat orang lainnya. Seorang di antaranya sejak setengah jam lalu, selalu melirik ke Andani. Orangnya sedang-sedang, baik tinggi maupun lebar badannya.

“Hai kawan. Kamu dalam kesulitan ya?”, ujarnya sopan membuka pembicaraan. Andani menoleh, kemudian mengangguk pelan. “Soal uang ya?”, lanjutnya lagi. Andani mengangguk lagi. Kali ini tidak lagi menoleh, malah semakin menunduk. “Aku bisa membantumu kawan. Di ranselku ini, ada uang. Banyak. Banyak sekali. Bisa kamu pakai untuk apa aja. Mobil dan rumahpun bisa kamu beli. Tidak perlu pinjam. Kamu hanya perlu memban ...”. Andani menoleh keras. “Saya memang butuh uang. Tapi saya bukan pengemis. Saya hanya butuh pinjaman. Insya Allah, bulan depan saya lunasi. Bapak cukup berikan alamat, saya akan antarkan pinjaman itu”, kata Andani sungguh-sungguh.

Orang itu tersenyum ramah. Diambilnya tempat di samping Andani. Diraihnya tangan Andani. “Namaku Irwan, kawan. Kamu?”, tanyanya. Andani tersenyum menimpali sambil menjabat tangan yang tersodor kepadanya, “Saya Andani”.

“Andani, nama yang bagus. Kalaupun aku nanti berkeluarga, punya anak, nama itu pasti menjadi pilihan utamaku”, kata Irwan bersohor. Andani cuma tersenyum getir. Diingatnya cerita ibunya perihal namanya itu. Seorang yang berhasil menggagalkan perampokan begundal-begundal PKI di kampungnya semasa era 50-an mengilhami ayahnya untuk menamainya Andani. Namun menurut cerita, Andani itu kemudian tewas oleh pistol sahabatnya sendiri yang telah berubah menjadi antek PKI. Kematian yang tragis.

“Begini Andani. Kamu kan butuh uang. Aku tidak perlu tahu berapa yang kamu butuh. Satu juta? Sepuluh juta? Seratus juta? Atau berapa saja? Yang penting uang, maka aku akan memberimu uang. Tidak perlu kamu pinjam. Cukup kamu bantu aku untuk selesaikan satu masalah. Ah, bukan masalah sebenarnya. Hanya satu kerjaan kecil. Bagaimana?”

“Ah pak Irwan. Saya ini orang kecil. Uang sejuta juga belum pernah saya lihat, apalagi pegang. Saya juga tidak butuh banyak. Cuman 50 ribu. Itupun saya hanya mau pinjam. Insya Allah akan saya kembalikan bulan depan. Kalau memang ada kerjaan yang saya bisa bantu, monggo pak. Aku insya Allah bisa membantu. Tinggal bilang apa kerjaannya pak”.

Irwan melongo. Mulut di bawah kumis acaknya, menganga. Dalam hatinya dia membatin, kok ada orang yang lugu kayak ini?

“Nggak Andani. Sekali lagi kamu gak perlu pinjam. Jumlahnya juga tidak akan segitu kecil. Masa’ sih aku ngasih kamu hanya 50 ribu? Itu kan penghinaan! Gak, aku akan ngasih kamu seratus juta. Kamu cuma perlu naruh barang ini di pasar itu. Di jalan masuknya itu lho. Bagaimana?”, bujuk Irwan sambil memperlihatkan bungkusan coklat rapi dalam kantung plastik yang dijinjingnya sedari tadi.

“Wah pak Irwan. Sekali lagi maaf. Bukannya saya gak mau kerja, tapi uang seratus juta yang entah gimana bentuknya itu, kan tidak seimbang dengan kerjaan saya nanti itu? Makanya pak Irwan, kalau bisa saya minjem aja. Cuman 50 ribu to’!”

Irwan mulai tidak sabar. Dicobanya lagi membujuk Andani dengan uang yang lebih banyak. Tidak tanggung-tanggung. Andani ditawarinya 250 juta kontan. Andani semakin bingung. Semakin tidak mengerti mengapa Irwan berusaha membujuknya dengan uang yang lebih banyak. Karena semakin bingung, Andani yang hanya tamatan kelas 5 SD itu, mulai merasa kepalanya sakit. Pusing. Garuk-menggaruk kepala sambil mengernyitkan kening, mulai dilakoninya lagi. Tak ada suara keluar dari mulutnya. Irwan semakin tidak sabar.

“Ah sudahlah. Kalau kamu gak mau, ya sudah. Nanti aku cari orang lain. Masak ada orang nolak rejeki nomplok? Bodoh!”, maki Irwan sambil bergegas meninggalkan Andani.

Andani menatap punggung Irwan. Baru disadarinya kalau komentarnya membuat Irwan meninggalkannya. Cepat-cepat diburunya.

“Pak, jangan gitu dong. Biarlah saya kerjakan permintaan Bapak. Tapi saya memang cuman butuh 50 ribu. Untuk ongkos sekolah anakku. Cuman segitu pak. Ijinkan saya meminjam pak. Sekali ini saja. Tolong pak ....”

Muka Irwan tidak berubah. Walau sempat debar jantungnya mengeras dan hati kecilnya mengiyakan, tapi dia tetap tidak mau. Ditepisnya tangan Andani dengan keras, kemudian bergegas meninggalkan Andani. Andani pun tak mau kalah. Dalam pikirannya, mungkin hanya ini satu-satunya jalan untuk dapat membahagiakan Imah dan Gayah. Satu-satunya cara untuk menjadikan Imah tidak seperti Gayah dan dirinya, yang selalu hanya bisa ditindas oleh zaman. Akhirnya Andani berlutut, dipeluknya kaki Irwan erat.

“Mohon pak. Tolong saya pak. Saya tidak tahu lagi harus bagaimana. Saya harus bisa membantu anak saya pak. Bapak satu-satunya harapan saya ...”, isak Andani sambil terus memeluk kaki Irwan.

“Heh, sudah. Orang tidak tahu diri. Ditawari uang banyak, malah nolak. Nih, 50 ribu. Pergi sana!”, hardik Irwan sambil melemparkan selembar 50 ribu ke dekat Andani. Andani bangkit, diraihnya uang itu. Dengan cepat, disambarnya plastik tempat bungkusan itu.

“Terima kasih pak. Saya memang orang kecil, tapi saya harus tahu berterima kasih. Saya akan laksanakan perintah Bapak. Di pasar ujung jalan itu kan? Di jalan masuknya? Insya Allah pak. Saya juga sudah janji hanya akan meminjam. Bulan depan kita ketemu lagi di sini, dan saya akan membayar hutang saya ini pak. Terima kasih pak”. Andani berjalan menjauh. Tangan kirinya menggenggam selembar 50 ribu dan kanannya menenteng plastik hitam berisi bungkusan coklat segiempat. Mulut Irwan kembali menganga. Semuanya terjadi begitu cepat. Tak dipercayanya apa yang barusan terjadi. Perlahan dua butir air menganak dari lubang di rongga matanya, menyaksikan punggung Andani yang menjauh. Irwan terisak. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Andani. Hatinya riang. Dibayangkannya Gayah dan Imah tertawa menerima uang yang akan dibawanya besok. Andani tertawa.

Hari ini, sehari setelah Irwan terisak dan Andani tertawa, sebuah bom meledak di pasar. Puluhan tewas dan ratusan terluka. Orang-orang menangis. Termasuk Irwan yang sedang berjalan menjauhi pasar, menuju pos polisi di seberang jalan. Terbayang di benaknya, Andani sedang tertawa dengan istri dan anaknya di rumah. Bersyukur kepada Allah yang Maha Pemurah karena telah dipertemukan dengan orang yang memberinya pinjaman 50 ribu. Irwan tidak lagi terisak. Dia bahkan tersenyum lebar tatkala masuk ke pos polisi itu.

“Saya yang meledakkan bom di pasar itu”, katanya mantap sambil memberikan tangannya untuk diborgol.

Deden Mati, Minah ....

“Dor ... dor ...”

Dua letusan pistol memecah subuh. Ini sudah kali ketiga dalam seminggu. Entah siapa lagi yang mati. Yang jelas sepertinya dari komplotan yang sama. Belakangan ini memang sering sekali terjadi penembakan-penembakan preman di daerah selatan kota. Sepertinya ada pemberantasan premanisme lagi. Masih ingat kan dengan kejadian beberapa tahun lampau di Jakarta? Tatkala mayat preman selalu ditemukan teronggok di dekat bak sampah, bawah jembatan atau bahkan di salib depan SD, dengan kepala tertembus peluru? Mengenaskan. Namun sekaligus melegakan. Buat sebagian orang tentunya.

Subuh itu berbondong-bondong orang menuju belakang pasar. Seperti tak mau kalah dengan yang selainnya untuk melihat muka siapa lagi yang bakal menghiasi halaman depan surat kabar sore nanti atau berita utama di televisi. Alhasil, sebentar saja, pelataran parkir belakang pasar tradisional itu, penuh sesak dengan orang-orang.

“Siapa? Siapa?”, tanya beberapa orang di lingkar terluar kerumunan. Dari arah depan, terdengar suara menyahut, “Sepertinya sih si Deden. Tuh, kan ada tatto mawar di tangan kanannya. Mana lagi rambutnya yang cepak itu!” Sebentar saja, dari seluruh penjuru kerumunan, terdengar gumaman-gumaman menyebut-nyebut nama Deden. “Ah, bukan Deden deh. Kalo Deden, mestinya otaknya gak ada yang terlempar keluar! Pan Deden gak punya otak!”, timpal seseorang. Sontak orang-orang pada tertawa. Namun sebagian hanya tertawa kecut. Utamanya seorang dengan postur tinggi besar, berkumis lebat, memakai pet dan berjaket kulit. Mukanya terlihat gelisah. Perlahan diingsutkannya tubuh besarnya keluar dari kerumunan, kemudian berjalan tergesa ke arah utara pasar.

Tak lama dia berjalan. Kira-kira dua ratus meter dari pasar, dia berbelok ke kanan, menuju pemukiman kumuh di seberang bantaran kali. Pada rumah kelima dari ujung gang ke tiga dari perempatan, dia berhenti. Rumah tua berdinding kusam. Dibukanya pintu perlahan, seperti tak ingin ada yang terbangun.

“Dari mana Bang? Kata mang Ujang, ada yang mati lagi ya? Di mana?”, tanya seorang perempuan berkain sarung dengan kaos tanpa lengan, dari dipan di dekat jendela. “Iya. Si Deden”, sahut si tinggi besar sambil melongok ke luar jendela. “Lho? Kang Mahdi, Deden ponakanmu?”, tanyanya lagi dengan nada tinggi. Mahdi menatap marah Minah, istrinya,”Ya iya! Deden siapa lagi yang aku kenal di sini kalo bukan Deden ponakanku? Sudah, jangan banyak tanya lagi. Urus anakmu sana. Mereka sebentar lagi bangun. Hari ini kan mereka sekolah?” Minah tertunduk. Dia tahu, pikiran suaminya sementara kalut. Bagaimana caranya membawa pulang Deden ke Banten, sementara untuk makan saja sulit. Atau jangan-jangan .......

“Kang! Jangan marah. Minah hanya tanya. Kalau memang sulit membawanya pulang ke kampung, kenapa tidak dikabari saja Bapak dan Ibunya. Biar mereka yang datang ke sini. Kalau begitu, kan Kang Mahdi bisa menghemat biaya pemakaman Deden?” bela Minah. Mahdi hanya bisa menatap istrinya nanar. Kegundahan jelas terpatri di matanya. Terbayang Deden sewaktu kecil dalam pangkuannya. Apalagi ketika diajaknya Deden ke kota untuk mengadu nasib sebagai kuli bangunan di proyek-proyek. Sebenarnya Lijah, ibu Deden, sudah melarangnya. “Eh Lijah, mana mungkin atuh anakmu kutelantarkan? Percayalah, anakmu akan sukses di kota bersamaku”, teguh Mahdi waktu itu.

Mahdi semakin tertunduk. Satu demi satu, air matanya jatuh. Minah hampir tak percaya melihatnya. Sejak Umay, anak perempuan mereka yang pertama, lahir, tidak pernah lagi disaksikannya suaminya itu menangis. Perlahan didekatinya Mahdi. Dipeluknya hangat bahu suaminya. Dirasakannya getaran hebat di dada Mahdi. Membuatnya semakin mempererat dekapannya. Tiba-tiba Mahdi berontak. Dilepaskannya dekapan Minah. Ditatapnya mata istrinya itu nanar.

“Aku .... aku yang membunuh Deden, Minah. Walau bukan aku yang menarik picu pistol yang memuntahkan peluru menembus kepalanya, tapi aku yang memberitahu mereka kalau ada sekelompok orang yang menolak pindah dari pasar. Aku yang memberitahu tempat kumpul-kumpul anak-anak pasar itu. Kuberitahu juga kalo Dadang yang menjadi pimpinan anak-anak itu. Kamis lalu, Dadang mati. Kemudian Soleh. Sekarang .... sekarang Deden. Kenapa mesti Deden, Minah? Kenapa? Anak itu belum tujuh belas! Tatto itupun baru dua minggu lalu dibuatnya. Ah ..... kenapa mesti Deden .....”

Minah terperangah. Apa hubungannya Mahdi dengan pembunuh Deden? “Mereka itu siapa Kang?”, tanya Minah heran. Mahdi kembali menatap istrinya. Kali ini dengan muka ketakutan. Dilongoknya jendela, lalu ditutupnya rapat-rapat. Pintu pun demikian. Setelah merasa aman, didekatinya istrinya, “Jangan kau keras-keras bicara Minah. Mereka ada dimana-mana. Kalau mereka mau, kita dengan gampangnya dibunuh. Tak ada yang bakal protes”.

Minah bertambah heran. Namun sebelum Minah kembali bertanya, Mahdi sudah menjawab duluan, “Mereka menginginkan pasar itu pindah. Mereka mau menggantikan pasar itu dengan pusat pertokoan sebesar mal. Mereka sudah pernah mencoba membakar paksa pasar, namun komplotan si Dadang dapat mematikan apinya. Bahkan sempat menghajar anak buah mereka sampai parah. Namun mereka tidak sempat mengenali siapa-siapa di komplotan si Dadang itu. Akupun diminta untuk memberikan gambaran fisik mereka satu persatu serta dimana mereka sering mangkal. Kebetulan, waktu itu anak-anak butuh pakaian dan uang sekolah, tapi aku tak punya uang. Mereka pun menawarkan bantuan untuk menutupinya. Aku terima, aku terima uang itu Minah! Tak pernah kusangka mereka akan sejauh itu bertindak. Aku salah Minah ...... salah ..... penjahat aku ini. Pembunuh .......”. Mahdi menangis terduduk di lantai. Minah pun ikut duduk. Menyapu punggung suaminya dengan kasih, “Sudahlah, yang penting kan bukan Kang Mahdi yang membunuh .......”

Sekonyong-konyong pintu diketuk. Minah kaget. Bangkit dan langsung membuka pintu. Disangkanya orang-orang yang membawa mayat Deden.

“Selamat pagi. Kami dari Kepolisian. Apakah bapak bernama Mahdi?” tanya polisi berseragam lengkap sopan. Mahdi mengangguk. “Kami punya surat penangkapan saudara. Saudara Mahdi, anda didakwa telah mengadakan pembunuhan terencana atas saudara Dadang dan Soleh. Kami akan membawa saudara ke markas untuk pengambilan keterangan lebih lanjut”. Minah tersentak.

Tanpa uzur, dari arah ruang tengah muncul Umay menenteng sesuatu sambil menggosok-gosok matanya, “Abah, ini teh pistol siapa?” Mahdi menoleh lirih ke Minah, “Maafkan aku Minah. Tapi bukan aku yang membunuh Deden”.

Minah pun pingsan.