<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5362338551847243131</id><updated>2012-02-16T16:11:08.882+09:00</updated><title type='text'>Kisah-kisah Penggila Tuhan</title><subtitle type='html'>tatkala malam mulai datang, para penggila Tuhan malah semakin gelisah .... kapankah aku bisa bertemu dengan kekasihku??? .... air mata berderai namun senyum smakin kuat ... karena cahaya-Nya membuka hijab hidup ....</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Baeda</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://farm3.static.flickr.com/2244/1572943606_f9e656de54_m.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>23</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5362338551847243131.post-7108513645534920740</id><published>2008-10-04T21:59:00.001+09:00</published><updated>2008-10-05T16:03:17.241+09:00</updated><title type='text'>Pulang</title><content type='html'>Pukul 09.02, jam besar di atas jalan masuk ke Saijo eki. Salim menghela nafas panjangnya, masih lama pikirnya. Masih ada sekitar satu jam delapan menit sebelum bis tiba. Ditolehnya ke kanan, Fira tertidur dengan lelapnya di bangku kayu. Walau suhu sudah sangat berubah mendingin sejak mulainya musim gugur sebulan lalu, tapi Fira tetap saja lelap. Mungkin legitimasi umur yang cukup muda yang membuatnya tidak terlalu perduli dengan dinginnya malam di depan eki. &lt;br /&gt;Salim kembali menatap dengan penuh haru muka dan mendengar dengkuran halus anaknya semata wayang itu. Terbayang betapa sulitnya Fira dapat hadir di antara mereka, Salim dan Niar. Apalagi tatkala dikenangnya betapa mudanya mereka, berkelana ke Jepang, terdampar di kota kecil di timur laut Hiroshima, kemudian kehamilan Niar yang tidak terduga dan akhirnya lahirnya Fira. Awalan yang sedih dan melelahkan kemudian diakhiri dengan adanya Fira dan diterimanya mereka berdua di Hirodai sebagai gakushei, Salim S3 dan Niar S2. Kebahagiaan yang teramat sangat, walau mereka sadar bahwa kesibukan akan menyita segala sendi waktu yang mereka punyai. Namun Salim dan Niar tetap mengembangkan senyum, sadar bahwa semua ini adalah karunia. Bukan sebagai bencana, paling tidak, kala itu.&lt;br /&gt;Pukul 09.10. Saijo eki tiba-tiba penuh orang, berdesakan keluar dari eki menuju bis-bis yang siap di halte masing-masing. Ada yang ke Daigaku, Kure, Takehara dan mana saja. Semua bergegas, seperti tak ada satupun yang memperhatikan mereka. Semuanya sibuk. Salim kembali menghela nafas panjangnya. Angin yang tadinya bertiup lembut dari liang dekat eki, terus menguat. Fira menggeliat sejenak, sedikit kedinginan. Salim cepat-cepat merapikan jaket Fira. Diingatnya kalau Fira terkadang sangat rentan dengan udara dingin, walau berkali-kali dokter di klinik dekat shitami itu selalu bilang “daijoubu … daijoubu”. Apalagi tatkala Niar mulai sangat sibuk dengan jikken-nya, sampai-sampai harus meninggalkan kepengasuhan Fira yang kala itu belum genap setahun, padanya. “Lo kan S3, jikken lo bias dimana aja kan? Ngomong dong ke Senseimu! Gue sibuk banget nih, lab gak mungkin gue tinggalin kan?” Rentetan kalimat-kalimat itu selalu menjadi senjata Niar ke Salim. Dan jika Salim mulai terpancing marah, Niar selalu saja punya kartu As untuk menangkalnya. “Eh, lo mau marah? Gak inget Lo, kan lo yang maksain nikah? Gue dah bilang, mau lanjut sekolah, mau kerja, tunggu barang 2-3tahun. Tapi slalu aja desak-desak, ini lah itulah …. Makanya, tanggung jawab juga dong!” Salim kembali tepekur mengingat itu semua.&lt;br /&gt;Pukul 09.18. Hening di eki pecah dengan suara beberapa laki-laki yang keluar dari bar di seberang eki. Ada yang langsung muntah, ada juga yang masih dengan santainya menggandeng teman perempuannya sambil memegang botol sake kecil. Buru-buru teman-temannya memeganginya agar tidak jatuh terjungkang. Salim menatap nanar. Diingatnya beberapa saat tatkala Niar baru saja menyelesaikan presentasi akhirnya, “Lim, boleh gak gue dan temen-temen jalan-jalan ke kota malam ini?”. Salim tersenyum mengangguk. “Tapi lo gak perlu tungguin gue deh, soalnya teman-teman sudah booking bar di Hondori sampe tengah malam”, seru Niar berlalu tanpa menunggu jawaban Salim. Salim mengernyit bingung. Bar? Sudah lupakah Niar tentang Tuhan? Dan malamnya, tatkala Salim baru saja selesai menidurkan Fira, Niar datang. Tidak sendirian, namun diantar teman laki-lakinya yang juga setengah mabuk. Mengebel berkali-kali. Salim membuka pintu saat Niar baru saja muntah di dekat pintu. Salim cuma bisa maraih Niar dari tangan laki-laki itu dan perlahan memapahnya masuk ke rumah. Syukurlah Fira sudah tidur, jangan sampai dia melihat ibunya seperti itu, desah Salim. Mengingat semua itu, membuat Salim berpikir lagi. Sudah benarkah tindakannya kala itu? Apakah mestinya dia biarkan saja Niar di depan pintu, agar dia bisa sadar akan tindakannya yang keterlaluan itu? Ah, entahlah. Yang penting Fira bisa tetap dalam kondisi baik dan tidak terpengaruh dengan kondisi ibunya yang seperti itu.&lt;br /&gt;Pukul 09.32. Angin mulai keras lagi. Setidaknya ada dua kereta barang yang melintas dengan kecepatan tinggi meniupkan angin dari dalam eki ke luar. Cuaca oktober yang sudah lumayan dingin, menjadi semakin dingin karenanya. Fira kembali menggeliat. Salim bertindak cepat. Ditariknya lebih kencang  dan rapat jaket Fira. Fira membuka matanya. Dahi mungilnya berkerut. Sepertinya akan bangun. Namun ternyata kelopak mungil itu kembali tertutup. Mungkin terlalu lelah, setelah seharian melihat ayahnya mengepak barang, membawanya turun dari lantai 10 Sunsquare kemudian berjalan dengan troli pinjaman ke eki. Walau cuaca sedemikian dinginnya, namun mengepak barang-barang membuat Salim berkeringat keras. Bajunya basah sedari tadi, kondisi yang tidak terlalu baik untuknya, apalagi setelah hampir empat bulan lalu sempat terkena hypothermia berat. Salim melamun lagi. Diingatnya kala itu, tatkala Niar memaksanya mengantarnya ke Hiroshima Airport di tengah hujan deras, sementara dirinya tengah super sibuk menyelesaikan manuskrip disertasinya. “Ayo dong Lim, flightku tinggal dua jam lagi. Berabe kan kalo gue ketinggalan pesawat? Apa kata Sensei? Lagian, gue kan gak make duit lo untuk tiket? Ayo, cepetan dong!” Akhirnya Salim jadi juga mengantarnya. Sementara itu awan gelap sudah terlihat bergerak menuju Siraichi, pertanda sebentar lagi akan turun hujan. Untuk itu Salim memacu Mira bututnya itu sekencang-kencangnya. Namun apa daya, setiba di bandara, hujan turun dengan derasnya. Alur droping penuh mobil. Niar mulai tidak sabaran dan mulai memaki-maki sembarangan. Siapa pun dimakinya. Akhirnya setelah sekian lama menunggu antrian droping, Niar bergegas turun saja tanpa peduli lagi dengan aturan. “Lim, gue turun. Jangan lupa koper gue”. Salim hanya bisa menatap dingin. Marah, kesal dan kasihan menjadi satu. Bergegas dicarinya tempat parkir. Namun entah mengapa, ternyata setelah sekian lama mencari, tidak ada satupun tempat parkir yang kosong. Akhirnya terpaksa diparkirnya mobilnya di samping jalan masuk yang lumayan jauh dari area drooping. Hujan semakin deras saja mengguyur Siraichi. Salim bergegas mengeluarkan koper Niar dari dalam bagasi. Salim sempat tertegun sejenak, melihat jumlah koper Niar. Tiga, ya tiga. Yang besar pula. Apa sih yang dia bawa? Masa gakkai lima hari bawa barang segini banyak, batin Salim. Ah, mungkin banyak buku dan lain-lainnya. Sudahlah, yang penting dia tidak marah-marah lagi. Dengan susah payah, ditariknya tiga koper itu di tengah derasnya hujan dan angin. Dirasakannya semua pakaiannya basah. Dingin mulai menyengat. Pelan-pelan dari kepala sampai kaki. Tangannya mulai gemetar. Namun teriakan Niar dari drooping zone membuatnya awake kembali. Dengan segenap tenaga yang ada, walau sudah hampir 24jam matanya tidak sempat beristirahat karena manuskrip itu, ditariknya ketiga koper berat itu menuju Niar. Tatkala tiba, bukannya terima kasih yang didengarnya, namun makian Niar yang menjemputnya kasar. “Lambat banget sih! Masa laki-laki kuat seperti lo gak bisa narik tiga koper ringan ini? Ayo, terusin naikkan ke trolley nih. Boarding bentar lagi” Salim kembali hanya bisa menatap pucat. Dalam pikirannya, biarlah. Sudah kepalang tanggung. Tidak sampai 15menit kemudian, mereka sudah tiba di counter. Tak lama, penimbangan dan check in selesai. Niar melirik ke arah Salim, “Jaga Fira ya?” Salim tersenyum mengangguk. Walau dengan seluruh badan gemetar kedinginan, dirasakannya pancaran keibuan dalam mata Niar. Syukurlah dia masih ada perhatian untuk anaknya, batin Salim pelan. Namun selepas itu, Niar berlalu tanpa kata lagi. Salim pun sudah mengerti dan tidak lagi mengharap apapun seperti cium saying ataupun bahkan lambaian tangan. Salim pun beranjak pelan. Gemetar keras menghambat gerakannya. Kepalanya terasa mulai berdenyut keras. Tatapannya nanar. Sedetik kemudian, Salim tidak ingat lagi apa-apa. Tatkala matanya membuka, langit-langit putihlah yang pertama dilihatnya. Langit-langit rumah sakit. Salim merasa kepalanya sangat berat, namun tidak terlalu pusing lagi. Salim mendesah panjang. Terbayang kerjaannya akan menjadi telat kembali gara-gara ini. Ah …&lt;br /&gt;Pukul 09.45. Malam semakin larut, suhupun semakin turun. Walaupun demikian, angin ternyata perlahan mulai mereda. Salim merapatkan kembali jaketnya. Fira masih tertidur pulas dengan jaketnya. Posisi tidurnya menandakan dia sudah mulai tenang. Kembali Salim melamun. Hal yang paling membuatnya terguncang adalah tatkala setibanya di rumah, Fira yang sementara dijaga Kimiko, tetangga sebelah apatonya, sementara bermain sendirian di depan pintu rumah yang terkunci dengan secarik kertas terselip di kantong kecilnya. Ditariknya kertas tersebut dan sepintas terlihat tulisan tangan Niar. Ternyata semacam surat yang ditulis Niar dan mungkin ditaruhnya di kantong sebelum berangkat ke airport. Isinya singkat, “Lim, gue dah gak tahan hidup ma lo. Gue mau coba untuk hidup sendiri, ngejar keterbelakangan karir yang mestinya gue punyai seperti temen-temen gue. Jagain Fira. Mungkin kalo gue dah bisa, gue bakal datang lagi ngambil dia, Niar”. Salim jatuh terduduk. Dirasakannya goncangan yang super keras menghantam dadanya. Salim tak sanggup bernafas. Dirasakannya pandangannya mulai memudar lagi dan akhirnya Salim pingsan. Salim terbangun dalam kamarnya sendiri. Kimiko sudah ada disampingnya, “Genki desuka? Daijoubu?”. Salim cuma bisa mengangguk dengan berat. Di samping Kimiko ada Fira yang memandangnya penuh kecemasan. Terbayang kembali isi surat singkat Niar itu. Serasa gada raksasa kembali menghimpit dadanya. Nafasnya kembali sesak. Namun kali ini tidak membawanya pingsan. Kimiko menawarkan segelas air putih. Perasaan Salim mulai membaik setelah gelas kedua. Himpitan itu berangsur lenyap, terganti dengan asa yang seperti mulai membara. “Aku harus bangkit. Tidak boleh menyerah sama sekali dengan keadaan. Mungkin memang Niar tidak bisa hidup dengan aku dan Fira, walaupun sedemikan banyak perbedaan di antara kami. Di saat Niar ada dalam barisan orang-orang yang fancy, aku pasti berada dalam barisan orang-orang kere-nya Indonesia. Sungguh suatu perbedaan yang mencolok. Aku harus bangkit! Salim tersenyum simpul mengingat kala itu. Titik balik yang kemudian menjadikannya meraih gelar Dr-Eng. Benar-benar blessing in disguise. &lt;br /&gt;Pukul 10.05. Bus yang rutin menuju Osaka dan melewati Minatomachi yang merupakan stasiun shuttle bus untuk Kansai International Airport, sudah muncul di pertigaan depan eki. Busnya lebih cepat 5menit dari jadwal sebenarnya. Salim bersiap. Dihitungnya kembali jumlah koper serta barang bawaan lainnya. Perlahan dibangunkannya Fira dari tidur nyenyaknya. Dia menggeliat ringan. Sejak ditinggal Niar, Fira menjadi lebih pendiam dan terkadang bertindak lebih tua dari umur sebenarnya. Namun hal itu justru membuat semuanya menjadi lebih baik. Salim bisa berkonsentrasi lebih baik dari biasanya dan Fira sudah tidak lagi harus ditunggui dan dititip di Kimiko. Dia sudah bisa main sendiri bahkan belajar sendiri, walau terkadang Salim menitipnya juga di Kimiko untuk dapat belajar bersama dengan anak-anak Kimiko dan dapat belajar bersosialisasi dengan orang lain. Lamunan Salim terhenti karena Fira menarik-narik ujung jaketnya. Salim melongok ke bawah. Fira menunjuk bus yang telah berhenti depan mereka, Salim mengangguk mengiyakan. Fira tersenyum dan ikut-ikutan sibuk merapikan barang bawaannya sendiri, sebuah ransel mini berwarna biru. Tidak lama, semua barang bawaan kecuali ransel mereka berdua, sudah masuk ke bagasi bus. Salim menyuruh Fira naik duluan. Fira naik diantar seorang ibu yang juga kebetulan akan naik bus tujuan Osaka itu. Salim memandang sekelilingnya. Sebuah densha dari Hiroshima City baru saja selesai menurunkan penumpangnya. Namun tak ada satupun wajah yang dikenalinya. Semuanya mulai tampak asing. Dari arah SunSquare juga tidak dilihatnya ada rombongan orang-orang. Sepi. Salim tersenyum lega. Memang kesengajaannya untuk tidak memberitahukan siapapun akan kepulangannya hari itu. Salim merasa bahwa segala kenangan yang ada di Saijo, sebaiknya tetap di Saijo dan tidak akan pernah mengikutinya. Walau ada rasa sesal, namun hal ini jauh lebih baik. Daripada harus kembali melihat wajah teman-teman seperjuangan yang notabene akan meneteskan airmata. Tidak, tidak boleh lagi ada airmata. Tepukan ringan sopir bus dipundaknya, membangunkannya dari lamunan. Salim mengangguk berterimakasih. Bismillah, semoga semua kenangan tetap di Saijo; dan dia pun melangkah naik.&lt;br /&gt;Pukul 10.10. Bus perlahan bergerak meninggalkan Saijo Eki. Hingar bingar yang biasanya terdengar kalau ada orang Indonesia yang pulang dengan bus ke Osaka, kali ini tidak ada. Yang ada hanya hentakan bunyi puluhan sepatu berlarian dari arah SunSquare. Serombongan orang-orang Indonesia hanya bisa tertegun dan meneteskan airmata melihat bus menuju Osaka bergerak pasti meninggalkan Saijo Eki. Salim ternyata benar-benar meninggalkan kenangannya di Saijo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saijo, 2 Agustus 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5362338551847243131-7108513645534920740?l=penggilatuhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/feeds/7108513645534920740/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5362338551847243131&amp;postID=7108513645534920740' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/7108513645534920740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/7108513645534920740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/2008/10/pulang.html' title='Pulang'/><author><name>Baeda</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://farm3.static.flickr.com/2244/1572943606_f9e656de54_m.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5362338551847243131.post-6053648075760822556</id><published>2008-02-24T06:40:00.002+09:00</published><updated>2008-02-24T06:45:25.080+09:00</updated><title type='text'>Wake Up ....</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Wake up&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Those two words snap me out of sleep.  They are not my words but sound very familiar.  So black.  I’ve never been anywhere that it was this dark.  Wait a minute are my eyes open?  I blink to make sure, but there is no difference between the blackness in front of me and the blackness under my eyelids.  I take a deep gasp of air just to make sure I’m not dreaming.  The air is cold down the back of my throat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Cold air unlike that of a crisp winter evening or the chilly breeze of an open freezer.  There is something different about it, something heavy and almost sinister.  Where in the hell am I? Wait, back up, who in the hell am?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Bill Parsons.  That’s my name.  I’m thirty years old, married, have two kids and a beautiful wife.  Okay that’s a start.  I just woke up so that means I’ve been asleep.  I’m in a chair.  I try to raise up but something keeps me held to the seat.  Someone has tied me down.  My fingers then my hands, put this irrational idea to rest as they slide down the man-made fabric from my neck to my waist.  I unclick the button next to my hip.  I am in a vehicle.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;My own vehicle actually.  I still cannot see two inches in front of my face but I know it is my vehicle because of the steering wheel and the location of the gearshift, the height of the dashboard, the console on my right.  A Dodge Durango.  It is less than two months new, but there is no illumination from the dashboard, no life from under the hood.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Immediately I try to open the door.  It won’t budge.  Maybe it’s locked.  I lift the lock in the door manually and tug on the handle again.  The lever opens but the door does not.  Something is blocking it.  Where the hell am I?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;I can hear something, liquid maybe, dripping from under the dash.  I hope it is not gas.  I listen more closely and here drips from all over the interior of the vehicle.  I reach the ignition if only to find the key and turn on the electrical for some light.  I turn the key.  Nothing.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;I feel sharp little pains in my feet, like a million little hot needles canvassing every millimeter of my skin.  But that isn’t really a hot sensation is it?  It’s so cold it feels hot.  In that instant I blow a puff of air into the darkness.  I cannot see my breath in front of me, but I know it is there.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;I reach into my jean pocket and push my fingers down to the bottom.  I retrieve the lighter.  I have a lighter because I smoke.  Actually, I did smoke, I quit a year ago but sneak a cig or two when nobody’s looking, like during holidays…it’s Christmas.  That’s right, we spent the day at Jen’s folks.  I drove separate.  What the hell happened?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;I press my thumb down on the little lever on the back of the lighter.  On the second stroke there is spark and then a flame.  Bingo just as I thought, I’m in the Durango.  Everything is just how or where it should be.  I keep the flame outstretched in front of me, turning my head at the same rate as the lighter, as if they’re connected somehow.  The seat beside me is empty.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;I put the flame to the windshield then to my window.  There is nothing but blackness beyond both pieces of glass.  The needles poke me in the feet again.  This time I wiggle my toes and my shoes make a splash.  I put the light down to the floorboard and see the water up to my ankles.  The chill of realization shoots up my spine.  Somehow I am under water.  I drop the lighter into the growing pond on my floorboard.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;In a flash, I remember every detail of my life, the good and bad, the happy and sad.  But it all comes to a halt—I can’t think of a more terrible scenery to be in.  I’ve woken up in a pitch-black tomb of metal and water.  I am trapped in my new SUV, sinking slowly to the bottom of some dark lake, sinking to my last resting place.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;I take three deep breaths in a row, not because the water has risen that high (although it will), but because I am panicking.  Somewhere deep inside I can hear a very soft voice repeatedly saying “stay calm”.  That voice however is drowned out by the screaming and yelling of another, “get out, you’re never going to see your kids again, you’re going to drown, you’re not ready to die.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Stop&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;.  There silence again, except for the leaking water.  It now occurs to me why I cannot open my door.  It has something to do with pressure.  The water is so heavy against and on top of the Durango.  There is air in the interior.  The door will open easily once the cab has filled with water.  I’m not sure how I know this, but I do.  It could have something to do with the Discovery Channel.  It could be because of physics class back in high school.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;The water is up to my knees now.  I am oddly calm, taking comfort in the idea of letting the Durango fill with water.  Once submerged, I will open the door and swim to freedom.  Sounds simple.  I wonder how long I will have to hold my breath.  I wonder how deep I have sunk.  Am I still sinking?  If I do manage to escape will I know which way is up?  It is so dark.  It is night and there is no light from above.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;I turn the key backwards in the ignition and for a brief instant the power comes on—the radio blares a loud blurb, the speedometer and odometer glow green, the clock reads 9:55, and hanging from the ceiling the temperature gage displays the number 34.  How long can a human last in 34-degree water?  My Discovery Channel knowledge fails to answer this time.  I refuse to be negative.  I have two kids.  Survival is the only option.  Once again it is dark.  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;I reach in my back pocket and retrieve my wallet.  I flip it open and thumb to my favorite picture.  Although I can’t see the picture with my eyes, I see it with my mind.  Rachel is on the couch holding Ryan.  She is two and a half.  He is four months.  Rachel has blond hair and blue almost silver eyes.  She goes to dance, can count to ten, and thinks that I am Superman.  Ryan smiles all the time.  He watches his big sister run and play, and seems to be taking it all in so when the time is right he will know exactly what to do.  For an infant he cries very little and has a laugh that can melt my heart.  I kiss the picture and smile.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;My smile is erased in a split second because of the sound behind me.  It is a small cough.  All at once my memory is restored.  Christmas.  Dinner at the in-laws.  Jen and I drove separate.  I took the kids…with me.  My head snaps back only to see a blanket of darkness in the back of the Durango.  I think about my lighter floating down by my feet.  A small voice says “daddy”.  It takes everything I’ve got to hold down vomit in my stomach.  My worst nightmare has come true.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;“Yes baby,” I say with the confident voice a child expects from her father.  But deep down my mind is racing.  Swimming to freedom through freezing water by myself is one thing—but with two young kids?  Ryan can’t even crawl yet.  How can I get him to hold his breath?  How far down are we?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;The cruel surrounding water seems to answer my last question as the tires of the Durango hit rock bottom and a dull thud jars its way through the metallic skeleton of the vehicle.  We’re at the bottom of the lake.  An even scarier thought occurs to me.  If the water temperature is 34 degrees down here, what could it be at the surface?  What if the top of the lake is frozen?  Oh dear lord, I have to remember how we got here.  I rub the bump on my head as if it will give me a clue and then the steering wheel in front of me.  There is some sort of plastic elevated molding in the middle of the wheel.  It is a ram head, the standard logo for all Dodge vehicles.  I make a mental note that if I survive this, I’ll have to bitch at the dealer because the air bag failed to deploy.  Funny, the things you think about in a time of crisis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Now I remember everything.  Jen and I drove separate because of the amount of presents, pies, and food we had to get over to her parents.  At the end of the day I took the kids with me and drove the usual route home, which happens to take us over Collingston Lake Bridge.  &lt;i&gt;I’m Dreaming of a White Christmas&lt;/i&gt; played on the radio.  I looked down for a split second to turn the volume up.  When I looked up headlights were oncoming in my lane.  I swerved into the other lane but it was too late.  The other car plowed me in the front passenger side tire well.  The Durango spun around twice and then smashed through the metal guardrail, which had the endurance of wrapping paper.  That’s when I hit my head and the lights went out. The bridge was low to the water, maybe only ten feet from the water.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;“Daddy, I’m scared.  Where we going?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;“We’re going home baby.  Can you see your baby brother next to you?  Is he sleeping?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;“Yeah…he’s sleepin’.  I’m cold daddy.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;“I know baby we’ll be home in a minute.  Why don’t you try to go back to sleep.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;I hate lying to her about anything, but in this case it’s a necessity.  Rachel is as smart as a whip.  It’s only a matter of time before the water rises to her tiny feet dangling off her car seat, and then she’ll know something is definitely wrong.  Better to have the panic later than sooner.  I’ve still got to come up with some sort of plan before I take on the mind of a two year old in these circumstances.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Cell Phone.  I quit carrying mine five years ago when I realized that the only thing it really does is take time away from you.  I’m sure it’s intended use was the exact opposite, but it’s never the one you want it to be ringing on the other end, it’s always someone wanting something from you, a favor, money, your time.  The smarter part of me did however tuck it away in the glove compartment of my Honda civic and recently the Durango.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Five seconds of a blind hand clubbing over insurance papers and owner manuals, then my fingers wrap around the cell phone.  The charging cord dangles from its end.  I only hope that it is the ignition or engine that was failing and not the battery.  I plug the cylinder shaped male connecter into the lighter, press the power button on the cell, and then again.  On the third try the display illuminates and immediately reads: LOW BATTERY.  I don’t know if this is because the phone is charging and has filled up some or if the car battery is dead and this is just the last pulsing beats of technology housed in plastic.  I dial 9-1-1.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;The other line rings only once.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;“Nine one one what is your emergency?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;“I’ve been in a terrible accident.  I was hit by another vehicle and crashed into Lake Collingston.  I’ve sunken to the bottom of the lake and my SUV is filling with water.  I have two small children with…”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;“Nine one one what is your emergency?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;I speak louder.  “I’m at the bottom of Lake Collingston.  I need help.  My children are going to drown.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;“Hello is anyone there?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;I can hear the operator perfectly fine, but she cannot hear me.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;There is a whining sound from the back seat.  It is Rachel discovery that there is freezing cold water trying to get her feet.  The whine escalates into crying.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;“Hello,” the operator says again.  “Can you pick up the phone darling?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;I look at the phone and then toward the silver eyes in the back seat.  Somehow she can hear Rachel but not me.  A thousand stupid explanations race through my head.  I settle on the theory that the cell phone is picking up higher pitched tones, maybe because we are under water.  It doesn’t sound right, but I have to live with it.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;The water is over my knees.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;“Rachel you have to help daddy, okay?  Just repeat what I say.  Just like Simon Says.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Rachel says verbatim what comes out of my mouth.  I turn around in my seat, lean over it, and with one hand unbuckle Rachel’s car seat.  With the other I hold up the cell phone.  The charging cord stretches with no problem.  The cell phone display lights up the tears on Rachel’s face.  I love that face.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;“We are at the bottom of Collingston Lake,” Rachel repeats after me.  “We need help.  We are at the bottom.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;“Is your daddy there honey?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Rachel answers immediately, “Yeah.  But he can’t talk.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;That’s my girl.  Sometimes she utterly amazes me with her intelligence.  She knows there’s something wrong with the phone and doesn’t waste time in making a long conversation short.  My pride is short lived and Rachel’s quick wit is blacked out.  The cell phone is dead.  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;I unplug and replug the power cord into the lighter socket.  Nothing.  I hit the power button on top of the phone.  There is brief glimmer of illumination and then black screen.  Again I push the button, hoping to myself that there is some life, some power that can overcome a short circuit in the plastic technology first built in some oriental land and now in the palm of my hand.  My second attempt is futile.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;I’m snapped back from a place called wishful thinking by the small voice behind me.  “Daddy, I’m cold.  There’s wawa.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            “I know baby.  We’re going to get out of here in just a minute.”  I look down at my own legs to see that the water is almost totally covering my thighs.  Oddly, the sharp biting pens of cold are gone.  I guess my legs are numb.  A mental note registers that my brain rejects.  That note is in bold letters and states.  &lt;b&gt;You’re running out of time&lt;/b&gt;&lt;i&gt;.&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;The dashboard of the Durango is larger than most vehicles.  There is a good two and half feet from the steering wheel to the windshield.  I pick Rachel up and lay her between the wheel and the glass.  She curls up into a ball, tucks her hands under her chin, and shrugs her shoulders.  The heat was on full blast before our accident and the left over warmth on the dash tricks Rachel into thinking of fireplaces and heated blankets.  She closes her eyes and smiles.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            I have to get busy thinking about the moment.  Wasted seconds means wasted lives.  Lake Collingston is fifty feet deep at its deepest point.  I know this because we boat on the lake every so often in the summer.  There are free pamphlets about the lake at the concession stand.  I can’t help but scan one over every time we put the boat in, even though I’ve read it countless times.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            Fifty feet.  It doesn’t sound like much, but when you factor in ice cold water, two kids under the age of two that will have to hold their breath for an extended amount of time, a sheet of ice at the top, fifty feet sounds damn near unconquerable.  Ryan starts to cry in the seat behind me.  I refuse to be negative.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            I turn around, placing my knees on the seat and the water, click the belt in Ryan’s car seat, grab the bottle in the bag next to him, and hoist my son into the front seat.  He is dressed in what my wife calls a onesy.  It is thick and blue and Ryan seems unaware of the chilling forces around him.  I stick the bottle in his mouth and the crying stops immediately.  His eyes squint and his irises roll back under his lids like a drug addict that finally found his fix.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            Two ideas enter my mind, both positive in nature.  Babies hold their breath on their own.  It’s just a built in instinct that either God or evolution put there.  I’ve seen on TV where babies are taken under water and seem to love it.  Babies also have brown fat, which to make a long story short, gives them the ability to almost hibernate.  They can withstand harsh periods of cold and last a good deal longer in it than grown adults.  I remember watching on National Geographic a family who had car problems in a blizzard.  After a couple of days they decided to brave the elements and go for help.  The baby was wrapped up and placed on a makeshift sled.  Halfway through the journey they discovered the baby not breathing and believed it to be dead.  The family ended up finding help but it cost the father his feet and the mother a couple of fingers.  The baby didn’t have a scratch on it and woke up from hibernation as soon as it was exposed to warm air.   While these thoughts are encouraging, I still feel sick to my stomach that I will have to put them to the test.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            Though I try to stay focused on the task at hand—the survival of my family—my mind rewinds to events earlier in the day.  I can’t imagine a more ideal place to have Christmas than Jen’s parents.  It’s like traveling to the North Pole.  There are millions upon millions of bright bulbs strung everywhere a string can be hung.  There is a life-like Santa and Mrs. Clause waving in the front yard, surrounded by elves, snowmen, candy canes, reindeer, baby Jesus and the nativity scene—there’s even a train that the grandkids can ride in around the house into the backyard where more lighted fixtures stand ready to impress.  It feels like home there.  My parents passed when I was in my twenties—my father of a heart attack and my mother of a broken heart—but I still have a haven away from home.  I still have one of those places I can go and tap into the kind wisdom of a parent figure.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            There are probably fifty people at Christmas dinner.  The dining room only holds ten so every room in the house is injected with tables and chairs.  After eight years in the family I’ve not made it to the main table in the dining room, nor do I want to—that would mean that someone had passed on.  Jen’s mother cooks most of the meal although everyone is required to bring something.  If there are fifty people at dinner, there is enough food for two hundred.  Jen’s father reads Christmas tales after dinner for the numerous grandkids (Jen has six sisters), but if you look around there are just as many adults with smiles one their faces.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            Jen will stay at her parents’ well into the night if not the early morning.  She does every year.  It is the only day of the year that her whole family is together.  Jen is the only one of the sisters that lives in town.  They talk and drink wine and reminisce, telling the same stories that never get old.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            Someone sober will drive Jen home.  She will wake me and we’ll do it for as long as I can hold on.  I’ll ask her if it was alright for her just like I always do, and she will lie saying yes just like she always does.  She will make me go get left over pumpkin pie and whipped cream and bring them up stairs to bed.  She’ll tell me the same stories her and her sisters talked about and laugh like it’s the first time she’s ever heard or told them.  I just watch and smile and look at her as she eats.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            As good as the sex has been and has gotten what I’ll miss most is the talking after.  The questions about our kids.  The conversation in the kitchen on Sunday mornings before church, as we attempt to read the newspaper and drink coffee.  Watching her read to Rachel and Ryan.  I loved her so much after three months of dating that I never thought it would last, that it couldn’t get any better.  That love has changed, matured from a coveting of beauty to something science can’t explain, a bond that makes two people one.  A bond that says not only are you my lover and my best friend but you are an irreplaceable part of me.  I only wish to touch her if not for one more time. To run my fingers through her hair as she eats pumpkin pie…pumpkin pie.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            I snap my head back to the cargo area in the back.  It is useless of course; there is nothing but a sheet of black in front of my eyes.  I climb over the seats holding Ryan close to my shoulder.  I place him back in his car seat.  I lean over the second row of seats and my hand feels around the cargo area.  After nothing but carpet for several seconds my arm bangs against the object that popped in my head at the thought of pumpkin pie.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            Jen cooked several pies for dinner and wanted to keep them warm in transit.  She insisted we take my long cooler, the one with wheels, and long handle.  I never thought it would be used for anything other than keeping my beer cold.  Now it might save my children’s life.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            I open the lid and feel around the edges.  There is more than enough area to hold both children.  I don’t know how long they can breath in there, but it has to be better than the alternative.  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            There are several little snaps around me.  I can’t see them but I know the windows are cracking.  I put my hands on the glass closest to Ryan, and trace the cruel spider web breaks up the window.  There is no water leaking from them, but it will only be a matter of time.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            I drag the cooler to the front seat, dump out the dishes and pie pans.  I’m not sure if the cooler lid will stay shut once we are swimming for the surface.  I take my belt off and rap it around the plastic box, but it is well short of connecting.  Seatbelts and car seat material cross my mind.  Both are materials that need to be cut and I am fresh out of survival knives.  I grab the charging cord that is still hanging from the lighter outlet.  It stretches around the cooler but will be hard to tie off.  There is no other solution.  The curly phone wire will have to do.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            I hear more cracks in the windows.  The noise is like the popping of the rice cereal in the bottom of Rachel’s breakfast bowl.  We are out of time.  Rachel starts crying.  The sound is different than usual.  These are pleads of helplessness.  Although she is too young to know exactly what’s going on, she is smart enough to know we are in dire circumstances.  She knows we might not make it.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            I pick her up and bring her face inches from my own.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            “Listen to me baby.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            She stops crying the instant she hears my voice.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;“We’re going to see mommy okay?  But it’s going to take a few minutes.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;“Why daddy?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;“We’ve been in accident.  We have to get to the top of the lake.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Rachel looks around at the windows, as if now realizing we are underwater.  She does not cry.  The tears from before are already dry on her cheeks.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            “You have to get in this cooler though, baby okay?  You and Ryan have to stay in there the whole time.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            “We go hide, daddy?  You come find us?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            “That’s right baby just like hide and seek.  Only you can’t open that lid.  No matter what stay in there until I get you out.”  I squeeze her shoulders.  “Promise me no matter what you won’t open the lid.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            “I will daddy.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            “That’s a good girl.  Now you have to be a big sister and hold onto Ryan.  Keep the bottle in his mouth okay.  You know you’re daddy’s favorite girl, right?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            “Okay daddy.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            I look into those metallic eyes of hers.  Somehow in the darkness they still reflect some light.  Those smart but helpless eyes.  I see her first day of kindergarten, softball games, high school graduation, and her wedding.  I see my grandkids.  I feel my eyes burn but no tears will come.  I smile anyway.  I know that I will do everything I can to make it to the surface.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            I lay Rachel in the cooler.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            I pick Ryan from his car seat and hold up in front of me.  He is chewing his fingers.  “Hi big boy”.  I kiss his cheek hard.  He smiles at me.  It’s like looking in the mirror.  I kid with Jen that he’s my clone.  I place him on top of Rachel.  She wiggles a bit to get comfortable but does not complain.  Ryan begins to scream.  I put his bottle in Rachel’s right had.  Without a word she slips it into his lips and the crying stops.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            “Good job baby.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            “Thank you daddy.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            “Remember when I shut this lid, don’t try and open it.  We’ll be with mommy in a few seconds.  Do you understand?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            “Daddy?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            “Yes baby.”  My voice is high pitched and wavering.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            “I love you daddy.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            “I love you baby.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            I shut the lid and rap the cord around as fast as I can.  If I don’t I will never be able to.  I pull it hard and double not it at the top.  I unbuckle my belt and run it through the handle of the cooler.  I pull the leather tight—tighter than usual.  I have left over belt after the buckle.  I tie it around the handle again for good measure.  My eyes are blurry but the tears still don’t come.  There is more snapping and popping.  The water is up to my chest now and the cooler floats next to me, the top of it touching the ceiling.  For whatever reason I am still not cold.  Chilly, but not cold.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            My mouth and nose are against the ceiling now, and I’m gasping hard for air.  I have to get that one last breath that will have to last…it will have to last until the kids are safe.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            I say the Lord’s Prayer quickly in my head.  At the end of it I add:  &lt;i&gt;Please let us get to Jen&lt;/i&gt;.  I can’t remember the last time I prayed.  It was probably another time when I thought I couldn’t do it by myself—back against the wall.  Wasn’t it always like that?  I wished everything I ever prayed for—money, jobs, cars, homes—I wish I could take them all back.  I didn’t mean any of it.  This is what I want.  Please Lord.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            I take my last breath.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            The water covers my face.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            Total darkness. Total silence.  Only the slight movement of the water.  I feel for my belt just to make sure it is still secured to the handle of the cooler.  I pull on door with my left hand.  It opens with ease.  I flow out of the Durango pulling the red plastic box behind me.  I can tell by the handle being horizontal that it is floating next to me, almost tying to ascend.  I kick with my legs and pull with my arms.  I open my eyes to see nothing but blackness round me.  Above me, the surface is a lighter shade of black.  I feel like I am in black hole.  My legs kick harder.  My arms pull faster.  The most precious treasure chest in the world clings to my belt and follows beside me.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            I swim upwards as fast and desperate as possible.  I can tell that I am moving only because the darkness above me is getting lighter—moving from coal to tar and now to almost the gray of dirty dishwater.  I check constantly to make sure the cooler is attached to my belt.  How badly I want to open the lid and make sure they’re all right.  How badly I want to make sure they are still breathing.  But that’s why I must keep moving.  And that’s why I do.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            I see faces in the void around me, like the shadows in the corner of your room when you were a kid trying to go to sleep.  Some of the faces are familiar.  Some are not.  What could only be Satan smiles at me and reaches out a helping hand.  I know better than to take it and look up toward my destination.  In a blink the deceiver is gone.  My father takes his place, but only looks on as a spectator.  His lips do not move and his eyes seem to know something I don’t.  With a swipe of my hand the water erases him.  Jen looks at me with her hands folded.  She is smiling because she knows I will never stop.  I will never quit until our babies are safe.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            I am an accountant.  That’s were I spend ninety percent of my time.  It is my well-being but it does not define me as a man.  My job in fact is the last thing that comes to my mind.  Right now and always I am a father swimming through freezing water to save my life and the life of family.  The water should be freezing me but it is only chilly.  My lungs should be burning from lack of oxygen but I feel no need to breath.  I am on full adrenaline, have to be.  People lift cars off of loved ones when they have no other choice.  I have only one choice.  Keep going up.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            The top of the lake is now the color of dirty snow—frozen powder tinted with the grease and grime of the streets.  It won’t be long now, thirty seconds, maybe less.  I feel the cooler on my belt.  I wonder how much oxygen they have left.  I hope the water cannot get in.  &lt;i&gt;Don’t think such things.&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;My limbs work even harder.  I’m on the last home stretch of a short marathon.  I feel no pain.  My muscles do not burn.  It will be only seconds until I see those precious faces.  I smile…until I hit the frozen ice on top of the lake.  It is some cruel joke.   With both hands I push but my body is only propelled downward.  I rise up again, this time feeling along the bottom of the ice barrier, searching for a break, a crack, anything.  &lt;i&gt;Rachel and Ryan are suffocating&lt;/i&gt;.  In the frigid waters of Lake Collingston my hands are sweating with panic.  I have come so far from the unlocked tomb.  I am two inches from freedom.  I can even see through the ice to the faint circle—a moon hanging in the December sky.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            I refuse to be defeated.  I will not quit.  I swim quicker, using my legs as both propeller and steering wheel.  My hands slide across the cold clear lid above me, hoping for a chink in its armor.  I am a mime trapped in an invisible box.  I punch as I scale under the ice.  I am out of time.  We are out of time.  I punch like a boxer hitting the heavy bag.  My legs continue to kick.  I will not quit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            There is a soft spot in the ice and my hand goes through it.  I hold onto the edge and kick with my legs.  The break widens and now moonlight pierces through the gloom.  I see other lights from the bridge—car beams and the cherries of police.  I stick my head up, just enough for a quick breath.  I don’t want to pass out even though I feel remarkably fine.  I undo the belt from the handle of the cooler.  I also untie the cell cord.  I let the cooler float up into the hole I’ve made.  I shove and kick and the cooler slides onto the frozen top of the lake.  I continue to kick as I grab the ice and pull with my arms.  I am on my belly.  The air is not as cold as I though it would be.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            I reach two feet to the cooler beside me and open the lid.  There is no movement, no sound.  I figured on hearing two screaming kids.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            “Daddy,” a quivering voice calls.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            I get to my knees and look in.  Rachel is shivering.  Some lake water seeped into the cooler and filled to about one fourth of the way up.  Ryan’s lips are blue.  I put my hand on his chest, but it does not move.  He is not breathing.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            “Don’t move,” a voice yells.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            Two men in wet suits inch their way across the ice.  They carry medical cases.  The bridge is fifty yards away, covered with emergency vehicles.  The people of Collingston occupy every inch of the bridge, like ants hunkered down on a floating stick.  Someone must have witnessed our accident first hand.  Or Rachel’s cell call got through.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;            The divers are at us in seconds.  One of them covers Rachel with a towel and scoots off with her back toward the bridge. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;“Daddy!” Rachel screams.  She is still scared and confused.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Jen breaks the grip of some policeman and runs out on the ice.  The diver hands my bundled Rachel over to her mother.  Jen kisses her and then tries to continue on toward Ryan and me.  The diver stops her.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;The other wet suit man has Ryan wrapped in a towel and is blowing into his mouth.  My son is not breathing.  He has no heartbeat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;I stand there and try to cry because there is nothing I can do.  The tears will still not come.  “Is there anything I can do?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;The man in the wet suit does not answer.  He is too busy breathing for my son, and pressing his little chest.  I hear Jen screaming.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Numerous emergency medical professionals run across the ice.  They form a circle around my son.  They throw out numbers and terminology I am not familiar with.  They are calm but tense.  &lt;i&gt;Let him live&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;I hear a gurgle of water followed by a cry.  Ryan is breathing.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;They lift him off the ice.  I reach out my arms but the EMT passes me by and heads for the bridge.  The rest of the rescuers follow.  I realize I’m being left behind and start to walk toward the bridge.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Ryan is whisked around Jen and placed into an awaiting ambulance on the bridge.  Rachel is taken out of her mother’s arms and placed in another ambulance.  Jen lets her go reluctantly.  She looks out at the lake and crosses her arms.  She is worried about me.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;“Go with them,” I yell.  “I’m fine.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Jen just stands there staring.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;I pick up my pace to meet her.  Though the ice looks thin under my feet, it shows no signs of breaking or giving out.  I can’t believe how warm I am.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Forty yards from me the divers are swimming down the hole that the Durango created.  They swim holding a cable.  It is connected to the wench of a tow truck that sits on the bridge.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;As I reach the point where Jen is standing, her father walks up and puts his arm around her.  They continue to watch the divers rescue our vehicle.  They must be in shock because they say nothing to me as I stand next to them.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;“Forget the Durango.  Let’s go with kids.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;She does not answer.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;“Jen?” I tap her on the shoulder.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;She snuggles closer her to her father as if chilled by a cold gust of wind.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;“To hell with the damn car.  Our babies are in the hospital.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;“I’m not leaving without him,” she says.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;“Leaving without who?” I ask.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;“Oh my god.”  Jen covers her mouth, breaks her father’s hug, and runs across the ice toward the hole.  The divers have the Durango to the surface.  I follow Jen, still baffled at her interest in a replaceable, fully insured vehicle.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;“No!” Jen screams.  The sound sends shivers down my spine.  I follow her line of sight to the divers.  The have the door open.  They are dragging a man out from behind the steering wheel and lay him on the ice.  I swallow hard.  Jen tries to get to the man, but there is freezing cold water separating them.  Two police officers and her father form a blockade.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;I walk toward the circle of emergency personal and the man lying on the ice.  I am three steps away from the chaos when I look down at my feet.  I am standing on water.  Scared, I jump to the ice just a yard away.  There is no cracking.  No sound of my shoes pouncing on ice.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;They are performing CPR on the man.  One of them mentions that it does not look good.  Another says one more time.  They press on his chest.  They breathe into his mouth. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;I look back at the water.  I feel my face and realize it is neither cold nor warm. Several times I had the urge to cry but could not.  I remember the 9-1-1 call.  The operator could not hear me.  I swam in freezing cold water.  My lungs never hurt for oxygen.  Jen does not acknowledge me.  Jen cannot hear me.  She cannot see me.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;I look down at the EMT as he rises from the body lying on the ice.  I feel the gash on my forehead and see it on the man in front of me at the same time.  He is blue and wet and cold.  He does not look human.  He is not alive.  They throw a blanket over him.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Jen follows him to the ambulance.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;The crowd disperses from the bridge.  People walk back to their cars like the crowd of a movie theater that just let out.  The ambulance pulls away.  The cop cars turn off their lights and disappear into the night.  Jen’s father tucks her into his truck and her crying is muffled when the door shuts.  The Durango is back on the bridge, being pulled behind the tow truck.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;It is just the ice and I.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;I am alone.  I don’t know where to go.  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;“You did real good son.  I’m proud of you.”  Someone puts their hand on my shoulder.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;It is the same voice that told me to &lt;i&gt;wake up&lt;/i&gt; at the bottom of the lake.  A familiar voice.  I turn to see that it is my father.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;“Rachel and Ryan are going to be just fine,” he says and smiles.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 5pt; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;We begin to walk.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 5pt; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 5pt; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5362338551847243131-6053648075760822556?l=penggilatuhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/feeds/6053648075760822556/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5362338551847243131&amp;postID=6053648075760822556' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/6053648075760822556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/6053648075760822556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/2008/02/wake-up.html' title='Wake Up ....'/><author><name>Baeda</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://farm3.static.flickr.com/2244/1572943606_f9e656de54_m.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5362338551847243131.post-6696336240170104893</id><published>2008-02-15T19:55:00.001+09:00</published><updated>2008-02-15T20:12:26.397+09:00</updated><title type='text'>Rather be ......</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;The house stood against the deep green backdrop of a hill and a forest.  The siding was light peach and the trim a reddish-orange.  Except for a few pieces of loose roofing, an occasional stray slice of siding, and bush stumps in front of the porch, 123 Baymont fit perfectly in that middle-class neighborhood.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;            The house was unoccupied, left to a daughter who didn’t want or have the time to maintain it.  That daughter ran an antique shop in a town eighty miles away, and returned only to her former home to store items that could no longer hold a spot in the shelves of her shop.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;            The porch &lt;i&gt;was&lt;/i&gt; occupied.  Alex Drake sat in a chair on its concrete surface with his feet propped up on the railing, sipping Miller High Life Lite out of a can.  He watched his house, the white and charcoal home that sheltered he and his family, the one about ninety paces directly in front of him across the street.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;            When the beer can gave up the last of its nectar, Alex dropped it to the porch floor and smashed it, compressing it to the width of a thick pancake, kicking it to the side, along with several of its brothers that went before.  Alex had drunk beer on this empty porch for three nights in a row now, not because he didn’t like his own porch, and not because his wife preferred he drink across the street.  Alex was watching for a perpetrator.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;            Alex was also waiting.  Even though he had put down a good case or so in the last three nights, Alex was not an alcoholic, very rarely even drank by himself.  The beer was to pass the time while he waited.  He looked down at his watch. It read 10:30.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;            The “perp” as his sheriff-deputy cousin referred to it, was nowhere in sight.  There were no hooded men creeping through the backyard, no shadowy figures tying to open a window.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;            Alex’s family was safe and sound, snuggled in their respective beds, unaware of the late night surveillance mission going on across the street.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;            The “perp” Alex was waiting for, stood about six inches off the ground, wore a fury gray coat and black mask, and frequented alley garbage cans.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;            For the last month the Drake’s were kept up at night by scratching and clawing, violent and unapologetic noise, that traveled through the walls of their house, up and down, in and out, constant and bulky.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;            The first day Alex heard the noise he was sitting in the living room.  He thought that a squirrel had some how gotten into the walls.  He thought maybe it was lost or confused, that maybe it would leave.  Maybe it wouldn’t like the dark, tight confines of his house’s walls.  If it were only that simple.  If it were only a squirrel.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;            Several days into the stay of their new houseguest, Alex and his wife Tina, decided that this was no small squirrel.  It sounded like it barely fit between the walls, like every trip to the outside was a struggle to escape.  They were sure that the bandit was a Raccoon.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;            Alex tried several tactics to get rid of the pest.  He beat the walls with his hand, following the crawl of the fury rascal as it squeezed slowly away.  And when that only displaced the creature to a different wall in the house, Alex beat a pan with a wooden spoon until his family had left, and only he and the raccoon remained.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Alex inspected the outside of the house, trying to find where the animal entered.  He combed over every inch of the walls, the foundation, and the roof.  He found nothing but a four-inch section of rotten wood above the porch, a hole too small for the thing that was wallowing in the walls of his house.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Alex bought a trap and put a can of cat food in it, and on night fifteen of the inhabitation, on his way home from a softball game and beer drinking, he passed by the cage.  Sure enough, inside was the biggest, fattest, furriest, raccoon Alex had ever seen.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;“Finally, I got you, you son of a bitch.”  The raccoon did not respond.  It was calm, maybe a bit scared, and it covered its eyes with a paw. Alex giggled all the way into the house.  He lay in bed with a smile stuck to his face.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Alex awoke near dawn, walked down the stairs, and grabbed the phone book out of the desk drawer.  He flipped through the pages and found the listing.  Plucking the cordless phone from its stand, Alex pushed the numbers for the Humane Society.  Waiting for an answer, he walked to the front window.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;“I’ll be damned.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;The cage sat in the same spot next to the stairs just like the night before.  But it was empty.  The biggest, fattest raccoon that Alex had ever seen had freed itself from a structure that was supposed to be inescapable.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Alex dropped the phone, ripped open the front door, and scampered down the porch steps.  The corner of the cage door was bent back about two inches.  Gray fur speckled with blood was stuck to the top corner—the fat freeloader had squeezed his way to freedom, but at no small cost.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;We are at night number thirty now.  The raccoon has been strangely quit the last few evenings, as if he knew that his nemesis waits for him on the porch across the street.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Alex’s scouting mission was for one reason—to see where exactly the masked nuisance is getting into the house. After a month of war, Alex knew very few facts about his enemy.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;So there he sat, on his neighbor’s porch, watching and waiting and drinking, staring at the roof of his own house.  Surely it was the roof.  It had to be getting  in on the roof.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;A police car rolled up and stopped at the curb.  A sheriff’s deputy exited the car.  He had a serious look to him, was dressed in black, and was draped with an assortment of crime fighting devices on his belt.  He stopped on the sidewalk and looked at Alex.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;“Sir, are you aware that drinking on someone else’s porch without their knowledge is considered trespassing?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;“What if I’m drinking with law enforcement?”  Alex lofted a beer into the air and his cousin caught it with two hands.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;“It depends how many beers you have to bribe with.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;“Several,” Alex said.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;“Then, I think you’ll be fine.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Cousin Shane walked up the driveway and then up the steps, plopping down in the chair next to Alex.  He loosened his belt and placed his flashlight on the floor.  Shane cracked open the beer and drank a swallow that seemed to consume half of its contents.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;“Sometimes there’s nothing better than that first swig,” Shane said.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;“No doubt.”  Alex affirmed with a drink for himself.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Shane noticed his cousin’s eyes were entranced with his house across the street. “Seen the perp yet?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;“Nope.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;A large picture window—at least five feet in length and half as wide—sat directly behind Alex.  Two curtains—once white, now gray—hung behind the glass.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Out of the corner of his eye, Shane saw, or thought he saw, one of the curtains move.  He turned to see them perfectly still again.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;“What’s wrong?” Alex asked.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;“I swear something moved behind those curtains,” Shane said.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Alex looked briefly, and then turned back to his surveillance.  “Probably an animal or something.  Who knows what’s in that house.  The thing hasn’t been occupied for ten years.  Hell, we’ve got a raccoon in our walls and we live in the house, hard telling what’s in there.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;“Why doesn’t she rent it out?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;“She uses it for storage or something.  She’s got an antique shop in Collingston.  Old man Divan down the street said that there’s so much crap in there, that there’s just a walkway of space from the front of the house to the back.  The rest is just boxes and crap.  I don’t think this goddamn raccoon is ever going to show up.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;“Would you rather be staked down in the dessert with your eyelids cut off, facing the sun, or be dropped off naked in Antarctica.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Alex laughed.  “Antarctica.  I wouldn’t want to freeze to death, but I think it would be quicker than the dessert.  Plus things would be trying to eat you.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;“Good point.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;“Would you rather,” Alex started, “be eaten by an Alligator or a shark?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;“Gator, definitely,” Shane responded.  “The shark’ll just nibble on you, come by and take a bite here and there, the gator will drown your ass and come back later to eat.  Less painful than the shark.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Alex got up, lit a cigarette, and walked back a couple of paces so the smoke wouldn’t bother his cousin.  He stood with his back to the window.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;He pulled hard on the cigarette, opened his mouth, and let the smoke escape into the air.  “Would you rather be quadriplegic or blind?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;“Blind, for sure,” Shane answered.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;“I don’t know if it’s that cut and dry.  I mean think of all the things you wouldn’t be able to do if you couldn’t see.  Read, drive, watch tv, the list goes on.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;“Yeah, but I’d still be able to walk.  I could wipe my own ass.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;“You’d be able to walk into stuff, bangin’ into everything.  Take away my arms and legs, I think my eyes are more important.”  Alex sucked the white glower down to the filter, dropped it on the porch, and smashed it out with the heel of his shoe.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;“I think you’re…”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Shane didn’t get out the last word.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;In a split second the window behind Alex shattered.  Two large arms grabbed him around the chest and pulled him into the house.  His legs, from the knee down, hung out onto the porch.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Shane jumped out of his chair as if it were an ejection seat in a jet fighter.  He landed at the base of the window and his cousin’s feet.  Shane grabbed Alex’s ankles and pulled without hesitation.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Even at three feet away from the window, the inside of the house was pitch black.  The only evidence—besides his legs—Alex was still in this world was the panicked screams that came from the darkness.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Whoever had him, was strong.  Shane pulled and tugged but made no progress in retrieving his cousin.  After a short one-sided tug-of-war, Shane fell backwards to the porch concrete, holding one of Alex’s shoes in each of his hands.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Shane recollected himself to his feet, grabbed the flashlight off the porch floor, and pulled his gun from its holster.  Commotion echoed from inside the house.  Alex was being dragged through the clutter, bouncing off the boxes and antiques, his head bumping along the floor.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Shane stood at the dark window with his gun and flashlight pointed in.  A door slammed and the ruckus seemed to descend, like someone rolled a bowling ball down stairs.  Shane could only imagine that his cousin’s head was bumping toward a basement.  Alex’s screams for help went from a distant whisper to non-existent.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;“Request back up at one twenty three Baymont.”  Shane paused flipping through the pages of his mind that held the numerous variations of code numbers that were supposed to be used.  What exactly do you call this situation?  Unsatisfied with any of the police jargon, he spoke in laymen’s terms.  “Possible abduction, subject was pulled through the window of a vacant house and dragged inside.  Specs of perpetrator were not visible.  Over.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;“Roger that.  Units are being dispatched presently,” a voice said through the speaker on Shane’s shoulder.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;The frame of the window seemed to stare back at Shane, like the open mouth of a large animal, with jagged glass teeth and a bottomless gullet.  Shane wiped the pointed shards away with the long end of his heavy flashlight and stepped into the house.  He held the flashlight with his left hand and just above it with his right, the Glock from his holster.  Wherever his gaze traveled, so did the gun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Cobwebs hung from the ceiling, glowing silver in the beam of Shane’s flashlight.  Boxes stood like barricades from the floor to the ceiling, covering what used to be the living room.  A pathway free from clutter started at the front door and ran through the right side to the back of the room and another doorway, maybe the entrance to the kitchen.  The air was dry but thick; it smelled like a nursing home, like mothballs mixed with dust.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Three steps into Shane’s trek he stopped, frozen by the hairs on the back of his neck.  He couldn’t see them at first, but he could feel them.  The same way one can feel eyes on them in a crowded room.  He moved his light slowly from left to right, exposing the reflections of countless pairs of eyes, golden eyes like animals caught in headlights.  They were too small to be mice.  Maybe rats or raccoons, Shane thought.  He kicked one of the columns of boxes to his left, hoping the noise would scatter the creatures.  The eyes only stared back at him, wide and ambivalent.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;The bright-eyed creatures were not scared of him, but they didn’t seem to be aggressive either.  Shane took a few quiet steps down the pathway, his gun leading the way, walls of boxes on both sides, and soft purr-like sounds all around, vibrating from the throats of the animals that watched him.  With each closing stride to the doorway Shane could hear little feet scurry behind him.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;He could see the sink before he passed through the doorway.  It was full to the brim with brownish water and black mold on the sides.  Something floated in the middle of it.  To his right was a door.  He jiggled the handle and it opened with ease.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;The beam from his flashlight exposed a staircase to a basement, but the light dissipated into the black hole at the bottom.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;“Alex?” Shane shouted.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;There was no response.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Shane pressed the speaker on his shoulder.  “How’s that back up coming?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;There was some static noise, a few indistinguishable words, and then nothing.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Shane started down the stairs.  The boards under his feet creaked with each step and at any moment Shane thought his next would send him crashing to the floor.  The sides of the stairwell were light blue in color, streaked with smears of something dark, like someone dipped a paintbrush in pudding and ran it down the length of the wall.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;The basement was darker than the rest of the house.  Shane turned his flashlight over and shined the light in his own eyes.  It seemed to be working but when he pointed outward the blackness in front of him swallowed whatever light there was.  A second later his flashlight went completely dead.  Shane banged the handle with his right hand.  Nothing.  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Shane may as well have been blindfolded.  He began to walk with his arms in front of him, his feet shuffling along the floor.  By the roughness and friction under his shoes, Shane could tell the basement floor was nothing more than dirt.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Shane could hear a faint sound, no doubt the screams from his cousin.  It sounded as if it were coming from below the basement floor.  How could that be?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;“Alex!” Shane yelled.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Again there was a noise from far away, from far below.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Shane shuffled forward with his gun pointed forward and his left hand waving and grasping all directions in front.  His feet were stopped by something on the floor.  Shane bent down and felt the pile at his feet.  It was dirt.  Shane followed the mound with his hands.  It made a circle.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Someone had dug a hole.  A very big hole.  Big enough to drag someone down.  Shane could see nothing though.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;A light flashed on overhead.  It was a single bulb, red in color, and hung from wires in the ceiling.  Shane scanned the room with the barrel of his gun.  The walls were plain and the rest of the room was bare.  The only thing in the basement was the large hole and the piles of dirt that formed a circle around it.  Shane tried his flashlight again.  This time it worked.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;He pointed the beam into the black hole at his feet, but again the light went nowhere.  There was only black.  Shane holstered his gun, stepped over the small wall of dirt, and disappeared into the darkness.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;The decline—at first—was about a forty-five degree angle.  The hole was large enough to walk upright in.  The air was damp and musty.  It reminded Shane of wet fur—something his dog smelled like after it had been in the rain.  The tunnel walls dripped at inconsistent intervals.  It wasn’t long and Shane had to bend over to prevent hitting his head.  The tunnel shrank as it descended and Shane found himself crawling and then on his belly, pulling himself with his elbows, almost at a vertical decline.  The only thing keeping him from falling straight down headfirst was the tight dirt walls holding him in place.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;The wet-fur smell was replaced by another foul stench.  Each push and pull of his arms and legs inched him forward but also into the wall.  The once dirt was now pure mud.  It circled him like a glove on a hand.  The coffin sensation coupled with the odor of rotten eggs almost sent Shane into a panic.  He paused and took a deep breath.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Noise came from below.  Cousin Alex’s screams were gone, but they were replaced by crying.  It was whimpering, like a scared puppy, a non-stop chatter that made Shane sick to his stomach.  Who makes a grown man cry?  It was at that moment that Shane suspected it was not a “who” but a “what”, that he was dealing with.  Some sort of animal maybe.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;He pulled himself downward through the mud tunnel almost swimming with his arms and legs.  The actual tunnel was non-existent now; it was just a thick soup of foul smelling mud.  The goo entered his ears and nose.  Shane tried to blow it away with his mouth.  A bubble formed and then collapsed with even more of the brown slush.  Shane held his breath, his limbs flailing as a reflex to survive.  A burning sensation filled his muscles from exhaustion.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;At least a minute went by with no breath, no oxygen.  Shane felt his heart beating in his chest, rapid and hot.  It would be only a matter of seconds until he had to open his mouth and take a breath.  A thousand different images shot past his mind’s eye—playing guns with Alex in their granddad’s forest, birthdays, graduations, parties around the campfire, beers on the porch.  Funny the things that came out as important just before you were about to die.  Shane gave up hope and let his lungs do their work.  The dark sludge entered his mouth and nose.  Shane began to choke.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;The thick soup walls around him began to shoot downward and Shane fell with them, hitting a hard floor facedown. The puddle of mud splashed down on top of him.  Shane gagged and puked up the contents that penetrated his mouth and nose.  It smelled horrific, and tasted worse.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Covered with mud, he stood in the darkness, wiping the slop from his eyes.  The shade of black under his eyelids was the same shade as outside them.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;“Alex!” Shane screamed.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Whimpers came from his right.  Shane pulled out his flashlight again, wiped the lens, and turned it on.  There was a faint beam.  He turned in a circle and found that he was in a tunnel.  The ceiling dripped with mud, but the floor seemed to be rock.  At thirty yards away he could make it out the silhouette of a person.  He ran toward his cousin and stopped at the sight in front of him.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Alex was covered with mud as well, but the whites of his eyes shown through.  They were wide with shock, unblinking and unmoving.  The steady choppy breathes of fright escaped from his lungs.  Alex was hanging from something, his waist even with Shane’s shoulders.  His arms and legs seemed to be tied behind his back.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;“Alex?”  Shane said.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Shane shined the dim light from his flashlight right into Alex’s face.  He popped out of his trance with screaming.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;“You have to get out of here,” Alex shouted.  “Ruuuun! Ruuuuuun!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;“I’m not going without you.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Alex laughed.  “I’m already dead man, can’t you see.  I’m already dead.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Shane shined the light on him again, trying to find his arms and legs.  They weren’t tied behind him.  They were gone.  Someone or something had hacked them off.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;“It’s got me up here on a giant fish hook man.  It stuck me through the back.”  Alex started sobbing and dropped his head.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;“It?”  Shane pulled his gun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Behind him he could hear two footsteps, soft footsteps, the kind meant for sneaking up on a person.  There was a purr-like gurgle followed by a hiss, a combination of sounds that Shane could not place in the real world.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Shane turned and squeezed the trigger figuring he would ask questions later, but before he could even see the flash from his gun, two sharp objects pierced through his eyes and pulled them completely out of his head.  He fell to the floor motionless.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;A final scream came from cousin Alex on the hook above him.  It was cut short.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Three squad cars flew up Baymont, and as they stopped in front of the peach house, unbeknownst to the officers inside, the glass on the porch floated up from the concrete and melted back together inside the window frame.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;The boxes in the living room stacked themselves back up and the glowing eyes of creatures went black.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;In the basement, a dirt floor stretched from wall to wall.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;The officers—now on the porch—pounded on the door and flashed their lights into the house.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 5pt; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;Across the street, a fat raccoon squeezed into a four-inch opening on Alex Drake’s porch roof and disappeared into the walls of his house.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5362338551847243131-6696336240170104893?l=penggilatuhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/feeds/6696336240170104893/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5362338551847243131&amp;postID=6696336240170104893' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/6696336240170104893'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/6696336240170104893'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/2008/02/would-you-rather-be.html' title='Rather be ......'/><author><name>Baeda</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://farm3.static.flickr.com/2244/1572943606_f9e656de54_m.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5362338551847243131.post-4244575166602883550</id><published>2008-02-10T08:14:00.000+09:00</published><updated>2008-02-10T08:20:34.450+09:00</updated><title type='text'>Kukecup Dahimu Lama</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Kucoba memainkan ujung-ujung rambutmu yang tebal dan terjalin rapi. Kucium, mhmhmhm … harum. Teringat betapa seringnya kumain-maini rambutmu di dalam kelas. Betapapun hebatnya tarik-tarikanku, rambutmu tetap tebal. Tidak melar. Apalagi putus. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Beringsut aku mendekatkan wajahku ke wajahmu. Mencoba kembali mencium pipimu. Hati-hati sekali, seperti takut membangunkanmu. Mhmhm ….. lembut pipimu terasa. Terbayang betapa hebohnya orang-orang di keluargamu tatkala aku mencium pipimu di bandara Soekarna Hatta waktu itu. Walau semua orang tahu kalau aku pasti akan melamarmu, kita akan menikah, namun kebiasaan ketimuran yang ada dan berakar, membuatnya tampak sebagai tindakan menjijikkan. Kuingat, mukamu memerah tatkala ayahmu tiba-tiba batuk terus menerus. Kita cuma terbahak kecil mendengarnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Matamu memang indah Dina. Terhias dengan alis hitam pekat, penuh. Paduan yang sangat serasi. Apalagi dengan bola matamu yang putih dan hitam. Sangat kontras. Kuingat betapa aku mulai senang melihatmu karena mata itu. Mata yang menatapku tajam tatkala mempertanyakan mengapa perempuan harus berada di belakang laki-laki dalam segala hal. Aku benar-benar tak berkutik kala itu. Terpesona. Atau tatkala panas menghentak Saijo. Kau tiba-tiba minta menghentikan mobil di samping vending machine, membeli sekaleng pespi zero dingin, lalu menempelkan dinding dingin kaleng itu di kelopak matamu. Wajahmu yang tadinya resah gelisah, berubah drastis dramatis menjadi senang luar biasa. Senyum menghias. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Kuraba pelan bibirmu. Lembut. Merah muda indah menghiasi wajahmu. Kuingat, dari bibir itu sering keluar kata-kata yang tajam. Menghentakkanku. Menyadarkanku akan egoisme semu kelelakianku. Kadang pula mempertajam rasa sayangku padamu, dengan kata-kata lembutmu yang menenangkanku setelah dimarahi Sensei. Mmhm, teringat juga betapa bibirmu itu selalu menjadi penghantar peraduan kita di malam hari, atau subuh hari, atau kapan saja. Kapan saja aku inginkan ataupun engkau inginkan. Paling sering tatkala aku akan berangkat ke kampus. Bibirmu itu pasti kukecup. Kuambil sebagai penghantar perjalananku sampai di lab. Begitupun tatkala tiba. Walaupun engkau terlalu lelah selepas kerja seharian di pabrik, walaupun sementara makan, walau apapun; engkau tidak akan memperbolehkanku melakukan apapun, selain menyentuhkan bibirmu dengan bibirku dulu. Mhmhmh, Dina. Tak terasa, kudekatkan bibirku ke bibirmu. Kukecup pelan. Terasa lembut. Hidungku pun ikut menyentuh hidungmu. Hidung yang sangat hebat memainkan akrobat mengeraskan cuping. Aku tergelak kecil mengenang, tatkala engkau selalu bisa dengan gampangnya membuat keras dua bagian hidungmu itu. Atau menggodaku yang marah karena polisi nihon-jin menghentikan mobilku tanpa sebab, sementara aku sudah terlambat memenuhi janji dengan Sensei, atraksi kembang kempismu itu pasti akan membuatku tertawa. Paling tidak tersenyum dan akhirnya melupakan kejadian-kejadian yang membuatku marah tadi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Selepas bibirmu, kukecup dagumu. Asyik. Penuh daging dan menggemaskan. Bagian dari wajahmu yang paling sering kugigit mesra, dan engkaupun menyukainya. Kuingat beberapa kali, kita sempat bertanding membentuk pola gigi di dagu yang selainnya. Untuk hal ini, aku paling sering menang. Bukan karena gigi-gigiku yang tajam, namun karena daging empuk di dagumu itu. Kenyal. Begtu juga terus ke bawah. Ke lehermu yang berlipat-lipat. Tidak jenjang, namun gemuk. Mhmhm, kuingat terasa sangat lembut tatkala kucium lembut lipatan-lipatan itu. Tatkala engkau berkeringat kuat karena mencoba memasakkanku gulai kambing kesukaanku di dapur panas apato kita di cuaca gerah Saijo. Keringat itu bak parfum yang selalu menggodaku. Engkaupun selalu tergelitik karenanya, lalu kemudian pasti berakhir dengan nafas menderu kita di futon. Mhmhm …..&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Dahi itu …..&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Suara derik pintu membuka menghentikan lamunanku. Fuji-san masuk.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;“Sumimasen, Deni-san. Kyuukyuusha wa mou kuukou ni mukau junbi ga dekimashita. Sorosoro ikimasenka?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;(Mohon maaf, Deni. Mobil jenazah sudah siap berangkat ke bandara. Bisa kita berangkat sekarang?)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Aku mengangguk. Fuji-san pun mengangguk, lalu keluar.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Kupandang kembali wajahmu. Tenang. Seperti tidur. Rambut, mata, hidung, bibir dan dagumu memperlihatkan ketenangan itu. Memperlihatkan kesempurnaan wajahmu. Ahhh …. Walau kutahu, sebentar lagi petugas byooin akan datang, menempatkanmu dalam peti yang terpaku rapat, yang akan menghalangiku untuk dapat memandang wajahmu lagi. Aku tersenyum getir. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Kupandang lagi. Mataku tertuju ke dahimu. Belum kuceritakan padamu tentang dahimu itu. Ahhh, Dina. Tak ada waktu lagi. Kukecup dahimu. Lama.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Saijo, Februari 3&lt;sup&gt;rd&lt;/sup&gt; 2008, 02.00AM&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5362338551847243131-4244575166602883550?l=penggilatuhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/feeds/4244575166602883550/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5362338551847243131&amp;postID=4244575166602883550' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/4244575166602883550'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/4244575166602883550'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/2008/02/kukecup-dahimu-lama.html' title='Kukecup Dahimu Lama'/><author><name>Baeda</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://farm3.static.flickr.com/2244/1572943606_f9e656de54_m.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5362338551847243131.post-7012085883341880166</id><published>2008-02-03T08:00:00.000+09:00</published><updated>2008-02-03T08:19:25.926+09:00</updated><title type='text'>Resah Firman, Impian Dea dan Tangisan Ani</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormalCxSpFirst" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;“Maaan. Diaper Ani perlu diganti tuh!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Firman berhenti mengetik. Diarahkannya pandangannya ke kamar sebelah. Ani mulai merengek-rengek. Menangis, minta diapernya diganti. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;“Maaan. Gan …”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;“Iya, dengar….”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Sekali lagi diliriknya laptopnya. Paper ini harus selesai sebentar, harus, batin Firman sambil bergegas mencari diaper baru di rak sebelah ranjang. Tidak sampai lima menit, tangisan Ani reda. Diaper baru. Diletakkannya Ani kembali ke boksnya. Ani tertawa, seakan mengajak ayahnya main. Namun Firman hanya bisa senyum kecut. Tak mampu menjawab panggilan Ani. Maklumlah, waktu yang semakin sempit dan terbatas, mengharuskan Firman untuk bekerja seperti gasing yang tidak pernah berhenti berputar. Tahun terakhir beasiswanya. Jika tidak bisa menerbitkan paper terakhir ini, maka dia harus mengajukan perpanjangan ke Sensei. Itupun belum tentu disetujui. Mana lagi, demikian banyak kebutuhan hidup keluarga yang harus dipenuhinya. Diaper dan susu Ani, tuitition fee Dea, logistik sehari-hari. Semuanya, semuanya harus bergantung ke Firman. Beasiswa monbukagakusho jelas tidak bisa menutupi semua itu. Untuk itu dia harus baito dimana-mana. Loper koran-lah, di pabrik roti-lah, di Yamamoto-lah ….. Semuanya. Sementara Dea, jelas-jelas tidak mau kerja. Buat apa kerja? Kan ada beasiswamu? Kamu kerja lagi. Itu pasti cukup. Kan memang sudah menjadi tugasmu sebagai kepala keluarga? Aku kan juga kuliah? Banyak tugas dari Sensei. Mau ujian. Selalu begitu jawabannya tatkala Firman memintanya untuk ikut membantu mencari uang. Namun entah mengapa, Firman sekalipun tak pernah mampu menjawab balik pertanyaan-pertanyaan Dea itu. Tak pernah sekalipun.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Terdengar azan isya dari laptopnya. Firman menghela nafas panjang. Selain shalat isya, azan itu juga mengingatkannya untuk segera ke Sun Square, menunggu jemputan baito di Yamamoto. Ditatapnya sekali lagi Ani yang mulai asyik sendiri dengan mainannya. Aku harus bisa. Harus bisa hidup dengan ini semua, desis Firman menyemangati dirinya sendiri. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);" align="center"&gt;***&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;“Fir, jangan gitu dong. Kamu kan laki-laki. Walau pun memang tugas suami yang mencari nafkah, paling tidak Dea kan bisa ikut bantu-bantu urus rumah. Masa’ sih ganti diaper juga kamu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Firman tertunduk. Rentetan kata-kata pedis Irfan seperti sembilu. Menyayat telinganya. Ditatapnya kawan seangkatan dan selabnya di Mechanical Engineering Hirodai lamat-lamat. Seakan meminta persetujuannya akan ketidakmampuannya menyelesaikan masalahnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;“Bener. Kamu pasti bisa. Harus bisa. Ingat Fir, kita tinggal setahun lho. Masih ada satu paper yang mesti masuk jurnal kan? Belum lagi disertasimu yang mesti bersamaan rampung juga. Harus bisa lho Fir!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Firman tertunduk. Tak mampu ditatapnya lagi mata sahabatnya itu. Semua kata-katanya benar. Landasan kata-kata itu harus bisa membuatnya berani untuk menanyakan kembali ke Dea. Harus!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;“Kapan baiknya Fan aku ngomong ke Dea?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;“Sekarang saja. Aji mumpung kamu semangat. Jangan khawatir, aku absenkan bentar kalo pulang jam 7 pagi, kamu shift sampe pagi kan? Nih, pake aja motorku”, senyum Irfan sambil memberi kunci motornya. Firman ikut tersenyum girang. Beban hatinya seakan lenyap. Terganti dengan harapan yang tinggi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);" align="center"&gt;***&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Pukul dua subuh. Firman baru saja tiba di apatonya. Pintu rumah dibukanya perlahan. Tidak dikunci. Firman menggeleng. Kebiasaan Dea yang tidak bisa hilang. Entah kenapa? Walaupun semua tahu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kalau tidak pernah ada maling di sekitar pusat kota Saijo, namun apa salahnya untuk jaga-jaga? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Pintu kamar tengah masih terbuka. Firman bergegas masuk. Pemanas ruangan berbahan bakar minyak tanah itu ternyata mati. Segera dilihatnya Ani di boks-nya. Di sudut boks kayu itu, Ani tidur merapat. Menggigil. Selimutnya masih tersampir di dinding&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;boks. Dea kurang ajar, gerutu Firman. Walau marah, pelan diselimutinya Ani. Dinyalakannya pemanas. Lepas itu, digosok-gosoknya kaki mungil yang mulai dingin itu. Lalu tangan. Sepuluhan menit kemudian Ani mulai tertidur pulas. Tanpa gigilan lagi. Firman menghela nafas panjang. Pikirannya berpindah ke Dea. Mana dia? Biasanya dia browsing interet di sofa samping tv. Diliriknya laptop Dea, portal E-bay sementara terbuka. Beli apa lagi dia? Dilihatnya nomor kartu kreditnya tertulis di jendela detail pembayaran. Ahh, geleng Firman lemah. Dea tidak pernah bisa mengerti dirinya. Gegar budaya ternyata tidak mampu Dea atasi. Walau telah Firman nasehati. Walau telah ada Ani. Dea tetap tidak mampu beranjak dari dunia mimpinya. Fiman menghela nafas panjangnya. Seakan mengadu pada semuanya akan ketidakmampuannya menyadarkan Dea. Ahh ….&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Tapi mana dia. Atau sudah tidur? Pelan dibukanya pintu kamar tidur. Matanya nanar. Di atas ranjang, ada dua tubuh. Dea dan laki-laki yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya. Berdekapan. Tidur. Nafas mereka teratur. Pulas. Semenit, dua menit, sepuluh, Firman masih mematung menatap mereka. Air matanya menganak. Dirasakannya dirinya mulai melemah. Seluruh tubuhnya dirasakan seperti tertusuk ribuan jarum.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun entah mengapa, sesuatu dalam dirinya seakan berontak. Seakan bergejolak kuat. Membuatnya mendidih. Pikiran pendeknya mulai beraksi. Dilihatnya gunting di atas meja laptopnya masih ada. Diraihnya kemudian &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;ditimangnya perlahan. Dikuatkannya pegangannya. Pelan didekatinya ranjang tempat dua orang itu pulas tertidur. Tiba-tiba, Firman berhenti. Bayangan-bayangan masa-masa indahnya dan Dea melintas terang. Diingatnya, ranjang inilah yang mengantar kedatangan Ani di rahim Dea. Diingatnya, ranjang ini pula sedemikian kecilnya Ani tertidur nyenyak ditepuk-tepuk mereka berdua. Diingatnya, ranjang ini penuh dengan canda tawa ria mereka bertiga tatkala pertama kalinya mereka melihat salju turun lebat di Saijo. Diingatnya ……&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Firman kembali lemas. Tangan kekarnya yang menggenggam kuat gunting, perlahan turun. Dia tertunduk. Air mata yang tadi berhenti mengalir kembali menganak. Haruskah aku jadi pembunuh? Bagaimana dengan Ani? Ditatapnya putri kecilnya yang masih tertidur pulas di boks-nya. Wajah mungil itu tersenyum dalam tidurnya, seakan sedang mimpi yang indah. Firman pun ikut tersenyum. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);" align="center"&gt;***&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“RRRiiiiiiiiiingggggg. RRRiiiiiiiiiingggggg. RRRiiiiiiiiiingggggg”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Weker keras berdering membangunkan Dea. Jam tujuh. Dea menggeliat. Ditatapnya wajah Ikeda disampingnya. Masih pulas. Kepayahan. Dea tersenyum genit. Digeliatkannya tubuhnya, beringsut ke pinggir ranjang. Secarik kertas melayang jatuh dari bibir ranjang. Bergegas diraihnya. Dea mengernyit. Tulisan tangan Firman, gerutunya. Ingin dibuangnya, namun entah mengapa matanya tetap tertuju ke kertas itu. Dibacanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;“Dea. Maafkan aku karena tidak mampu membahagiakanmu. Aku pindah. Semua barang-barangku &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;aku bawa. Ani juga. Semoga kau bisa menemukan kebahagianmu, mimpimu. Firman”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Dea mematung. Hening. Dingin. Yuki di luar mulai deras, sederas air mata Dea.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Hou Shaku Apato 203, 3 Februari 2008, 08.01.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5362338551847243131-7012085883341880166?l=penggilatuhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/feeds/7012085883341880166/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5362338551847243131&amp;postID=7012085883341880166' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/7012085883341880166'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/7012085883341880166'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/2008/02/resah-firman-impian-dea-dan-tangisan.html' title='Resah Firman, Impian Dea dan Tangisan Ani'/><author><name>Baeda</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://farm3.static.flickr.com/2244/1572943606_f9e656de54_m.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5362338551847243131.post-2665315044548109697</id><published>2008-01-26T05:15:00.001+09:00</published><updated>2008-02-18T14:13:00.409+09:00</updated><title type='text'>Cepat ke sini, istrimu mau melahirkan!</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;“Cepat ke sini, istrimu mau melahirkan!”&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Kalimat itu masih terus mengiang di telinganya. Terus dan terus. Kayuhan kakinya mendesak pedal sepeda tua pemberian Koichi Sensei, si empunya apato, tidak mampu mengusir gaungan kalimat itu. Hati Firman galau bukan main. Pasalnya, jadwal persalinan yang diberitahukan dokter waktu periksa di Motonaga tadi siang, masih lima hari lagi. Lima hari! Mengapa tiba-tiba bisa bergeser menjadi tengah malam seperti ini, geram Firman. Berkali-kali gemeretuk gerahamnya memecah sunyinya malam.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;“Cepat ke sini, istrimu mau melahirkan!”&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Kondisi jalanan samping rel kereta antara Seno dan Saijo yang naik turun mulai mengganggu kayuhannya. Memang tidak pernah disangkanya, Lina akan melahirkan malam-malam begini. Tahu begini mending bolos baito semalam, gerutunya. Walaupun demikian, kayuhan sepedanya tetap berirama, mengikuti kondisi jalanan. Kadang meninggi karena jalanan menurun, atau melambat karena mendaki. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Jarak antara kedua stasion kereta yang diantarai Hatchihonmatsu Eki ini memang cukup jauh. Sehari-hari, tatkala baito dengan shift malam, Firman biasa menghabiskan sepuluh sampai limabelas menitan, untuk menempuh jarak tersebut. Itupun dengan densha. Bukan sepeda tua. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;“Cepat ke sini, istrimu mau melahirkan!”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Degup jantung Firman mulai cepat. Maklum, tanjakan tercuram mulai dijalaninya. Gila, tanjakan ini lebih terjal dari tanjakan Kagamiyama Koen, batinnya. Walau sehari-hari dilewatinya, namun tidak pernah terlintas dibenaknya akan melintasi tanjakan ini dengan sepeda. Deru nafasnya sekarang mampu didengarnya jelas, tanda bahwa kelelahan yang amat sangat, mulai menggelayutinya. Jantung berupaya keras mengantarkan oksigen murni menuju paru-paru via darah, pikirnya. Dalam hati Firman tersenyum, mungkin beginilah sebuah perjuangan yang mesti dijalaninya. Teringat dia akan penjelasan guru biologi semasa SMA dulu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;“Partikel darah akan mengangkut atom oksigen yang cukup berat, naik turun pembuluh, dari pusat pengambilannya di hidung menuju paru-paru. Energi yang dibutuhkannya sangat besar kan? Untuk itu, tubuh memerlukan asupan energi yang cukup”.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Firman kembali tersenyum dalam hati. Mana bisa cukup energi, bekal bento dari Lina pun belum kusentuh, desaunya dingin.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;“Cepat ke sini, istrimu mau melahirkan!”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Beberapa kayuh sebelum tiba di puncak, bunyi derak terdengar keras dari bawah. Firman mulai gelagapan. Terbayang dibenaknya, rantai sepeda tuanya itu putus. Dengan sigap, dituntunnya menuju tiang lampu pinggir jalan. Alhamdulillah, hanya lepas, syukurnya. Perlahan mulai dicobanya mengembalikan posisi rantai karatan tersebut ke tempat yang semestinya. Namun cuaca yang mulai mendingin memaksanya bekerja ekstra. Tangannya gemetar. Maklumlah, badai yuki yang kemarin menghantam Saijo masih menyimpan sisa-sisa. Walau jelas tak menimpa Seno, namun arahan angin dari gugusan gunung sekitar Saijo mulai ikut mendinginkan malam-malam di daerah ini. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya rantai berkarat pun kembali ke posisinya semula. Firman menyeka keringatnya dengan punggung tangan. Dingin. Ditatapnya langit. Satu demi satu butiran putih mulai berjatuhan. Yuki, gumamnya. Deru nafas yang tadinya cepat dan keras, perlahan melambat. Raut muka Firman berubah. Perlahan-lahan tertunduk. Diingatnya dengan jelas, tepat setahun yang lalu, seperti malam-malam begini, kala yuki turun, Lina meregang nyawa. Mukanya memucat. Pendarahan berat setelah pecahnya ketuban. Ah, Firman menengadahi langit. Diingatnya lagi tatkala genggaman Lina perlahan mengendur, pertanda mulai hilangnya tenaga. Dorongan untuk melahirkan hampir habis. Dokter pun mendesaknya mundur, meminta Firman bergerak menjauhi ranjang. Satu perawat memintanya keluar ruang persalinan. Secio, kami akan secio, kata perawat itu. Firman tidak bisa berbuat apa-apa. Sekilas dilihatnya sinar mata Lina melemah, seakan-akan berkata “Maafkan aku ….. maafkan aku”. Firman hilang keseimbangan. Hilang pegangan. Tubuhnya limbung. Dia terjatuh tepat di depan pintu kamar operasi.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;“Cepat ke sini, istrimu mau melahirkan!”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Firman masih terduduk di bawah sinar lampu jalanan yang mulai temaram karena tertutup derasnya yuki. Lamunannya masih ke peristiwa itu. Diingatnya, tatkala siuman, begitu banyak teman yang ada disekelilingnya. Semuanya bermuka sedih. Semuanya memintanya untuk bersabar. Firman bergerak cepat. Ditepisnya semua tangan-tangan itu. Namun apa daya, tenaganya habis. Seorang teman membisiknya, “Sabar Fir. Relakan. Relakan. Ingat Allah ….”. Firman kembali melemas. Dia terduduk kembali. Tak berapa lama, dokter yang mendorongnya tadi, datang mendekat. Berbicara perlahan namun jelas. Lina selamat, namun bayinya tidak. Belitan tali pusar di leher menghantarnya kembali ke Sang Pencipta. Secio ternyata tidak mampu menyelamatkan nafasnya yang terlanjur terhenti. Firman tertunduk lemas. Air menganak dipipinya. Dibayangkannya betapa hancurnya hati Lina jika mengetahuinya. Betapa sulitnya perjuangan untuk bisa hamil. Betapa susahnya berjuang belajar di negeri orang sementara tetap harus membawa sang anak dalam kandungan. Sembilan bulan yang penuh perjuangan. Firman terisak. Beberapa teman merangkulnya, mengelus-elus punggungnya, memohonnya bersabar. Firman hanya bisa terisak.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;“Cepat ke sini, istrimu mau melahirkan!”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Yuki masih sangat deras. Dingin yang diantarkan angin, menyadarkan Firman dari lamunannya. Walau gemeletuk giginya mengeras, tetap saja ditengadahkannya kepalanya menatap yuki yang dingin. Butirannya jatuh satu demi satu diwajahnya. Dingin yang terasa menyengat, seakan-akan dinikmatinya. Seakan-akan berusaha mengatakan, “Kami bisa bangkit kembali. Bisa”. Diingatnya, dukungan teman-teman sepenanggungan membuat Lina dan dirinya sendiri bisa bangkit dari kekalutan sedih. Memberikan semangat untuk bisa kembali hidup seperti sedia kala. Memberikan semangat untuk bisa kembali meniti hidup dan meraut rejang keluarga dengan berusaha kembali mempunyai anak. Firman mendesah panjang. Disapunya yuki dari wajahnya. Walau tidak seperti yang dibayangkannya, namun hari-hari seperti ini sebenarnya sangat dinantikannya. Hari dimana berita kelahiran anaknya sampai ditelinganya. Harus! Aku harus bersemangat, tegasnya mengepalkan tinjunya dan bergegas berdiri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;“Kriinnggg, kriinngg ……”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Keitainya berbunyi. Nyaring membelah sunyi malam. Firman terpana. Tangannya semakin gemetar. Gelagapan diraihnya saku jaket kanan. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;“Kriinnggg, kriinngg ……”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Keitai Toshiba lama itu masih berdering keras ditangannya. Kenangan masa lalu itu kembali menggelayut kuat. Seperti memaksanya untuk jatuh. Namun dikumpulkannya kekuatan batinnya. Bismillah ….&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;“Moshi moshi. Firman desu” (Halo, Firman di sini)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;“Haik. Motonaga byooin desu. Okosan ga umaremashita. Onnanoko desu...” (Di sini Rumah Sakit Motonaga. Anak anda telah lahir. Perempuan)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Firman terhenyak. Semua kenangan buruk yang tadi merongrong batinnya sontak hilang. Tanpa gurat tanpa bekas. Dingin malam pun lenyap. Tak terasa lagi. Sama sekali. Ah …… Firman mendesah panjang. Senyumnyapun mengembang lebar. Alhamdulillah …… &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Saijo, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;26 Januari 2008, 04.50&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Dipersembahkan kepada ibu-ibu di Saijo yang baru saja melakukan tugas sucinya. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5362338551847243131-2665315044548109697?l=penggilatuhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/feeds/2665315044548109697/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5362338551847243131&amp;postID=2665315044548109697' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/2665315044548109697'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/2665315044548109697'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/2008/01/cepat-ke-sini-istrimu-mau-melahirkan.html' title='Cepat ke sini, istrimu mau melahirkan!'/><author><name>Baeda</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://farm3.static.flickr.com/2244/1572943606_f9e656de54_m.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5362338551847243131.post-4596095936939138237</id><published>2007-12-21T00:27:00.000+09:00</published><updated>2007-12-21T00:28:45.889+09:00</updated><title type='text'>Kebun Jagung</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Gus .... Agus .......... Bantu emakmu ambil air nak”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Walau telah berulang kali didengarnya kalimat itu, Agus belum beranjak sejengkalpun. Kelumpuhan bapaknya akibat terjatuh dari pohon sukun hampir setahun lalu, membuat remaja tigabelas tahun itu menjadi pembantu utama ibunya, mencari nafkah dengan menjual bubur jagung di pasar. Selain air, sering pula ibunya menyuruh mencari bumbu-bumbu penyedap bubur jagung di hutan kecil sebelah timur lubuk. Dan benar saja, suruhan itu kembali terjadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Gus, kalo sudah cukup segentong airnya, tolong juga cari juga bunga candu dan sedikit madu hutan”, teriak ibunya dari dapur. Agus yang sedari tadi masih setia di depan buku cerita yang dipinjamnya di sekolah, mendengus pelan. Dia ingat ajaran Ustad Umar, “Jangan pernah berkata ah pada ibumu, karena dosanya sudah cukup untuk membawamu menghuni neraka selama-lamanya”. Walau Agus bukanlah murid yang patuh pada guru, namun jika sudah ada kaitannya dengan neraka, pastilah dia tidak bertanya lagi. Akhirnya setelah merapikan buku cerita itu di atas meja, dihampirinya ibunya. Ibunya tersenyum, “Lagi membaca ya? Nantilah kau lanjutkan, tolong emak sebentar ya?” kata ibunya sambil menyorongkan gentong kecil dan keranjang bambu anyam. Agus cuma tersenyum. Dia tahu, walau hidup kesusahan, ibunya selalu sadar akan pentingnya pendidikan. Dia tidak mau tahu kalau Agus jauh lebih suka membaca buku cerita ketimbang buku pelajaran. Yang penting, buku! Karena menurutnya, buku apapun itu, asal kita mau membacanya, pastilah kita bisa menangkap maksudnya. Dan tidak ada buku yang mengajarkan kesia-siaan. Asal maksud dan tujuan buku tersebut benar-benar nyata dan dapat dipahami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Tidak lama, Agus sudah ada di tepi hutan. Kalau dilihat baik-baik, walau tidak terlalu besar, hutan itu sebenarnya cukup menyeramkan. Beberapa teman Agus pernah hilang di sana. Orang-orang bilang, disembunyikan setan. Namun setelah beberapa lama, mereka yang hilang pasti ditemukan kembali setelah sehari atau dua. Sebenarnya ada rasa takut bergelayut di tengkuk Agus. Terakhir kali ke situ, walau hari masih siang menjelang sore, Agus mendengar percakapan yang amat ramai dari dalam hutan. Namun dia pun tahu, kalau tidak pernah ada orang yang tinggal dalam hutan itu. Makanya hari itu, Agus agak gemetar juga masuk ke hutan. Soalnya waktunya persis dengan kejadian terakhir kali ke sana. Kata orang, setan, dedemit atau apapun sebangsanya, paling suka mengganggu pada waktu-waktu yang sama. Hii ... ngeri juga, batin Agus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sepuluh langkah pertama, Agus masih hati-hati sekali. Butuh hampir tiga menit untuk sampai pada posisinya sekarang. Setiap dua langkah, ditajamkannya pendengarannya. Segala macam bunyi disaringnya. Ditelaahnya sampai yakin kalau itu hanya suara dedaunan yang bergerak tertiup angin. Setelah langkah terakhir, dirasakannya tidak ada kejadian yang mencurigakan. Napas lega mulai dihelanya. Mulai disesuaikannya matanya dengan keadaan sekitar. Daun, perdu sampai lumut, hijau. Ranting, batang pohon sampai akar muncul dan gantung, coklat. Kalau ada warna lain, pastilah burung atau serangga atau bahkan sampah. Sampah? Beberapa meter di sebelah kanan, ada sesuatu berwarna ungu kebiruan. Ungunya seperti ungu bungkusan deterjen bubuk yang banyak di pasar. Didekatinya benda ungu itu. Semakin dekat, semakin nyata kalau benda itu bukan sampah. Tapi seperti kain selendang. Diambilnya pelan. Benar, ternyata selembar selendang. Selendang? Siapa yang punya selendang? Perempuan mana yang berani masuk ke hutan ini? Agus menyernyitkan dahi, mencoba mengeliminasi siapa saja di kampungnya yang punya selendang seperti itu. Ibunya, tidak. Mbak Tiwil, tidak. Hmmmm .... tidak ..... tidak ... tidak .... Sudah terlalu banyak nama dan bayangan muka perempuan-perempuan yang silih berganti lewat di benaknya. Namun tidak ada satupun yang dapat membuatnya yakin. Ada satu dua, tapi mereka jelas tidak bisa masuk hutan, sudah terlalu tua. Hmmm, siapa ya? Masih dalam kebingungannya, mata Agus melihat lagi satu benda, sekitar empat meter ke arah depan. Warnanya keemasan. Segera Agus menghampiri. Tusuk konde dengan bentuk kipas kecil, lengkap dengan sederetan batu berkilau. Seperti berlian. Atau memang berlian? Selendang ungu diletakkannya di keranjang bambunya, sebelum meraih tusuk konde itu. Emas, tusuk kondenya dari emas, teriak Agus dalam hati. Wow, pastilah batu-batu itu juga berlian. Mata Agus mulai berbinar. Terbayang apa yang dapat dilakukannya dengan benda itu. Dia bisa periksakan bapaknya ke dokter, bantu jualan ibunya, bayar tunggakan uang sekolah. Bahkan mungkin bikin perpustakaan pribadi. Lengkap dengan buku-buku cerita pilihannya. Tapi....? Dahinya kembali berkerut. Ini kan bukan punyaku? Mana bisa aku ambil? serunya dalam hati. Jangan-jangan, barang-barang ini kepunyaan seorang wanita yang dibunuh kemudian mayatnya dibuang dalam hutan! batin Agus. Pernah didengarnya cerita tentang hilangnya seorang wanita juragan kain di pasar. Wanita itu tinggalnya di kampung sebelah. Tapi .. ah, itu kan sudah ketahuan kemana hilangnya. Kawin lagi. Agus tersenyum sendiri. Tapi kalau begitu, selendang dan tusuk konde ini punya siapa? Sambil berpikir terus, matanya melirik kesana kemari. Jangan-jangan ada barang lain lagi. Siapa tahu saja berharga? Kan bisa dipakai buat hal-hal lain! pikir Agus mulai serakah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Selang beberapa menit, tak didapatnya apa-apa. Kakinya yang tadi gemetar dan hati-hati, mulai gampang melangkah. Perdu-perdu mulai disibaknya. Bawah-bawah pohon dikoreknya. Bahkan lumut pun dicabutnya. Tanpa dia sadari, sudah tengah hutan. Anehnya, jarak antar pohon semakin renggang. Angin yang biasanya dirasakan kalau berada di lembah, malah terasa di pipinya sekarang. Beralasankan heran dan ingin tahu, Agus melangkah terus. Sekitar lima belas meteran, langkahnya terhenti. Tak dipercayainya apa yang terpampang di depan hidungnya. Matanya menatap langsung ladang jagung yang sangat luas. Dengan jagung-jagung yang sudah siap petik. Bahkan ada beberapa yang sudah menyembulkan bongkolnya. Gemuk dan padat. Napas panjang kembali dihelanya untuk redakan detakan jantung yang semakin keras dan cepat. Segala perasaan bertumpuk menjadi satu. Agus berlutut. Matanya berkaca-kaca. Teringat betapa susahnya ibunya membeli jagung, mengolah kemudian menjualnya. Andai sudah diketahuinya ladang jagung itu sejak lama, pasti usaha ibunya sudah sangat maju. Ah ... Tuhan, Engkau Maha Adil. Tatkala kami sedang kesusahan, Kau turunkan bantuan-Mu untuk kami, doa Agus menengadahkan tangannya ke langit. Lepas dengan segala perasaan keingintahuan akan pemilik ladang, Agus berlarian di sela-sela pohon jagung. Dipetiknya dengan riang, jagung demi jagung. Tatkala tangannya penuh, dia kembali ke tempat dimana gentong air dan keranjang bambunya dia letakkan. Dilihatnya kembali selendang dan tusuk konde emas yang didapatnya tadi, tergeletak dalam keranjang. Agus menggeleng riang. Ditumpahkannya isi keranjang ke tanah. Diisinya keranjang dengan jagung-jagung itu. Setelah itu, dia berlari kembali memetik jagung demi jagung. Setelah penuh, kembali ditumpahkannya jagung-jagung itu ke dalam keranjang. Begitu seterusnya sampai hari hampir gelap. Sadar kalau hari sudah hampir malam, Agus berkemas tergesa-gesa. Gentong digantungnya di bahu kiri, sementara keranjang bambu digendongnya dengan kedua tangan. Karena berat, maka Agus tak bisa berlari-lari riang seperti suasana hatinya. Sempat terpikirkan sesuatu, namun sekejap terlupakan. Dia terlalu senang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Lepas magrib, dia tiba di depan pintu rumahnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Maaaak .... Emaaaaak. Agus pulang!” teriaknya. Terdengar langkah tergopoh-gopoh dari arah dapur. Muka lesu ibunya muncul dari balik kain gorden pembatas ruangan. Didapatinya Agus dengan sekeranjang penuh jagung. Besar-besar lagi. Agus tertawa-tawa. Namun ibunya tidak, tersenyumpun tidak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Dari mana jagung-jagung ini Gus?” tanya ibunya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Dari hutan Mak. Di sana ada ladang jagung yang luaaaas sekali. Lebih luas dari ladang Haji Toha di pinggir kampung yang terbakar setahun kemarin. Jagung-jagung di keranjang ini cuma secuil. Emak bisa bikin bubur sampai tiga bulan tanpa harus beli di pasar. Kan enak?” cerocos Agus lancar. Ibunya tersenyum arif, “Tapi jagung-jagung ini bukan punya kita kan, Gus? Apa Agus mau pembeli jajanan Emak makan barang haram? Jangan ya? Tolong kembalikan lagi jagung-jagung ini besok sebelum ke sekolah. Ya?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Agus terdiam terpaku. Akhirnya tertunduk. Segala kegembiraan musnah seketika. Keinginan untuk menyenangkan ibunya, harus dikuburnya dalam-dalam. Sadar akan suasana kelu hati Agus, ibunya bertutur, “Rejeki setiap orang memang telah ditetapkan Tuhan, namun bukan dengan cara yang tidak benar. Setahun lalu Bapakmu pun dapat jagung seperti ini. Tapi dia tidak beritahu Emak. Dibakarnya di dapur tatkala tak ada orang. Waktu Emak tiba dari pasar, Bapakmu sudah terlentang tak bisa bergerak di lantai. Emak tidak mau itu terjadi padamu, Nak”. Agus termangu, “Jadi Bapak tidak jatuh dari pohon sukun?”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Ibunya tersenyum menggeleng. Dielusnya kepala Agus penuh sayang. Kasih ibu memang penuh mukjizat. Agus pun mengerti, juga ikut tersenyum. Tanpa banyak kata, dibereskannya gentong air dan keranjang bambu yang dibawanya tadi. Peluh mengalir deras, namun kelegaan hati terasa lebih sejuk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Masih pagi sekali. Setengah enam. Agus dengan seragam putih birunya, kembali menggendong keranjang bambunya yang penuh jagung. Lewati lubuk dan bergerak ke timur, masuk hutan. Langkahnya sudah tidak seperti kemarin. Sekarang sudah ringan dan bahkan dengan bersiul-siul. Namun tatkala mulai lewat tempat ditemukannya selendang serta tusuk konde emas kemarin, siulannya berhenti. Mulai didengarnya suara riuh rendah. Suara itu lagi. Suara yang membuatnya takut untuk masuk hutan sejak lama. Ramai sekali suara itu, pikir Agus. Teringat suara itu pernah didengarnya sebelumnya. Dicobanya mengingat-ingat kembali dimana dia pernah mendengar suara seperti itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;Walau gemetar, kaki tetap dilangkahkannya. Sampai tepat di tempat ditumpahkannya selendang dan tusuk konde emas kemarin. Tempat dimasukkannya jagung-jagung itu kemarin. Sinar matahari mulai menerangi hutan. Ditolehnya ke samping. Selendang dan tusuk konde itu masih ada di sana. Namun hamparan jagung dalam ladang luas tidak didapatinya. Hanya batu-batu berwarna hitam yang menyembul satu satu. Nisan-nisan! Seketika muka Agus pucat. Dirasanya keranjangnya meringan. Sontak dilepaskannya keranjang bambu itu dari gendongan tangannya. Jagung-jagung itu sudah tidak ada lagi. Hanya dedaunan kering berwarna coklat. Menumpuk acak dalam keranjang. Mukanya bertambah pucat. Langkahnya meringan. Dia berbalik. Dan lari. Terus berlari. Dalam larinya, diingatnya kembali dimana didengarnya suara itu sebelumnya. Kebakaran besar yang melanda asrama pekerja, gudang dan ladang jagung Haji Toha, dua hari setelah panen setahun kemarin. Tak ada yang selamat.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5362338551847243131-4596095936939138237?l=penggilatuhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/feeds/4596095936939138237/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5362338551847243131&amp;postID=4596095936939138237' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/4596095936939138237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/4596095936939138237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/2007/12/kebun-jagung.html' title='Kebun Jagung'/><author><name>Baeda</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://farm3.static.flickr.com/2244/1572943606_f9e656de54_m.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5362338551847243131.post-3709180846397957292</id><published>2007-12-21T00:26:00.000+09:00</published><updated>2007-12-21T00:27:24.079+09:00</updated><title type='text'>Dimin</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Kantin sedang ramai. Memang, sedang waktu makan siang. Antrian masih cukup panjang. Tubuh kecil Dimin masih terjepit di antara raksasa-raksasa mantan jagal kota itu. Biasalah, kalau antrian seperti ini, Dimin pasti terjepit. Memang, nomor urut napinya ada di antara nomor napi &lt;i style=""&gt;tukul&lt;/i&gt;, tukang pukul. Mereka itu &lt;i style=""&gt;bodyguard&lt;/i&gt; para napi kelas kakap. Entah itu disengaja atau tidak, yang jelas, Dimin selalu terintimidasi kalau antrian makan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Heh, lu lagi. Bikin panjang antrian aja. Cepetan sana! Ta’ sabet kon!”, gertak &lt;i style=""&gt;Jodul&lt;/i&gt;, Joni Gundul, sambil mengibaskan tangan. Dimin segera merapat ke depan, menaruh omprengannya di meja berjalan. Koki dan tukang bagi makan, mengernyitkan dahi menatapnya. Keringat dingin mulai membahasi &lt;i style=""&gt;overall&lt;/i&gt; Dimin. Dia paling tidak bisa ditatap dingin seperti itu. Jluk! Setangkup bubur jagung sudah di omprengannya. Dua buah perkedel jagung yang kelewat matang, juga sudah ada. Terakhir, sayur asem dengan sepertiga jagung. Tergesa-gesa, dia bergeser, seraya meraih gelas minum plastik berwarna biru di akhir meja berjalan. “Hei cunguk! Itu gelasku. Ambil yang lain!”, bentak raksasa di belakangnya. Dimin mengangguk takut. Diambilnya gelas yang berwarna kuning, kemudian bergegas ke ujung kantin, tempatnya biasa makan. Dimin baru dapat bernapas lega, waktu sudah duduk di meja itu. Paling tidak, selama jam makan, dia bisa tenang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sebenarnya Dimin bukanlah penakut. Dia juga termasuk penjahat yang cukup sadis. Empat orang yang dibunuhnya dengan sabit di depan orang banyak menjadi saksi nyata kesadisannya. Hanya satu alasannya, “Mereka menginjak-injak harga diriku”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Awalnya, Dimin bekerja di kantor notaris yang mengurus surat keabsahan tanah. Bukan sebagai notaris, PPAT atau kerani? Dia hanya bertugas membersihkan seluruh ruangan, tatkala semua penghuni ruangan sudah pulang. &lt;i style=""&gt;Cleaning Service&lt;/i&gt;, istilah kerennya. Walau cuma CS, singkatan dari &lt;i style=""&gt;Cleaning Service&lt;/i&gt;, Dimin sebenarnya cukup terdidik. Lulusan terbaik SMEA di kabupatennya. Itu predikat pendidikan terakhirnya. Setelah itu, orang tua dan keluarganya angkat tangan. Akhirnya ke kota mencari peruntungan. Siapa tahu saja, saya bisa diterima bekerja di kantor sebagai juru hitung? Kan saya lulusan SMEA? Terbaik lagi, batin Dimin. Namun apa dinyana, ijazah SMEA serta piagam penghargaan Bupati, tidak mampu mengantarnya ke posisi yang diidamkannya. Menjadi CS akhirnya menjadi gantungan kehidupannya. Nasib, katanya selalu. Tapi kan saya menabung? Siapa tahu, tabunganku nanti cukup untuk sekolah lagi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Awal perjalanan hidupnya sebagai napi terjadi di suatu sore di akhir tahun keenamnya di kantor itu sebagai CS. Kala itu, kantor sudah sepi. Seingatnya hanya tinggal dia, Romi dan Musikan. Dua yang terakhir, satpam. Keduanya berpos di dekat lift. Maklumlah, kantor notaris itu hanyalah sebuah kapling kecil di lantai 12. Walau begitu, ruangan dalam kantor cukup banyak. Kalau dijumlahkan semua, termasuk dua WC dan kamar mandi, ada empatbelas ruangan. Jumlah yang cukup fantastis untuk dibersihkan seorang CS dalam waktu kurang dari empat jam. Mulai dari pukul 18.00 sampai 22.00. Itu karena pukul 22.15, seluruh kantor dalam gedung harus sudah tertutup. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Ruang pertama yang akan dibersihkannya adalah ruang pimpinan notariat, Rahman Gurning, SH.,MH. Kunci diputar perlahan. Hei, kok lampu meja pak Rahman masih menyala? Pasti dia lupa mematikannya, batin Dimin. Dinyalakannya lampu besar yang bisa menerangi seluruh ruangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Min”. Dimin terkejut. Dari balik meja, muncul pak Rahman dengan rambut teracak dan bersinglet. Lebih terkejut lagi tatkala di belakang pak Rahman, muncul seorang wanita dengan kondisi pakaian hampir sama dengan pak Rahman. Selintas Dimin memicingkan mata. Wanita ini kok sepertinya saya kenal ya?, tanya Dimin dalam hati. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Sorry, Min. Aku kira kamu tidak jadi masuk hari ini”, kata pak Rahman sambil terus memperbaiki pakaiannya. “Ngng ... saya tetap masuk pak”, jawab Dimin tak berani menatap. Lewat ekor mata, diliriknya sesekali wanita itu. Kok sepertinya wajah wanita ini familiar sekali ya? batinnya sekali lagi. Tak dirasanya, pak Rahman sudah ada di sampingnya. “Min, lanjutkan kerjamu. Aku pulang. Ingat, jangan sampai lupa kunci pintunya kalau selesai!”, kata pak Rahman tanpa senyum sambil melangkah keluar bersama wanita itu. “Saya pak!”, jawab Dimin patuh. Begitu dua makhluk berlainan jenis itu keluar dari pintu, Dimin pun mengela napas panjang. Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah ...... berulang kali Dimin beristigfar. Namun sesaat kemudian, dia teringat tenggat waktu untuk selesaikan pekerjaannya. Dimin pun mulai membersihkan. Ruang demi ruang. Kurang lima menit pukul sepuluh, seluruh kantor telah dibersihkannya. Usai bersalin, dia pun pulang ke rumah kontrakannya di bantaran kali pinggiran kota.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Dua hari kemudian, gajian datang. Seperti biasa, Dimin datang ke kantor lebih awal. Menunggu bersama-sama Romi dan Musikan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Min, kamu bakal dapat kenaikan gaji lho. Sampe 200-an ribu!” seru Musikan serius. Dimin menoleh kaget, “Ah, yang betul mas. Mas tahunya dari mana?”. Musikan tersenyum penuh misteri, “Pokoknya beneran deh. Kamu lihat saja nanti”. “Hmmm, kalo mas berdua, naik juga?” tanya Dimin. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Gak! Kita kan gak sempat mergoki bos dengan perempuan kiriman bos notariat yang di lantai 11 itu?” jawab Romi enteng. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Hush! Kamu ngomong apa sih, Mi! Yang begituan gak dicerita sembarangan!” sikut Musikan. Romi merengut. Dimin mulai ingat dimana pernah dilihatnya wanita itu. Beberapa minggu lalu, waktu Dimin baru saja akan memulai pekerjaannya, dilihatnya ada rapat yang masih berlangsung di ruangan pak Rahman. Pintunya terbuka sejengkal, sehingga Dimin dapat langsung melihat siapa-siapa yang ada dalam ruangan. Ada empat orang. Dua orang berstelan jas lengkap, pak Rahman dan seorang wanita. Seorang dari yang dua tadi, dikenalnya sebagai pimpinan notariat di lantai 11. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Begini pak Rahman, kalau Bapak dengan senang hati dapat bergabung dengan kami, pastilah karir Bapak bakal melonjak. Pak Rahman kan tahu, kami menangani kasus-kasus besar!” bujuk pimpinan notariat lantai 11 itu. Pak Rahman tersenyum. Dia mengangguk yakin. Mereka pun bersalaman. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Gampanglah itu pak Rahman. Diatur saja. Kalau para pemegang saham itu masih gak mau gabung juga, carikanlah jalan supaya mereka mau. Terserah Bapaklah. Ya?”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Itulah fragmen yang mengingatkannya akan wanita itu. Wanita itulah yang bersama pak Rahman dua hari lalu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Benar kata Musikan, gaji Dimin naik 200-an ribu. Alhamdulillah. Tabunganku bisa nambah lagi, syukur Dimin. Memang, walau sudah enam tahun bekerja, gaji Dimin belum pernah dinaikkan. Tapi apa karena kejadian hari itu? Ah, memang sudah waktunya gaji saya dinaikkan, batin Dimin akhirnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sebulan setelahnya, peristiwa itu pun terjadi. Bermula tatkala Dimin mendengar dari Romi, kalau kantor akan ditutup. Segala aset akan dialihkan ke kantor notaris yang ada di lantai 11. Sekejap Dimin terpaku. Kok seperti yang pernah dicuri-dengarnya dulu waktu itu? Apa orang-orang itu beneran mau membeli notariat ini? tanya Dimin dalam hati. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Mas, kenapa bisa bangkrut? Setahu saya, kantor ini kan aman-aman saja. Malah banyak kasus-kasus yang masuk?” tanya Dimin ke Romi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Anu Min. Katanya ada dokumen yang hilang. Dokumen itu merupakan bukti pemilikan tanah yang sangat luas di sekitar Tangerang. Nah, dokumen itu katanya menjadi taruhan kelangsungan hidup kantor ini. Seperti jaminanlah, kalau di Pegadaian. Kalau sampai hilang, maka kantor ini harus bertanggung jawab sepenuhnya. Terus, setelah dihitung, ternyata segala nilai dan harga kantor ini, masih kurang dibandingkan dengan harga tanah itu. Makanya kantor ini dinyatakan bangkrut. Gitu Min!”, jelas Romi panjang. Dimin mengangguk mengerti. Ketika akan beranjak ke gudang CS, tangannya dipegang Romi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Eit ... ada lagi Min. Ini ada surat dari bos. Dia tadi nitip ke aku untuk diserahkan ke kamu. Nih”, kata Romi sambil menyodorkan surat ke Dimin. Karena rasa ingin tahu, Dimin segera membuka surat itu. Surat itu cukup pendek. Pelan dibacanya dalam hati. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Yang terhormat Sudimin. Seperti yang kamu ketahui, kantor ini memerlukan pembiayaan yang lebih baik untuk berkembang. Untuk itu, kantor ini harus bergabung dengan kantor lain yang lebih bonafid. Tapi kami memerlukan kamu untuk jadi sebab. Kamu akan kami tuduh menghilangkan dokumen penting kantor, sampai-sampai kantor ini bangkrut karenanya. Jangan takut, paling-paling kamu akan dipenjara setahun, mungkin kurang. Namun, yang jelas kamu akan kembali kami pekerjakan di kantor yang baru. Itu lho, kantor yang di lantai 11. Nanti setelah kerja di sana, gajimu akan dinaikkan berlipat-lipat dari sekarang. Aku janji deh! Ok ya? Trims. Rahman”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Mata Dimin memerah. Serasa timah panas dijerang di ubun-ubunnya. Tanpa banyak kata-kata, dilakukannya semua pekerjaannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Esoknya, Dimin datang siang hari. Romi dan Musikan tidak curiga sama sekali. Mungkin ada yang harus dilakukannya, berkenaan dengan surat dari pak Rahman yang kemarin, pikir mereka. Apa yang mereka pikirkan, benar adanya. Hanya saja tidak senegatif apa yang akan Dimin lakukan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Dengan muka merah, Dimin masuk tanpa ketuk. Dihampirinya pak Rahman, yang sedang memimpin rapat. Diraihnya sabit dari dalam tas jinjing yang dibawanya sedari tadi. Diayunkannya ke leher pak Rahman. Bet! Darah mengucur deras. Tak ada suara. Semua peserta rapat terpaku ditempatnya. Tak ada yang berani menolong pak Rahman yang sudah rubuh bersimbah darah. Ditatapnya mata pak Rahman lekat-lekat dengan benci. Setelah puas, dibalikkannya tubuhnya keluar ruangan. Orang-orang yang dilewatinya tak ada yang bersuara. Semuanya terdiam. Sabit berlumuran darah masih digenggamnya. Dimin turun ke lantai 11 lewat tangga darurat. Kantor notaris yang dipimpin orang berstelan jas itu, dimasukinya. Juga tanpa ketuk. Sesaat dia berhenti, kemudian melangkah ke ruangan berdinding kaca di sebelah kiri pintu besar. Dalam ruangan itu ada tiga orang yang dulu pernah dilihatnya di ruangan pak Rahman. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Dua orang berstelan jas dan wanita itu. Mereka sepertinya sedang bercengkrama sambil minum-minum. Dimin menendang pintu. Sambil melompat, diayunkannya lagi sabitnya. Pertama ke arah pimpinan kantor. Kedua, ke arah teman pimpinan kantor. Keduanya segera roboh bersimbah darah. Wanita itu berteriak histeris. Namun hanya sekali. Lima detik kemudian, dia pun jatuh dengan darah membanjiri blusnya. Napas Dimin yang semula memburu, perlahan-lahan mulai mereda. Tubuhnya mulai terasa lelah teramat sangat. Sabit penuh darah masih digenggamnya. Lututnya melemas. Matanya nanar. Perlahan tubuhnya melunglai. Sesaat kemudian, Dimin terjatuh. Hilang kesadaran. Pingsan. Masih dengan sabit di tangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Hei buluk! Lo duduk di tempat gue! Minggir sana!”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Dimin tersentak sadar dari lamunannya. Di depan mejanya sudah sedemikian banyak tubuh besar berdiri. Seperti menantang. Jodul yang tadi membentaknya, berdiri paling dekat dengan mejanya. Dimin tertunduk. Diingatnya lagi betapa seringnya dia diperlakukan seperti itu. Sudah sejak hari pertamanya di LP. Bayangkan! Empat tahun dengan setiap harinya dianggap sampah oleh orang-orang yang juga sampah masyarakat. Darahnya mulai mendidih. Dikepalkannya tangannya, mencoba menenangkan diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Cepetan minggir!” bentak Jodul lagi. Lepas bentakan itu, Dimin loncat. Dicengkeramnya leher Jodul dengan kuat. Titik simpul saraf di antara telinga dan tulang rahang lelaki raksasa itu, ditekannya kuat-kuat. Akhirnya, Jodul jatuh berlutut. Lemas tanpa ada perlawanan berarti. Sendok yang sedari tadi masih dipegangnya, diarahkannya ke mata Jodul. Dimin pun berteriak lantang ke arah serombongan raksasa-raksasa lainnya, “Hei, saya Dimin. Saya bukan cecunguk-cecunguk seperti kalian. Tukang tindas sesama demi uang. Saya juga bisa kejam. Mata temanmu ini pasti bisa jadi saksi”. Tak ada suara. Semuanya berhenti makan. Menatap takut ke arah Dimin. Sampai-sampai ada yang kencing celana, termasuk Jodul yang masih tergeletak tak ada daya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;“Ampun Min. Aku cuman main-main kok”, kata Jodul terbata-bata menahan sakit. Cengkeraman Dimin melonggar. Dihelanya napas panjangnya berulang-ulang. Diingatnya kembali peristiwa itu. Dua jenak kemudian, leher Jodul pun dilepasnya. Sendok itu pun sudah dibuangnya ke lantai. Dimin pun berdiri tegak. Ditatapnya muka mereka satu persatu. Terpancar ketakutan yang amat sangat dari mata mereka. Dimin tertunduk lagi. Dirasakannya beban itu sekali lagi. Bukan tatkala sabit itu diayunkannya berkali-berkali, namun saat darah sudah melingkupi seluruh permukaan sabit. Walau berat, Dimin kembali menegakkan kepalanya, tidak lagi tertunduk lesu. Dia berjalan tegap keluar kantin. Seluruh mata tanpa kedip menatap setiap langkahnya. Tiba di luar, ditolehnya ke arah kanan. Lima belas meter dari tempatnya berdiri sekarang, ada gerbang. Besar, tinggi dan kokoh. Gerbang menuju dunia bebas. Gerbang yang ingin sekali dilewatinya enambelas tahun lagi. Insya Allah, senyum Dimin penuh arti.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5362338551847243131-3709180846397957292?l=penggilatuhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/feeds/3709180846397957292/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5362338551847243131&amp;postID=3709180846397957292' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/3709180846397957292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/3709180846397957292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/2007/12/dimin.html' title='Dimin'/><author><name>Baeda</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://farm3.static.flickr.com/2244/1572943606_f9e656de54_m.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5362338551847243131.post-5950756480407739104</id><published>2007-12-21T00:23:00.000+09:00</published><updated>2007-12-21T00:26:08.680+09:00</updated><title type='text'>Andani dan Irwan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Andani melongok ke dalam dompetnya. Tiga lembar lima puluh ribuan dan selembar duapuluhan. Sudah tanggal limabelas, pertengahan bulan. Ah, kenapa Gayah baru beritahu aku sekarang?, batinnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Dibacanya sekali lagi surat istrinya itu. &lt;i style=""&gt;Imah butuh duaratus ribu supaya bisa ujian kenaikan kelas, Dan. Kalau tidak, dia bisa tinggal kelas karena tidak ujian&lt;/i&gt;. Begitu tulis Rugayah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sekali lagi dilongoknya dompet. Cuman seratus tujuhpuluh. Kalaupun semuanya dikirimnya ke kampung, jumlahnya belum lagi cukup. Ah Gayah, dimana lagi harus kucari tambahan uang?, rintihnya resah. Dihelanya napas panjang. Langit Jakarta di bulan Juli yang penuh asap, ditatapnya nanar. Ingatannya melintas tatkala Imah lahir, walau dengan upah menggergaji kayu di usaha mebel Haji Abdullah yang hanya tiga puluh ribu perbulan, dia mampu membuat kenduri kecil-kecilan di gubuknya. Seekor kambing yang lumayan gemuk menjadi saksinya. Tapi itu sepuluh tahun lalu. Sekarang gajinya sudah lima kali lipat dari yang dulu. Belum lagi kalau lembur sampai jam sepuluhan malam. Rata-rata bisa dapat duaratus limapuluh sebulan. Tapi ini sudah tanggal limabelas. Ah Gayah, kenapa baru beritahu aku sekarang? rintih Andani membatin. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sebenarnya SPP Imah yang sudah di kelas lima SD, tidak sebanyak itu. Tapi Rugayah tidak pernah mau memberatkan suaminya. Dia tahu, suaminya hanya bergaji sedikit. Makanya tiga tahun lalu, diputuskannya untuk berjualan kue-kue di terminal. Walau tidak banyak, tapi cukuplah meringankan. Tapi sejak terminal itu pindah menjauh, jumlah kue-kue yang laku menurun drastis. Sopir-sopir dan portir-portir yang rajin membeli dagangannya, tidak ada lagi. Pernah dicobanya untuk berjualan depan SD Imah, namun gagal juga. Malah kue-kuenya banyak yang basi, karena sering dijual sampai lebih sehari. Akibatnya Imah, anaknya semata wayang itu, harus menunggak SPP hampir setahun. Kalau seandainya tidak lagi terbayar, entah bagaimana lagi. Tapi kalau sampai tidak terbayar, Gayah yakin Imah bakal jadi seperti dia. Hanya tahu disuruh, tanpa bisa menjadi penyuruh. Mungkin malah hanya akan tahu dua UR, dapur dan kasur. Gayah tak akan pernah mau itu terjadi. Makanya diberanikannya menulis surat itu ke suaminya. Paling tidak, Andani akan mencarikan jalan yang kemungkinan Gayah tidak tahu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun sekarang, di halte bus itu, Andani masih duduk lemas sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Belum bisa menemukan jalan itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Waktu berlalu. Dhuhur tiba. Andani masih di halte. Duduk berpayung atap-atap bocor, bersama empat orang lainnya. Seorang di antaranya sejak setengah jam lalu, selalu melirik ke Andani. Orangnya sedang-sedang, baik tinggi maupun lebar badannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Hai kawan. Kamu dalam kesulitan ya?”, ujarnya sopan membuka pembicaraan. Andani menoleh, kemudian mengangguk pelan. “Soal uang ya?”, lanjutnya lagi. Andani mengangguk lagi. Kali ini tidak lagi menoleh, malah semakin menunduk. “Aku bisa membantumu kawan. Di ranselku ini, ada uang. Banyak. Banyak sekali. Bisa kamu pakai untuk apa aja. Mobil dan rumahpun bisa kamu beli. Tidak perlu pinjam. Kamu hanya perlu memban ...”. Andani menoleh keras. “Saya memang butuh uang. Tapi saya bukan pengemis. Saya hanya butuh pinjaman. Insya Allah, bulan depan saya lunasi. Bapak cukup berikan alamat, saya akan antarkan pinjaman itu”, kata Andani sungguh-sungguh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Orang itu tersenyum ramah. Diambilnya tempat di samping Andani. Diraihnya tangan Andani. “Namaku Irwan, kawan. Kamu?”, tanyanya. Andani tersenyum menimpali sambil menjabat tangan yang tersodor kepadanya, “Saya Andani”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Andani, nama yang bagus. Kalaupun aku nanti berkeluarga, punya anak, nama itu pasti menjadi pilihan utamaku”, kata Irwan bersohor. Andani cuma tersenyum getir. Diingatnya cerita ibunya perihal namanya itu. Seorang yang berhasil menggagalkan perampokan begundal-begundal PKI di kampungnya semasa era 50-an mengilhami ayahnya untuk menamainya Andani. Namun menurut cerita, Andani itu kemudian tewas oleh pistol sahabatnya sendiri yang telah berubah menjadi antek PKI. Kematian yang tragis.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Begini Andani. Kamu kan butuh uang. Aku tidak perlu tahu berapa yang kamu butuh. Satu juta? Sepuluh juta? Seratus juta? Atau berapa saja? Yang penting uang, maka aku akan memberimu uang. Tidak perlu kamu pinjam. Cukup kamu bantu aku untuk selesaikan satu masalah. Ah, bukan masalah sebenarnya. Hanya satu kerjaan kecil. Bagaimana?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Ah pak Irwan. Saya ini orang kecil. Uang sejuta juga belum pernah saya lihat, apalagi pegang. Saya juga tidak butuh banyak. Cuman 50 ribu. Itupun saya hanya mau pinjam. Insya Allah akan saya kembalikan bulan depan. Kalau memang ada kerjaan yang saya bisa bantu, monggo pak. Aku insya Allah bisa membantu. Tinggal bilang apa kerjaannya pak”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Irwan melongo. Mulut di bawah kumis acaknya, menganga. Dalam hatinya dia membatin, kok ada orang yang lugu kayak ini? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Nggak Andani. Sekali lagi kamu gak perlu pinjam. Jumlahnya juga tidak akan segitu kecil. Masa’ sih aku ngasih kamu hanya 50 ribu? Itu kan penghinaan! Gak, aku akan ngasih kamu seratus juta. Kamu cuma perlu naruh barang ini di pasar itu. Di jalan masuknya itu lho. Bagaimana?”, bujuk Irwan sambil memperlihatkan bungkusan coklat rapi dalam kantung plastik yang dijinjingnya sedari tadi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Wah pak Irwan. Sekali lagi maaf. Bukannya saya gak mau kerja, tapi uang seratus juta yang entah gimana bentuknya itu, kan tidak seimbang dengan kerjaan saya nanti itu? Makanya pak Irwan, kalau bisa saya minjem aja. Cuman 50 ribu to’!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Irwan mulai tidak sabar. Dicobanya lagi membujuk Andani dengan uang yang lebih banyak. Tidak tanggung-tanggung. Andani ditawarinya 250 juta kontan. Andani semakin bingung. Semakin tidak mengerti mengapa Irwan berusaha membujuknya dengan uang yang lebih banyak. Karena semakin bingung, Andani yang hanya tamatan kelas 5 SD itu, mulai merasa kepalanya sakit. Pusing. Garuk-menggaruk kepala sambil mengernyitkan kening, mulai dilakoninya lagi. Tak ada suara keluar dari mulutnya. Irwan semakin tidak sabar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Ah sudahlah. Kalau kamu gak mau, ya sudah. Nanti aku cari orang lain. Masak ada orang nolak rejeki nomplok? Bodoh!”, maki Irwan sambil bergegas meninggalkan Andani. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Andani menatap punggung Irwan. Baru disadarinya kalau komentarnya membuat Irwan meninggalkannya. Cepat-cepat diburunya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Pak, jangan gitu dong. Biarlah saya kerjakan permintaan Bapak. Tapi saya memang cuman butuh 50 ribu. Untuk ongkos sekolah anakku. Cuman segitu pak. Ijinkan saya meminjam pak. Sekali ini saja. Tolong pak ....”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Muka Irwan tidak berubah. Walau sempat debar jantungnya mengeras dan hati kecilnya mengiyakan, tapi dia tetap tidak mau. Ditepisnya tangan Andani dengan keras, kemudian bergegas meninggalkan Andani. Andani pun tak mau kalah. Dalam pikirannya, mungkin hanya ini satu-satunya jalan untuk dapat membahagiakan Imah dan Gayah. Satu-satunya cara untuk menjadikan Imah tidak seperti Gayah dan dirinya, yang selalu hanya bisa ditindas oleh zaman. Akhirnya Andani berlutut, dipeluknya kaki Irwan erat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Mohon pak. Tolong saya pak. Saya tidak tahu lagi harus bagaimana. Saya harus bisa membantu anak saya pak. Bapak satu-satunya harapan saya ...”, isak Andani sambil terus memeluk kaki Irwan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Heh, sudah. Orang tidak tahu diri. Ditawari uang banyak, malah nolak. Nih, 50 ribu. Pergi sana!”, hardik Irwan sambil melemparkan selembar 50 ribu ke dekat Andani. Andani bangkit, diraihnya uang itu. Dengan cepat, disambarnya plastik tempat bungkusan itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Terima kasih pak. Saya memang orang kecil, tapi saya harus tahu berterima kasih. Saya akan laksanakan perintah Bapak. Di pasar ujung jalan itu kan? Di jalan masuknya? Insya Allah pak. Saya juga sudah janji hanya akan meminjam. Bulan depan kita ketemu lagi di sini, dan saya akan membayar hutang saya ini pak. Terima kasih pak”. Andani berjalan menjauh. Tangan kirinya menggenggam selembar 50 ribu dan kanannya menenteng plastik hitam berisi bungkusan coklat segiempat. Mulut Irwan kembali menganga. Semuanya terjadi begitu cepat. Tak dipercayanya apa yang barusan terjadi. Perlahan dua butir air menganak dari lubang di rongga matanya, menyaksikan punggung Andani yang menjauh. Irwan terisak. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Andani. Hatinya riang. Dibayangkannya Gayah dan Imah tertawa menerima uang yang akan dibawanya besok. Andani tertawa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Hari ini, sehari setelah Irwan terisak dan Andani tertawa, sebuah bom meledak di pasar. Puluhan tewas dan ratusan terluka. Orang-orang menangis. Termasuk Irwan yang sedang berjalan menjauhi pasar, menuju pos polisi di seberang jalan. Terbayang di benaknya, Andani sedang tertawa dengan istri dan anaknya di rumah. Bersyukur kepada Allah yang Maha Pemurah karena telah dipertemukan dengan orang yang memberinya pinjaman 50 ribu. Irwan tidak lagi terisak. Dia bahkan tersenyum lebar tatkala masuk ke pos polisi itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;“Saya yang meledakkan bom di pasar itu”, katanya mantap sambil memberikan tangannya untuk diborgol.&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5362338551847243131-5950756480407739104?l=penggilatuhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/feeds/5950756480407739104/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5362338551847243131&amp;postID=5950756480407739104' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/5950756480407739104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/5950756480407739104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/2007/12/andani-dan-irwan.html' title='Andani dan Irwan'/><author><name>Baeda</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://farm3.static.flickr.com/2244/1572943606_f9e656de54_m.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5362338551847243131.post-3752016461719278924</id><published>2007-12-21T00:22:00.000+09:00</published><updated>2007-12-21T00:23:43.661+09:00</updated><title type='text'>Deden Mati, Minah ....</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Dor ... dor ...”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Dua letusan pistol memecah subuh. Ini sudah kali ketiga dalam seminggu. Entah siapa lagi yang mati. Yang jelas sepertinya dari komplotan yang sama. Belakangan ini memang sering sekali terjadi penembakan-penembakan preman di daerah selatan kota. Sepertinya ada pemberantasan premanisme lagi. Masih ingat kan dengan kejadian beberapa tahun lampau di Jakarta? Tatkala mayat preman selalu ditemukan teronggok di dekat bak sampah, bawah jembatan atau bahkan di salib depan SD, dengan kepala tertembus peluru? Mengenaskan. Namun sekaligus melegakan. Buat sebagian orang tentunya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Subuh itu berbondong-bondong orang menuju belakang pasar. Seperti tak mau kalah dengan yang selainnya untuk melihat muka siapa lagi yang bakal menghiasi halaman depan surat kabar sore nanti atau berita utama di televisi. Alhasil, sebentar saja, pelataran parkir belakang pasar tradisional itu, penuh sesak dengan orang-orang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Siapa? Siapa?”, tanya beberapa orang di lingkar terluar kerumunan. Dari arah depan, terdengar suara menyahut, “Sepertinya sih si Deden. Tuh, kan ada tatto mawar di tangan kanannya. Mana lagi rambutnya yang cepak itu!” Sebentar saja, dari seluruh penjuru kerumunan, terdengar gumaman-gumaman menyebut-nyebut nama Deden. “Ah, bukan Deden deh. Kalo Deden, mestinya otaknya gak ada yang terlempar keluar! Pan Deden gak punya otak!”, timpal seseorang. Sontak orang-orang pada tertawa. Namun sebagian hanya tertawa kecut. Utamanya seorang dengan postur tinggi besar, berkumis lebat, memakai pet dan berjaket kulit. Mukanya terlihat gelisah. Perlahan diingsutkannya tubuh besarnya keluar dari kerumunan, kemudian berjalan tergesa ke arah utara pasar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Tak lama dia berjalan. Kira-kira dua ratus meter dari pasar, dia berbelok ke kanan, menuju pemukiman kumuh di seberang bantaran kali. Pada rumah kelima dari ujung gang ke tiga dari perempatan, dia berhenti. Rumah tua berdinding kusam. Dibukanya pintu perlahan, seperti tak ingin ada yang terbangun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Dari mana Bang? Kata mang Ujang, ada yang mati lagi ya? Di mana?”, tanya seorang perempuan berkain sarung dengan kaos tanpa lengan, dari dipan di dekat jendela. “Iya. Si Deden”, sahut si tinggi besar sambil melongok ke luar jendela. “Lho? Kang Mahdi, Deden ponakanmu?”, tanyanya lagi dengan nada tinggi. Mahdi menatap marah Minah, istrinya,”Ya iya! Deden siapa lagi yang aku kenal di sini kalo bukan Deden ponakanku? Sudah, jangan banyak tanya lagi. Urus anakmu sana. Mereka sebentar lagi bangun. Hari ini kan mereka sekolah?” Minah tertunduk. Dia tahu, pikiran suaminya sementara kalut. Bagaimana caranya membawa pulang Deden ke Banten, sementara untuk makan saja sulit. Atau jangan-jangan .......&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Kang! Jangan marah. Minah hanya tanya. Kalau memang sulit membawanya pulang ke kampung, kenapa tidak dikabari saja Bapak dan Ibunya. Biar mereka yang datang ke sini. Kalau begitu, kan Kang Mahdi bisa menghemat biaya pemakaman Deden?” bela Minah. Mahdi hanya bisa menatap istrinya nanar. Kegundahan jelas terpatri di matanya. Terbayang Deden sewaktu kecil dalam pangkuannya. Apalagi ketika diajaknya Deden ke kota untuk mengadu nasib sebagai kuli bangunan di proyek-proyek. Sebenarnya Lijah, ibu Deden, sudah melarangnya. “Eh Lijah, mana mungkin atuh anakmu kutelantarkan? Percayalah, anakmu akan sukses di kota bersamaku”, teguh Mahdi waktu itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Mahdi semakin tertunduk. Satu demi satu, air matanya jatuh. Minah hampir tak percaya melihatnya. Sejak Umay, anak perempuan mereka yang pertama, lahir, tidak pernah lagi disaksikannya suaminya itu menangis. Perlahan didekatinya Mahdi. Dipeluknya hangat bahu suaminya. Dirasakannya getaran hebat di dada Mahdi. Membuatnya semakin mempererat dekapannya. Tiba-tiba Mahdi berontak. Dilepaskannya dekapan Minah. Ditatapnya mata istrinya itu nanar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Aku .... aku yang membunuh Deden, Minah. Walau bukan aku yang menarik picu pistol yang memuntahkan peluru menembus kepalanya, tapi aku yang memberitahu mereka kalau ada sekelompok orang yang menolak pindah dari pasar. Aku yang memberitahu tempat kumpul-kumpul anak-anak pasar itu. Kuberitahu juga kalo Dadang yang menjadi pimpinan anak-anak itu. Kamis lalu, Dadang mati. Kemudian Soleh. Sekarang .... sekarang Deden. Kenapa mesti Deden, Minah? Kenapa? Anak itu belum tujuh belas! Tatto itupun baru dua minggu lalu dibuatnya. Ah ..... kenapa mesti Deden .....”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Minah terperangah. Apa hubungannya Mahdi dengan pembunuh Deden? “Mereka itu siapa Kang?”, tanya Minah heran. Mahdi kembali menatap istrinya. Kali ini dengan muka ketakutan. Dilongoknya jendela, lalu ditutupnya rapat-rapat. Pintu pun demikian. Setelah merasa aman, didekatinya istrinya, “Jangan kau keras-keras bicara Minah. Mereka ada dimana-mana. Kalau mereka mau, kita dengan gampangnya dibunuh. Tak ada yang bakal protes”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Minah bertambah heran. Namun sebelum Minah kembali bertanya, Mahdi sudah menjawab duluan, “Mereka menginginkan pasar itu pindah. Mereka mau menggantikan pasar itu dengan pusat pertokoan sebesar mal. Mereka sudah pernah mencoba membakar paksa pasar, namun komplotan si Dadang dapat mematikan apinya. Bahkan sempat menghajar anak buah mereka sampai parah. Namun mereka tidak sempat mengenali siapa-siapa di komplotan si Dadang itu. Akupun diminta untuk memberikan gambaran fisik mereka satu persatu serta dimana mereka sering mangkal. Kebetulan, waktu itu anak-anak butuh pakaian dan uang sekolah, tapi aku tak punya uang. Mereka pun menawarkan bantuan untuk menutupinya. Aku terima, aku terima uang itu Minah! Tak pernah kusangka mereka akan sejauh itu bertindak. Aku salah Minah ...... salah ..... penjahat aku ini. Pembunuh .......”. Mahdi menangis terduduk di lantai. Minah pun ikut duduk. Menyapu punggung suaminya dengan kasih, “Sudahlah, yang penting kan bukan Kang Mahdi yang membunuh .......” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sekonyong-konyong pintu diketuk. Minah kaget. Bangkit dan langsung membuka pintu. Disangkanya orang-orang yang membawa mayat Deden.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Selamat pagi. Kami dari Kepolisian. Apakah bapak bernama Mahdi?” tanya polisi berseragam lengkap sopan. Mahdi mengangguk. “Kami punya surat penangkapan saudara. Saudara Mahdi, anda didakwa telah mengadakan pembunuhan terencana atas saudara Dadang dan Soleh. Kami akan membawa saudara ke markas untuk pengambilan keterangan lebih lanjut”. Minah tersentak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Tanpa uzur, dari arah ruang tengah muncul Umay menenteng sesuatu sambil menggosok-gosok matanya, “Abah, ini teh pistol siapa?” Mahdi menoleh lirih ke Minah, “Maafkan aku Minah. Tapi bukan aku yang membunuh Deden”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;Minah pun pingsan.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5362338551847243131-3752016461719278924?l=penggilatuhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/feeds/3752016461719278924/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5362338551847243131&amp;postID=3752016461719278924' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/3752016461719278924'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/3752016461719278924'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/2007/12/deden-mati-minah.html' title='Deden Mati, Minah ....'/><author><name>Baeda</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://farm3.static.flickr.com/2244/1572943606_f9e656de54_m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5362338551847243131.post-4977614680380550693</id><published>2007-12-21T00:21:00.000+09:00</published><updated>2007-12-21T00:22:36.352+09:00</updated><title type='text'>Obrolan Dua Guling</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Pak Suminta baru saja beristri kembali, setelah hampir empat tahun ditinggal mati istrinya. Memang, tanpa anak dan usia yang masih tergolong muda membuatnya harus berusaha untuk mencari istri lagi. Paling tidak, urusan dapur dan kasur, tidak membuatnya kelimpungan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Alhasil, setelah mencari hampir setengah tahun, didapatkannya orang yang mau menjadi istrinya. Lilis namanya. Seorang pegawai bank dengan penghasilan lebih dari cukup. Pokoknya, hampir sebaik posisi dan gaji pak Suminta sebagai pegawai perusahaan swasta, dengan tingkatan manajer operasional. Dengan kata lain, urusan dapur tidak bakalan menjadi halangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Setelah urusan adat dan lainnya selesai, maka terselenggaralah pernikahan kedua pak Suminta dengan perawan tingting bernama Lilis itu. Resepsinya cukup meriah. Dihadiri banyak handai tolan serta kerabat dan teman-teman sejawat mereka. Semuanya, paling tidak, hampir semuanya merasa bahwa memang sudah sepantasnya pak Suminta mempersunting Lilis dan demikian pula sebaliknya. Pokoknya, &lt;i style=""&gt;all out&lt;/i&gt;, tidak ada masalah yang akan menghalangi perjalanan kehidupan mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Pesta usai, tibalah malam pertama mereka. Pak Suminta yang memang sudah pernah menikah, bertindak sebagai guru yang dengan sabar membimbing istrinya, yang memang masih tingting. Malam itu mereka jalani dengan baik dan penuh dengan rona kepuasaan dari keduanya. Lilis menangis haru tatkala semuanya usai, dengan kesadaran bahwa kehidupannya sudah berubah dengan status sebagai istri, di atas kertas dan juga di atas kasur. Sementara pak Suminta, sujud syukur kepada Tuhan, karena ternyata dia telah dikaruniai lagi istri yang akan bersamanya menghadapi segala tantangan kehidupan di hari depan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Hari demi hari berlalu. Bulan demi bulan. Akhirnya tak terasa, sudah setahun mereka bersama dalam mahligai perkawinan. Namun, walau keduanya masih cukup muda, mereka belum dikaruniai anak. Keduanya kemudian berusaha mencari jalan lain. Mulailah mereka berkonsultasi dengan dokter. Ikut terapi kehamilan. Malah sesekali jalan-jalan ke dukun-dukun untuk mencoba alternatif lain. Namun memasuki tahun ketiga, anak tak kunjung tiba. Pada saat bersamaan, perusahaan swasta tempat pak Suminta bekerja, mengadakan perluasan daerah kerja dengan membentuk cabang-cabang di beberapa kota yang berpotensi menjadi pusat domisili klien. Pak Suminta, sebagai manajer operasional, dituntut untuk bekerja ekstra. Hasilnya, kadang hanya dua hari dalam seminggu dia bisa pulang dan bermalam di rumahnya. Demikian pula halnya Lilis. Bank swasta tempatnya bekerja mengadakan peremajaan pekerja. Beberapa pegawai yang tidak mampu lagi bekerja seiring dengan misi dinamis perusahaan, terpaksa dirumahkan; sehingga karyawati rajin, teguh dan ulet seperti Lilis akhirnya ketiban durian runtuh. Dia dinaikkan menjadi manajer umum perkreditan. Sungguh suatu jabatan yang cukup bergengsi. Namun konsekwensinya, setiap hari dia harus pulang paling lambat. Jadilah Lilis menjadi tukang kunci pagar rumah kalau tengah malam tiba. Malah terkadang, suaminya lebih duluan tiba di rumah. Sudah ngorok lagi. Akhirnya setelah tahun ketiga usai, pertemuan mereka hanya terjadi sesekali saja dalam sebulan. Sungguh sebuah cerita mengenaskan”, akhir si Guling Kanan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Hei hei, sudah-sudah itu ceritamu Kanan”, potong Guling Kiri. Guling Kanan yang sedari tadi bercerita dengan lantang, lugas dan penuh ulasan-ulasan, menoleh ke kiri, terus menimpali, “Ini juga sudah selesai. Emangnya ada cerita lain? Pan sekarang kita sudah bekerja lagi. Dulu, waktu majikan kita, pak Suminta ini masih beristrikan Dewi, kita kan tidak pernah terpakai? Mana pernah mereka butuh kita? Meluk kita? Wong mereka itu, begitu naik ke ranjang, langsung pelukan. Syukur-syukurlah mestinya kita sekarang. Jadi, jangan marah begitu kalo aku kepanjangan ceritanya”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Si Kiri tepekur, “Benar juga katamu ya? Selama majikan kita beristri kembali, kita malah jadi berfungsi. Tapi apa mereka seneng meluk kita gak ya?”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Belum habis obrolan keduanya, pak Suminta dengan muka lusuh dan loyo masuk ke kamar, langsung naik ke ranjang dan mengambil si Kiri. Dia baru saja menyelesaikan harinya yang melelahkan dan penuh rapat-rapat. Terasa seluruh tubuhnya dirampas waktu dan orang-orang. Akibatnya, kepalanya lelah, kedua tangan dan kakinya capek serta seluruh indranya tak punya daya lagi untuk mencerna keadaan lingkungan. Dimana pun lingkungan itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Tak lama kemudian menyusul Lilis, dengan tubuh kepayahan dan kelelahan yang amat sangat, juga langsung mengambil si Kanan. Bank swasta tempatnya bekerja memang telah menghadiahinya jabatan penting dan bonafid. Namun seharian tadi, segala kemampuannya diuji dengan membludaknya kendala kreditur yang bermasalah dan memacetkan &lt;i style=""&gt;cash flow&lt;/i&gt; bank secara global. Akhirnya, segala kecerdikan, kemampuan bernegosiasi serta ketahanan tubuh akan deraan fisik maupun psikis, membuatnya kecapekan. Pukul 10.25 malam, baru dia dapat mengunci pintu gerbang rumahnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sekarang, keduanya ada di atas ranjang. Beradu punggung. Tanpa suara. Hening. Bahkan suara napas mereka sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sepuluh menit, duapuluh; mendekati setengah jam, mulai terdengar isak kecil. Perlahan-lahan mengeras dan semakin mengeras. Lilis berbalik. Ternyata pak Suminta sudah berbalik juga. Mereka saling menatap dan bertaut mengeratkan. Berkaca-kaca. Seperti berusaha saling memahami kesedihan, kegalauan, dan kelelahan yang selainnya. Perlahan dan pasti keduanya melepaskan Kanan dan Kiri. Kemudian saling berdekapan. Bertangisan. Keduanya bercerita dengan isak dan debaran jantung. Keikhlasan dan kelegaan hati membekap keduanya lembut. Seperti tak mau lepas. Seakan tak akan pernah mau melepas lagi. Selamanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;Kanan dan Kiri serempak berguman, “Yah .... Kita di PHK lagi deh!”&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5362338551847243131-4977614680380550693?l=penggilatuhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/feeds/4977614680380550693/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5362338551847243131&amp;postID=4977614680380550693' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/4977614680380550693'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/4977614680380550693'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/2007/12/obrolan-dua-guling.html' title='Obrolan Dua Guling'/><author><name>Baeda</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://farm3.static.flickr.com/2244/1572943606_f9e656de54_m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5362338551847243131.post-1167227728637773224</id><published>2007-12-21T00:18:00.000+09:00</published><updated>2007-12-21T00:20:20.610+09:00</updated><title type='text'>Somat</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Suara keras itu mengagetkan tidur semuanya. Berebutan lari ke luar huma. Langit memerah. Dua ratus meter dari huma, api berkobar hebat. Melingkupi sesuatu di atas sawah yang baru saja mereka tanami. Mereka berlari lintang pukang mendekati pusat api. Dada Somat berdegup kencang. Entah mengapa, malam ini serasa pernah dialaminya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Tak lama berlari, di pematang ada seonggok tubuh manusia. Sudah tidak utuh lagi. Semakin mendekat, semakin banyak tubuh manusia. Ada juga yang masih utuh. Seperti pasukan penyelamat terlatih, Somat dan kawan-kawannya segera berpencar. Memeriksa satu demi satu tubuh-tubuh yang tersebar. Dari arah selatan, terlihat Simin dengan beberapa orang kawannya, juga telah datang. Dua kawanan petani penggarap itu tahu persis lekak lekuk sawah Haji Umar yang baru saja mereka tanami. Makanya, tidak ada satupun tubuh manusia yang terlewatkan oleh mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Api masih berkobar hebat, utamanya di patahan tengah. Pesawat naas itu cukup besar. Waktu jatuh, tubuhnya patah tiga bagian. Sementara kedua sayap, tempat tangki bahan bakar, juga patah. Semuanya tersebar di hamparan sawah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Setengah jam kemudian, Somat sudah tiba di bagian belakang pesawat. Dilihatnya seorang pramugara sedang memapah seorang ibu hamil. Cepat-cepat dibantunya. Setelah membawanya ke pematang, Somat kembali mencari orang yang bisa ditolong. Degupan jantungnya masih sangat kencang. Sembari tangan kekarnya memanggul tubuh demi tubuh, memori otaknya bekerja ekstra keras pula. Dirasakannya kejadian ini bukan pertama kali baginya. Ada penggalan memori tentang guncangan hebat, sawah hijau memerah karena darah, potongan-potongan tubuh, bahkan sayap yang patah dan terbakar. Diingatnya dirinya keluar dari pesawat dengan menangis meraung-raung. Entah karena sakit atau apa. Ketika kenangan itu hendak menjelas, pundaknya ditepuk Simin dari belakang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Mat, sampeyan sudah selesai nyisir bagian belakang?” Somat menggeleng. Sedetik kemudian, mereka sibuk kembali. Satu demi satu orang yang selamat ataupun tidak, mereka angkut ke pematang. Tak terasa, hari menjelang subuh. Ratusan tubuh, bernyawa ataupun tidak, sudah mereka evakuasi dari bangkai pesawat. Api sudah hampir padam. Petugas-petugas kesehatan sudah mulai mengangkut korban. Somat masih terus membantu. Mengangkuti korban dari pematang ke samping jalanan, tempat ambulans dan truk dari perusahaan batu bata Haji Hidir parkir menunggu, untuk membawa mereka ke puskesmas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Tak lama, dari arah timur, suara azan terdengar. Somat menyeka peluhnya. Dilihatnya tangannya yang berlumurah darah dan lumpur. Memori itu kembali lagi. Diingatnya, kala itu tangannya juga penuh lumpur dan darah. Entah darah dari mana. Yang jelas, dia hanya bisa menangis dan menangis. Tak dirasakannya sakit apapun. Hanya bingung. Lalu menangis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Mat, shalat dulu”. Somat kembali tersadar. Memori itu hilang lagi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Setengah enam pagi. Langit mulai terang. Samar-samar bangkai pesawat mulai tampak memutih di tengah hamparan sawah. Korban yang selamat tinggal beberapa orang saja yang belum terangkut. Namun semuanya sudah ada di pinggir jalan. Di pematang, tinggal tubuh-tubuh tak bernyawa. Puluhan jumlahnya. Somat hanya bisa memandang miris. Rasa capek mulai menggelayut. Dipijitnya pelan bahu kanannya. Somat meringis. Memori itu kembali lagi. Diingatnya, kala itu bajunya robek. Dari bahu itu keluar darah. Kental. Tapi bukan rasa sakit yang membuatnya menangis. Tapi sedih yang dalam. Seperti tak ada lagi yang tersisa. Seperti dirinya ditinggalkan semua orang. Memori itu menjelas lagi. Diingatnya pula warna baju dan celana pendeknya. Terus mainan superman dan batman dalam tas jinjingnya. Terus topi pandan yang dibelikan ibu sewaktu di bandara. Ibu? Somat meradang. Matanya sembab. Diingatnya wajah ibunya. Cantik dan ayu. Diingatnya dekapan ibunya tatkala pesawat mulai berguncang keras. Rasa takut menggelayut berat. Somat melemas. Jatuh berlutut di pinggir jalan. Memori itu jelas sekarang. Antara senang dan sedih mengenang ibunya, Somat menangis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Berhari-hari Somat merenung. Semua memorinya telah jelas. Dua windu lalu, tatkala berusia empat atau lima tahun, pesawat Somat dan ibunya jatuh di sawah dekat bukit. Ibunya tewas, sementara Somat ditolong Mak Lijah. Selama bertahun-tahun Mak Lijah mengasuhnya, menyekolahkannya sampai tamat SMA. Namun apa mau dikata, Somat harus kembali ke sawah, lantaran tidak ada biaya lagi. Dua tahun lalu, Mak Lijah meninggal dunia. Perempuan tua itu memang tidak pernah menikah, membuat Somat mewarisi semua hartanya. Rumah beserta isinya dan sepetak kecil kebun di lereng bukit. Olehnya, Somat merasa cukup bahagia. Namun beberapa hari belakangan ini, Somat mulai berpikir akan egoistisnya Mak Lijah. Kalau memang hanya ibunya yang tewas, bagaimana dengan ayahnya? Jangan-jangan pesawat itu sementara menuju ke kota tempat di mana ayahnya menunggu dia dan ibunya. Rasa sayangnya ke Mak Lijah, turun. Sampai-sampai semua foto-foto Mak Lijah, yang dulunya terkenal sebagai dukun beranak jempolan, disimpannya dalam koper di bawah ranjang. Tak sudi dilihatnya lagi. Rasa benci yang sedari dulu tak pernah ada, mulai muncul di sudut kalbunya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Siang sudah hampir habis, tatkala bangkai terakhir pesawat naas itu, diangkat ke pinggir jalan. Kemudian diderek naik ke atas truk, lalu dibawa ke kota. Somat juga ada di situ. Haji Umar juga. Oleh perusahaan penerbangan pesawat itu, dia diberi ganti rugi cukup besar. Sangat cukup, sampai-sampai melampaui lima kali hasil panen. Namun orang perusahaan itu berpesan, kalau ada barang penumpang pesawat yang didapat, segera menghubungi dia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sesaat setelah truk itu menghilang di tikungan, orang-orang mulai bubar. Sesaat sebelum pergi, ujung mata Somat melihat sesuatu di dekat pematang. Diraihnya pelan. Sebuah tas kecil. Somat melihat sekeliling. Takut ada yang melihat. Tapi orang-orang sudah tidak ada. Merasa aman, Somat berlari ke huma. Dalam huma, dibukanya tas itu. Ada pulpen, buku kecil yang penuh dengan catatan, dua ikat uang, beberapa kartu bank, kartu nama dan foto-foto berukuran kartu. Rasa senang mendekati serakah mulai menyentuh ubun-ubunnya. Apa lagi tatkala sadar kalau uang itu cukup untuknya membuka usaha bengkel motor. Namun hanya sebentar. Mak Lijah memang pengasuh yang sangat baik. Jiwa-jiwa kejujuran tidak pernah lepas dari ajarannya ke Somat. Perlahan dimasukkannya semua barang itu kembali. Barang ini harus kukembalikan ke pemiliknya, tegas Somat dalam hati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Esoknya, dengan bekal seadanya, Somat berangkat ke kota, setelah semalam Haji Umar memberinya alamat perusahaan penerbangan itu. Dalam tidurnya di perjalanan, Somat bermimpi. Bayangan bangkai pesawat yang membawa dirinya dan ibunya muncul kembali. Tiba-tiba ibunya muncul di antara puing-puing pesawat, kemudian meneriakkan “Cari ayahmu .... cari ayahmu ....”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Menjelang siang, Somat tiba di depan kantor itu. Ditanyanya pada satpam, untuk bertemu dengan kepala kantor. Namun belum sampai masuk, orang yang dikenalnya sebagai wakil perusahaan, yang memberi Haji Umar uang, muncul dari pintu depan. Somat tersenyum sopan sambil mendekat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Maaf pak, saya Somat. Pekerja Haji Umar, saya ...”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Oh maaf. Saya sudah memberi dia uang cukup banyak. Kalau tidak cukup, itu bukan salah saya”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Bukan pak, saya bukan mau minta uang. Saya menemukan sesuatu pak”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Menemukan apa? Perhiasan, uang, tas atau apa? Kalau seandainya kau dapat, akan susah bagi kami untuk mengembalikannya. Pesawat itu datang dari jauh. Mau ke tempat jauh pula. Beruntung kalo si empunya hidup. Kalo mati? Ah, sudahlah. Kalau kau benar menemukan sesuatu, simpan sajalah. Toh orang-orang dari pesawat itu, hampir semuanya meninggal. Yang kau dan teman-temanmu tolong, kebanyakan mati dalam perjalanan ke rumah sakit rujukan”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Somat terdiam. Tak disangkanya orang itu akan berkata demikian. Somat tertunduk. Satpam jatuh iba melihatnya, disarankannya Somat untuk kembali melihat isi tas itu. Siapa tahu ada kartu nama? Kalau dekat kan bisa diantar? Somat tersenyum. Harapannya kembali membesar. Bersama-sama Satpam, ditelitinya alamat-alamat di kartu-kartu itu. Dua jenak kemudian, Satpam menemukan satu kartu dengan alamat yang ada di kota. Dijelaskannya pada Somat cara untuk sampai ke alamat tersebut. Somat tersenyum mengerti.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sudah menjelang ashar tatkala Somat tiba di alamat itu. Rumahnya cukup besar dan mentereng. Somat berkali-kali berdecak kagum. Namun sejurus kemudian dia dikagetkan oleh bentakan Satpam. Somat dengan pelan menjelaskan maksudnya. Satpam itu melunak. Pintu gerbang terbuka. Somat masuk lalu dipersilahkan menunggu di teras. Selama menunggu, memori itu muncul lagi. Somat tertunduk. Kalau memang hanya tinggal aku, biarlah. Yang penting, aku masih bisa membantu orang ini, batin Somat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Maaf. Anda ingin bertemu saya?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Di depan Somat berdiri seorang laki-laki, limapuluhan umurnya. Tegap, berkumis rapi. Pakaiannya pun rapi. Sepertinya baru pulang kantor.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Iya pak. Saya Somat. Beberapa hari lalu di kampung saya, jatuh pesawat. Saya dengan teman-teman ikut menolong. Walau demikian, banyak yang kami tolong itu, meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. Akhirnya hanya sedikit yang hidup. Trus kemarin, saya menemukan tas ini pak. Saya agak sangsi kalau tas ini punya Bapak. Tapi saya temukan kartu nama Bapak di dalamnya. Olehnya, mungkin Bapak bisa membantu untuk mengembalikan ke pemiliknya. Kalaupun si empunya juga ikut tewas, paling tidak keluarganya bisa menerima tas ini”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Bapak itu menyernyitkan dahi. Diraih dan dibukanya tas itu. Dilihatnya lekat-lekat foto-foto yang ada. Dia mengangguk tanda mengerti.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Benar de’. Yang punya tas ini, saya kenal. Dia memang ikut tewas dalam kecelakaan itu. Insya Allah, akan saya sampaikan tas ini pada keluarganya”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Alhamdulillah. Syukurlah kalau Bapak bisa. Tidak sia-sia saya dari kampung. Akhirnya harapan saya untuk mengembalikan tas ini bisa terwujud. Matursuhun pak. Tapi maaf pak, sekarang sudah hampir ashar, bisa saya numpang shalat dhuhur sebelum pulang?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sang Bapak tersenyum. Tanpa suara disilahkannya Somat masuk ke ruang tamu. Somat kembali berdecak kagum. Aroma mewah dan anggun merayap di kulit Somat. Namun Somat sontak, tatkala menatap lukisan raksasa seorang wanita yang tergantung di dinding.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;“Ibu ....”. Somat pingsan.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5362338551847243131-1167227728637773224?l=penggilatuhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/feeds/1167227728637773224/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5362338551847243131&amp;postID=1167227728637773224' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/1167227728637773224'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/1167227728637773224'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/2007/12/somat.html' title='Somat'/><author><name>Baeda</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://farm3.static.flickr.com/2244/1572943606_f9e656de54_m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5362338551847243131.post-5535395475776677317</id><published>2007-12-21T00:17:00.000+09:00</published><updated>2007-12-21T00:18:24.519+09:00</updated><title type='text'>Azan Subuh Ujaz</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Gembok pagar rumah bernomor 46 itu sudah dibukanya. Hanya dengan berbekal sebuah kunci roda, parang gemuk dan sebilah golok kecil, Ujaz nekat mencuri sendirian di rumah besar dalam kompleks terkenal itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Pada dasarnya, Ujaz bukanlah pencuri. Tatkala pulang bersekolah dari pendidikan tinggi agama Islam di kota Gudeg, didapatinya rumahnya acak-acakan. Ibu dan kedua adiknya tewas dibacok. Ayahnya sendiri sekarat di dapur. Lukanya sangat parah, sampai-sampai Ujaz sempat lemas sesaat. Namun sesaat kemudian, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;sudah disanggahnya kepala ayahnya di pangkuannya. Walau dengan luka separah itu, sang ayah masih mampu membuka mata lalu berkata lirih, “Ujaz, maafkan ayahmu ini. Ibu dan kedua adik-adikmu tak mampu Ayah selamatkan dari kawanan perampok itu. Mereka terlalu banyak”. Ujaz pun tak mampu berkata-kata lagi. Dia hanya bisa menggangguk. Matanya basah. Tangannya yang penuh darah tak mampu lagi menyeka ingus yang keluar tanpa henti. Perlahan tangan sang ayah bergerak lemah. Ditunjuknya lemari buku di dinding timur ruang tengah. “Al Quran”, desahnya. Ujaz dengan serta merta mengerti keinginan ayahnya. Diraihnya Al Quran yang dimaksudkan ayahnya itu; didekatkan ke tangan ayahnya, namun tangan itu tak mampu lagi menggenggam. Seiring dengan jantung yang tak mampu lagi memompa darah, karena telah tertumpah banyak di lantai dapur. Sang ayah telah berpulang ke hadirat-Nya. Ujaz pun terpana, derai air matanya tak terbendung. Terisak keras-keras. Sepuluh menit lebih, dia seperti itu. Namun terdorong latar belakang ilmu agama yang ditekuninya, Ujaz meraih kedua tangan ayahnya. Mendekapkan di dada, kemudian menutup kedua mata ayahnya yang masih setengah terbuka. Kemudian diraihnya Al Quran itu, dibukanya dan spontan dibacanya Yaasin. Tatkala telah sampai di halaman kedua surah itu, terjatuhlah amplop dari dalam Qur’an. Dengan tangan gemetar namun penuh keingintahuan, diraihnya amplop itu. Dibukanya perlahan. Surat bertinta biru dengan tulisan dan tanda tangan ayahnya. Dengan tetap berbanjir airmata, dibacanya perlahan surat ayahnya itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“&lt;i style=""&gt;Ujaz, tatkala kau baca surat ini; itu berarti aku sudah mati. Entah di rumah, atau di rumah sakit. Entah dibunuh atau mengerang karena sakit asmaku. Namun sebelum aku benar-benar mati, akan kuceritakan rahasia terdalamku padamu. Ketahuilah Ujaz. Selama duabelas tahun kau bersekolah di Jogja, belajar agama Islam, sampai bergelar Sarjana Agama, engkau kubiayai dengan kunci roda, parang gemuk dan golok kecil. Engkau makan dari hasil mencuriku ke rumah-rumah besar kepunyaan konglomerat-konglomerat; yang rajin menyogok dan ogah membayar pajak. Uang hasil curianku itu memang tidak halal. Namun aku tak punya keahlian lain selain mencuri. Makanya kusekolahkan kau untuk belajar agama Islam, supaya nanti kau tidak akan jadi pencuri seperti ayahmu ini. Tapi, jika tidak terlalu berat bagimu, aku minta kau simpan ketiga benda itu baik-baik. Pula, kau harus ketahui, jika suasana dan keadaan tidak lagi bersahabat; pergunakanlah ketiga benda tersebut. Kuingatkan pula, kalau sekarang ini, sudah banyak orang yang tahu kalau aku ini pencuri. Jadi, engkaupun menjadi anak pencuri, mau atau tidak. Namun dari semua itu, utamanya aku minta engkau berjanji untuk selalu berkata dan berbuat jujur. Dalam masalah apapun&lt;/i&gt;”. Ditutupnya kembali surat itu perlahan. Kekagetannya akan kenyataan bahwa ayahnya adalah seorang pencuri, masih mengguncangnya. Namun dalam hatinya tertoreh janji seperti yang dimintakan ayahnya. Ya, dia telah berjanji pada dirinya sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sepeninggal ayah, ibu dan kedua adiknya, Ujaz berusaha hidup di rumahnya dengan sisa-sisa peninggalan perampok itu. Namun ternyata, tak sampai dua bulan, biaya hidup semakin lama semakin tidak mencukupi. Satu persatu barang-barang peninggalan orang tuanya dijualnya untuk menyambung hidup. Terdesak begitu, akhirnya Ujaz mulai mencari kerja. Mulailah dia bergerak dari pintu perusahaan satu ke pintu perusahaan yang lain, menjajakan keahliannya dalam bidang agama. Namun setelah sekian lama, dirasakannya kalau semua perusahaan pasti tidak mau menerimanya. Oleh janjinya pada ayahnya untuk berkata dan berbuat jujur, membuatnya tak diterima bekerja di lingkungan perusahaan. Siapa sih yang mau mempekerjakan anak pencuri? Kan buah mangga tidak pernah jatuh jauh dari pohonnya? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Memasuki bulan ke sepuluh setelah peristiwa perampokan itu, Ujaz sudah mulai berputus asa. Telah lelah badan dan pikirannya untuk mencari pekerjaan yang layak dan sesuai dengan kemampuannya. Diingatnya kembali pesan-pesan ayahnya. Lama Ujaz tepekur. Walau tidak sejalan dengan kata hatinya, tuntutan hidup membuatnya berketetapan hati untuk mencoba peruntungan hidup seperti yang dijalani ayahnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Demikianlah, akhirnya Ujaz tiba di depan rumah mewah bernomor 46 tadi. Merusak gembok pagar dan telah berada dalam rumah. Pemilik rumah ini benar-benar kaya, pikirnya. Bayangkan saja, di garasinya yang sangat besar terparkir delapan sedan dan MPV mewah. Sementara di dalam rumah, segala kemewahan pun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terlihat. Dari ubin marmer sampai ke &lt;i style=""&gt;home theatre&lt;/i&gt;. Semuanya memang layak untuk dijadikan target utama pencurian pertamanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Tatkala sedang menginventaris apa yang harus dibawanya pulang, matanya tanpa sengaja melihat foto keluarga yang terpampang di dinding. Seorang ayah, ibu dan tiga anak; seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Persis sama dengan keluarganya. Tak terasa butiran air matanya bergulir jatuh. Diingatnya kembali, betapa kebahagian memayungi keluarganya. Menyeluruh. Masuk ke semua celah-celah kehidupan yang ada. Ujaz tertunduk. Ya Allah, apakah salahku sampai harus berbuat seperti ini. Apakah harus kutanggung salah ayahku karena mencuri? Dia memang hanya tahu mencuri; dan akupun bisa sekolah tinggi gara-gara pekerjaan hina ini. Oh Rabbiku, tuntunlah aku. Seperti tak kuat aku menerima cobaan-Mu. Dia kembali tertunduk terisak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Teng ... teng ... teng ... teng ... teng. Lima kali jam besar itu berdentang. Menyadarkan Ujaz. Ditatapnya jam besar itu lamat-lamat. Subuh, desisnya. Layak kerbau dicekok hidungnya, Ujaz bergegas mencari kamar mandi. Didapatinya pancuran kecil di sebelah kanan ruang keluarga. Diambilnya air wudhu. Usai itu, dicarinya ruangan yang paling bersih. Tepat di sebelah dinding pancuran, ada ruangan cukup besar. Mushalla. Dibersihkannya pakaiannya. Ditanggalkannya &lt;i style=""&gt;balaclava&lt;/i&gt; hitamnya. Dihamparnya sajadah. Ditegakkannya dan dihadapkannya tubuhnya ke kiblat. Tangannya terangkat di samping telinga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Allahu Akbar ........ Allahu Akbar”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;Dan Ujaz pun azan subuh itu. Menyadarkan kita dari tidur nyenyak dan kemunafikan yang menyesatkan.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5362338551847243131-5535395475776677317?l=penggilatuhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/feeds/5535395475776677317/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5362338551847243131&amp;postID=5535395475776677317' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/5535395475776677317'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/5535395475776677317'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/2007/12/azan-subuh-ujaz.html' title='Azan Subuh Ujaz'/><author><name>Baeda</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://farm3.static.flickr.com/2244/1572943606_f9e656de54_m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5362338551847243131.post-7042850120949886479</id><published>2007-12-21T00:13:00.000+09:00</published><updated>2007-12-21T00:15:08.915+09:00</updated><title type='text'>Janji</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Entah telah berapa lama Bandi menunggu. Dilirik arlojinya. Masih setengah jam. Masih cukup waktu untuk Double Cheese Burger-nya McDonald, semangkuk sup jagung dan sebotol air mineral. Hmm, walau telah sewindu South Carolina ditinggalkannya, kebiasaan makan junk food masih mendominasi hari-hari sibuknya. Terlebih tatkala puncak-puncak stresnya menghentak-hentak lantai dan plafon kesadarannya. Seperti sekarang, tatkala Amy akan datang berkunjung. Coklat rambut dan retinanya selalu membuatnya tegang. Bau harum tubuhnya apalagi. Bandi menghayal, lagi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Semua pesanannya sudah habis terlahap. Sudah lewat setengah jam pula. Mana lagi pesawatnya sudah offload. Semua penumpang sudah turun. Semua koper dan bawaan di bagasi sudah diambil pemiliknya. Tapi tak ada coklat rambut dan retina Amy yang menggetarkan jantung Bandi. Tak ada bau harum tubuhnya. Hanya ada bau keringat portir-portir yang kelelahan. Bandi tersadar. Amy tidak datang. Bagaimana mungkin? Dia kan sudah janji akan datang! Mana mungkin dia lupa memberitahuku? Dia kan mantan pacarku! Mantan? Jangan-jangan ....&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sebenarnya Bandi sadar, kalau janji Amy akan datang berkunjung ke Indonesia, hanyalah isapan jempol. Dia pun tahu kalau Amy pada dasarnya mau jalan dan diperkenalkan sebagai pacarnya, hanya karena keenceran otak Bandi melahap hampir semua soal-soal kimia dan biologi. Tapi dasar Bandi, sangat percaya pada omongan bule brunnette asal Oklahoma itu. Walau sewindu dan telah bergelar MD dari USC, kepercayaan itu masih saja menempati ruang terbaik dalam bagian otak ingatnya. Sampai-sampai sedemikian banyaknya perempuan Indonesia yang kebetulan juga sementara belajar di Amerika Serikat kala itu, kecewa karenanya. Utamanya Dina, yang pada waktu hampir bersamaan juga sementara menunggu kedatangan Bandi di Newark. Seperti juga Bandi yang tergila-gila akan coklat rambut dan retina serta bau tubuh Amy; Dina juga masih terpesona akan segala tutur jelas Bandi tatkala menerangkan hubungan eksponensial susunan struktur kimia dari sebuah enzim yang dapat mengganggu metabolisme tubuh di kelas biokimia USC, walau sudah sewindu berlalu. Namun sejak pagi sampai malam, satu persatu pesawat yang berkoneksi dengan Asia Tenggara, utamanya Indonesia, tidak membawa Bandi. Dina tepekur. Diingatnya janji Bandi, untuk datang pada hari yang sama, delapan tahun ke depan. Bandi .... Bandi ...... mengapa kau berdusta? batin Dina mengawang plafon ruang tunggu bandara. Dia mendesah panjang, persis seperti desahan Bandi tatkala berjalan meninggalkan ruang tunggu kedatangan di Cengkareng. Sedemikian anehnya, Sang Maha Kuasa, merencanakan kehidupan hamba-Nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(153, 153, 153);" align="center"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Ahad pagi itu, Bandi bergegas ke rumah orang tuanya. Masih sepi. Bandi langsung naik ke lantai 2, ke kamarnya. Kamar itu sudah sedemikian lama tidak ditinggali, sejak kepulangannya dari South Carolina. Perlahan ditariknya album foto berdebu dari dalam lemari buku. Dibukanya perlahan-lahan. Satu demi satu foto berukuran jumbo ditatapnya. Peristiwa demi peristiwa melintasi benaknya. Namun yang membekas keras hanya Amy. Rambutnya, retinanya, baunya. Semua seperti baru terjadi kemarin. Namun Bandi kembali sadar, sewindu bukanlah waktu yang sebentar. Dia tidak boleh hanya larut dengan cerita masa lalu itu. Mana lagi, cinta dan rasa sayang itu hanya datang dari mata dan hatinya; bukan dan tidak pernah datang dari mata dan hati Amy. Adalah sebuah kebodohan semata-mata jika dia masih mengharapkan Amy memenuhi janjinya. Benar-benar sebuah kebodohan semata-mata. Bandi kembali mendesah. Saat yang sama, empat hari menjelang tahun baru, di salah satu sudut East Manhattan, dengan siluet Brooklyn Bridge senja hari, Dina juga tengah membatin. Berusaha menghilangkan asa akan Bandi. Laki-laki yang selalu membuatnya menganga, mendengar keluh kesahnya akan segala tetek bengek premedical class bahkan membelikannya nasi goreng cina berlabel halal usai pertemuan PPI Amerika yang sangat membosankan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(153, 153, 153);" align="center"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Bandi baru saja menyuntik anti tetanus seorang bapak yang harus kehilangan empat jarinya karena berusaha meraih anaknya yang hanyut dibawa air laut yang menderas tiba-tiba, sesaat setelah gempa menggoyang pusat kota Banda Aceh. Bandi berdiri tepekur memandang bapak itu keluar tenda. Walau sudah lebih sepuluh hari, masih saja terdengar ada mayat yang ditemukan mengapung di Krueng Aceh, membusuk di antara reruntuhan bangunan bahkan menggembung di ladang-ladang yang cukup tinggi letaknya. Atau paling tidak, seperti bapak tadi. Ya Allah, betapa berdosanya aku pada-Mu; yang tidak pernah mensyukuri nikmat-Mu, batin Bandi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sekonyong-konyong, masuk seorang relawan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Apa dokter masih kekurangan desinfektan? Atau bahan-bahan medis lainnya? Ada tim medis independen yang baru saja tiba. Mereka membawa banyak perbekalan. Saya diminta untuk menginventarisir apa-apa yang diperlukan di tenda-tenda medis di sepanjang kamp”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Dari mana?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Kata orang-orang, dari Amerika. Tapi ada orang Indonesianya. Dokter lagi. Kok bisa ya?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Bandi mematung. Memang banyak orang Indonesia yang kerja sebagai perawat di States, tapi dokter? Kalaupun ada, dia pasti mengenalnya. Ah, biarlah. Semua tim medis yang datang pastilah berkonsentrasi untuk menjalankan tugasnya, bukan untuk bernostalgia gembira ria, atau dengan alasan apapun. Bandi tersenyum menggeleng.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Persediaan kami masih banyak. Coba tanyakan ke tenda yang lain saja, ya?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(153, 153, 153);" align="center"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Hari ke 59. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Semua orang sudah lelah. Tenda-tenda mulai kehilangan pekerja-pekerjanya. Tim-tim dari luar negeri juga sudah banyak yang pulang. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dua&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt; bulan pasca tsunami, sudah cukup memberi ketidaknyamanan bagi orang-orang yang tidak berniat tulus. Tapi Bandi masih di tendanya, walau kehilangan hampir seluruh perawatnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Senja itu, Bandi baru saja akan menyalakan lampu, kala seorang relawan datang memberinya undangan. Semacam kenduri, untuk seluruh tim relawan yang telah bekerja tanpa henti. Dalam hati, Bandi sempat menolak. Namun jenuh dan lelah, lebih menguasai fisiknya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Ruang pertemuan itu masih lengang, walau sudah pukul 20&lt;sup&gt;30&lt;/sup&gt; WIB. Bandi dan beberapa relawan masih asyik bercengkerama di dekat tangga, kala satu rombongan baru tiba. Seperti sedari tadi, setiap tim yang baru masuk akan ditepuk tangani sebagai penghormatan akan dedikasinya. Rombongan yang terakhir masuk sepertinya dari luar Indonesia, karena hampir seluruh anggotanya, bule. Bandi sempat menoleh sejenak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Dok, itu lho yang dulu saya cerita. Orang Indonesia yang jadi dokter di Amerika”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Bandi kembali menoleh, kali ini dengan seluruh badan. Dipandanginya sosok itu. Keningnya berkerut. Bandi berdiri, berjalan perlahan menuju perempuan yang ditunjuk Nadir tadi. Sembari berjalan, kenangan melintas pelan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Dina”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Yang dipanggil berbalik, tersenyum. Kecut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Bandi. Dokter Bandi”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Bandi membalas dengan senyum. “Aku tidak tahu, kalau kau yang ...”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Ah, tak mengapa. Kita semua sibuk kan? Mana ada yang peduli dengan kenangan masa lampau, tatkala begitu banyak kerja yang menunggu. Orang-orang ini lebih membutuhkan kita untuk membantu mereka”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Bandi kembali tersenyum. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Sebenarnya, aku sudah sejak lama tahu akan kau dan timmu. Tapi sepertinya kau begitu sibuk, sampai tidak tahu kalau kadang kita makan di satu ruangan. Ah, Bandi. Kau tidak berubah, masih selalu fokus dengan kerjaan. Sampai lupa akan sekelilingmu. As always, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;ignorant in any ways&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Suasana malam yang dingin, seakan siang yang panas. Kerut di kening Bandi belum juga hilang, namun senyumnya tetap mengembang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Maafkan, maafkan kalau aku tidak memperhatikan sekelilingku. Semua ini butuh konsentrasi yang tinggi dan terpusat. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;I can’t jeopardize anything for this; it’s all my dedication to mankind. I think you know that&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Bandi, kau benar-benar tidak berubah. Lihat dirimu sekarang. Dulu kau juga tidak memperhatikan sekelilingmu, lingkunganmu. Teman-temanmu, Ted, John, Willie bahkan aku. Ah Bandi, kapan kau mau berubah?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Mata Dina mulai memerah menahan tangis. Naluri keperempuanannya bicara. Bandi tertunduk. Terbayang kelompok belajar yang dipimpinnya dulu, ada Ted, John, Willie, Dina dan dirinya sendiri. Mereka memang begitu kompak, namun Bandi tahu kalau dia hanya mengganggap kelompoknya sebagai kelompok belajar, bukan sebagai buddies. Walau demikian, diakuinya getar asmara memang pernah ada di antara Dina dan dirinya. Namun Bandi adalah Bandi, yang tidak pernah peduli dengan hal-hal seperti itu, terkecuali study, study and study. Lived alone on his solitude world. Always alone. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Aku pernah mau berubah, Din. Kau kenal Amy kan? Dia pernah berjanji akan datang dan .......”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Dan dia tidak datang kan? Bandi, Bandi ...... Kau kan tahu dia! She’s not our league. She’s way up!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Bandi semakin tertunduk. Baru kali ini ada orang yang berbicara benar tentang Amy; hal yang benar adanya, namun selalu ditepisnya. Matanya ikut memerah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Kau bahkan lupa janjimu padaku Ban”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Tekanan batinnya memuncak. Dina akhirnya berlari ke luar ruangan, meninggalkan Bandi terpaku sendirian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Astagfirullah ........, batin Bandi. Dirasakannya dadanya memberat. Janji itu memang tak ditepatinya. Janjinya kepada Dina untuk tidak tertipu akan kepalsuan Amy, sesaat sebelum berangkat pulang ke tanah air. Janjinya untuk datang dan merubah dirinya sendirinya. Janjinya untuk mencintainya. Mencintai Dina. Memang kau tidak datang di Newark untuk mengantarku pulang, Dina. Menelpon pun tidak. Memang ada Amy yang mengantarku, walau aku tahu dia hanya lips service saja. Memang ..... memang .... ah Dina, kenapa aku begitu buta, batin Bandi. Ditatapnya Dina yang berlari menuju tendanya. Aku harus menepati janjiku, tegas Bandi sambil berlari menyusul.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Bandara Newark, 29 Desember 2010. Salju turun tidak terlalu lebat. Pesawat GIA baru saja mendarat, straight flight from Jakarta. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Ayah, Ibu yang jemput kita kan?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Iya, Ina rindu ya? Kalau Taufiq?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Keduanya mengangguk pasti sambil tersenyum girang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Mereka sampai di ujung terowongan. Terlihat Dina melambai di depan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;“Ban ......”&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5362338551847243131-7042850120949886479?l=penggilatuhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/feeds/7042850120949886479/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5362338551847243131&amp;postID=7042850120949886479' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/7042850120949886479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/7042850120949886479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/2007/12/janji.html' title='Janji'/><author><name>Baeda</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://farm3.static.flickr.com/2244/1572943606_f9e656de54_m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5362338551847243131.post-4780145271268714258</id><published>2007-12-21T00:11:00.000+09:00</published><updated>2007-12-21T00:12:36.294+09:00</updated><title type='text'>Maafkan Aku, Istriku</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Assalamu ‘alaykum Istriku. Bagaimanakah kabarmu dan anak-anak? Maafkan suamimu ini ya? Agak lama baru bisa membalas emailmu. Tahulah, minggu-minggu terakhir ini adalah minggu-minggu penuh kesibukan. Paper harus masuklah, ada conference-lah&lt;/span&gt;. Benar-benar sibuk. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;Oya, paperku sudah masuk. Alhamdulillah, akhirnya bisa masuk juga. Walau ada pembantaian saat seminar, namun bisa akhirnya selesai. Eh, masih ingat Indrianto kan? Dia gagal. Setelah hampir dua tahun tanpa kejelasan kelulusan ujian research student. Kasihan dia. Namun aku sempat bilang, “Ndri, kamu jangan terlalu bersedih ya? Kamu masih muda. Masih banyak kesempatan. Jika tidak bisa di Hirodai, cari lagi ditempat lain. Usahakanlah ya? Jangan pernah menyerah”. Indri cuma tersenyum kecut. Namun aku yakin, dia akan bisa bangkit lagi. Engkau kan tahu, dia bukanlah orang yang gampang menyerah. Masih ingat juga kan, tatkala mereka memintanya mengambil sampel ikan di ujung Hokkaido sana saat-saat dingin memuncak di pertengahan Januari lalu? Aku ingat saat mengantarnya ke Saijo Eki, dia bilang, “Mas, jangan sumpek begitu dong mukanya. Para sensei itu hanya ingin membuatku baik. Doakan saja agar bisa kembali dengan selamat”. Ahh, anak itu begitu kuat. Namun hidup selalu berputar. Seperti roda. Kadang di atas, kadang di bawah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;Istriku, Saijo saat-saat sekarang sudah tidak lagi hangat. Dingin sudah mulai menusuk setiap hari. Terlebih di pagi hari. Kadang-kadang kabut pun turun. Matahari pun sudah mulai jarang muncul. Kadang membuatku mengantuk saat harus ke kampus. Sayang, engkau sudah tidak di sini. Oya, daun-daun cicanada itu sudah merah semua lho? Malah sudah ada yang rontok separuhnya. Benar-benar indah. Sayang ya, engkau tidak bisa menikmatinya. Tapi aku banyak foto kok! Nanti aku muat di flickr saja ya? Pasti kau suka. Malah minggu kemarin aku dan teman-teman sempat jalan-jalan ke Miyajima. Ahh istriku, benar-benar indah. Hati ini terasa tenang dengan pemandangan itu. Ketenangan yang dihasilkannya. Dengan kemuramannya yang elegan, mampu membuat kita hanyut. Susah berkata-kata. Ahh, istriku andai kau bisa di sini bersamaku sekarang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;Istriku, sekarang milist sedang ramai. Maklumlah, sudah saatnya pemilihan lagi. Ahh, mengapakah harus ada pemilihan ya? Mengapa kita-kita tidak langsung saja urug rembug saja, musyawarah terus memutuskan seseorang yang akan mengkoordinir mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Hiroshima ini. Ya mengkoordinir kita-kita ini. Ada yang menginginkan orang lama yang jadi balon. Harus orang lama, maksudnya. Ada juga yang mempertanyakan mengapa harus ada demikian? Hmmm, susah jadinya. Yang satu ada benarnya, yang lain juga ada. Walaupun melihat dari sisi yang berbeda, namun keduanya jelas mempunyai nilai kebenaran. Tapi yang jelas istriku, engkau tidak perlu khawatir, aku tidak akan ikut pemilihan itu. Buat apa? Memecah konsentrasi saja. Memang ini merupakan tugas mulia, namun janji tetap janji. Tapi maafkan aku istriku. Kemarin mereka mendaftarkan aku. &lt;span style="" lang="IN"&gt;Aku sudah bilang, istriku melarang. Namun mereka tidak mau tahu. Ahh, kenapa juga ya, waktu itu aku memasukkan data bahwa pernah menjadi pimpinan organisasi kemahasiswaan? &lt;/span&gt;Apalagi waktu terjadi peristiwa mengerikan itu. Masih ingat kan? Itu lho, anak Indonesia yang kesurupan dan akhirnya bunuh diri. Kan aku yang akhirnya mengurus segala sesuatunya sampai mayat anak itu bisa pulang dengan cepat ke tanah air? Aku ingat, tepukan tangan mereka di bahuku saat mengantar mayat anak itu di bandara. Tatapan mereka tulus dan yakin, tatapan terima kasih. Mungkin juga kekaguman. Tapi jangan khawatir istriku. Aku akan mengundurkan diri dari status balon. Jangan khawatir ya? Promise is still a promise to be keep”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;Sulis menghela nafas. Panjang dan berat. Ditatapnya sekali lagi draft email untuk istrinya. Raut muramnya muncul kembali. Sudah tiga hari email itu begitu. Tak juga dikirim. Namun setiap saat, dilihatnya. Direnunginya. Ahhhh ….&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;“Salamu aalykooom. Pak Sulis, cepetan dong? Ditungguin tuh. Keretanya setengah jam lagi lho …”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;“Iya …. Sbentar lagi saya turun”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;Ditatapnya sekali lagi draft email itu. Kebimbangan masih tetap bergayut, memainkah gundah hatinya. Dia kemudian berpaling, berjalan ke pintu. Menguncinya. Bergegas turun. Dia harus cepat. Kereta ke Tokyo akan berangkat setengah jam lagi. Pertemuan antar ketua PPI se-Jepang itu harus diikutinya siang ini.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5362338551847243131-4780145271268714258?l=penggilatuhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/feeds/4780145271268714258/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5362338551847243131&amp;postID=4780145271268714258' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/4780145271268714258'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/4780145271268714258'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/2007/12/maafkan-aku-istriku.html' title='Maafkan Aku, Istriku'/><author><name>Baeda</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://farm3.static.flickr.com/2244/1572943606_f9e656de54_m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5362338551847243131.post-7536661908553896113</id><published>2007-12-21T00:09:00.000+09:00</published><updated>2007-12-21T00:10:19.881+09:00</updated><title type='text'>Anak Gadis Pak Junaid</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Rumah pak Junaid cukup besar. Bertingkat dua dengan garasi besar di samping kanannya. Memang sih, dia tidak punya mobil, cuma motor Vespa keluaran 80-an. Tapi kalau ditanya, dia pasti bilang, “Ah ... kan bisa saja besok-besok dapat mobil beneran”. Depan rumahnya, masih dalam lingkungan pagarnya, ada pohon mangga harum manis yang cukup rindang. Kalau lagi musim mangga, bisa banyak sekali. Mana harum lagi. Alhasil, setiap musim mangga tiba, atap sengnya sering kali bocor kena lempar anak-anak kampung yang mencoba peruntungan dapat mangga gratis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Selain karena besar dan pohon mangga harum manisnya, rumah pak Junaid juga terkenal karena seringnya anak-anak muda kampung berkumpul di sana. Yah untuk Karang Taruna-lah, untuk pementasan seni-lah, bahkan hanya sekedar &lt;i style=""&gt;kongkow-kongkow&lt;/i&gt;. Tapi pada dasarnya, mereka sering ke sana hanya untuk melihat langsung Yuyun, anak gadis pak Junaid. Kata mereka, kalau dibandingkan dengan Inneke Koesherawaty atau Tamara Blezinsky, Yuyun masih bisa sekelas dengan mereka. Baik soal kecantikan maupun kecerdasan. Menurut isunya, kecantikan dan kecerdasan Yuyun turun dari ibunya. Tapi orang sekampung tidak pernah bisa membuktikan itu karena dulu sewaktu pak Junaid datang, beliau memang tidak membawa istrinya. Sebagian besar orang berkesimpula&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt; kalau istrinya meninggal sewaktu melahirkan Yuyun atau pada saat Yuyun masih kecil. Itu juga didukung fakta kalau muka pak Junaid tidak mirip dengan Yuyun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Empat malam lalu, terjadi keributan di rumah pak Junaid. Suara pintu dibanting berkali-kali dengan keras, terdengar sampai ke rumahku. Suara Yuyun marah-marah sampai memaki-maki bapaknya juga terdengar. Sepintas terdengar Yuyun marah soal perempuan yang didekati pak Junaid. Ooo, pantas saja. Yuyun belum sudi ada perempuan yang menggantikan peran ibunya. Biasalah, memang banyak anak perempuan yang bertindak seperti itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Tapi tadi pagi aku tersentak kaget. Yuyun lewat di depan rumah. Menenteng koper besar. Bersungut-sungut tidak karuan. Heran juga aku melihatnya. Sementara pak Junaid, tertunduk lesu di depan rumah besarnya. Yah, bakal ada gosip baru nih nantinya, pikirku. Pastilah anak-anak kampung bakal jarang ke sana lagi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sekitar sepuluh menit lalu, terdengar keramaian di depan rumah. Ternyata sekumpulan anak-anak muda sementara berkumpul di depan rumah. “Pak, emang Yuyun sudah punya suami ya?”, tanya Ridwan, pentolan anak-anak kampung. “Ah, gak tuh. Pan selama dia pindah ke sini dengan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;bokap&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;nya, enam tahun lalu, belum pernah ada acara rame-rame di sini. Kenapa emang kepikiran begitu?”, tanyaku. “Gak pak. Tadi pagi,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kata orang-orang, Yuyun tinggalkan rumah. Lha mo kemana dia? Pan kata pak Junaid, keluarganya sudah gak ada semua. Makanya aku kepikiran, jangan-jangan Yuyun sudah menikah, trus dia ke rumah suaminya!”, sanggahnya lagi. Aduh, jangan-jangan emang begitu ya, pikirku. “Supaya gak panjang ceritanya, kita tanya aja langsung ke pak Junaid”, kataku sambil bergerak menuju ke rumah pak Junaid. Belum tiba tepat di depan pagar, terdengar suara, “Nah kan, emang dia itu tidak tahu diri mas. Makanya mending aku dari pada dia”. Lha itu kan si Mimin, janda muda kampung seberang kali. Heranku memuncak. Tatkala tiba, Mimin baru saja meninggalkan rumah. Saat sudah berhadapan langsung dengan pak Junaid, aku bertanya tanpa basa basi lagi, “Pak, ini anak-anak tanya, Yuyun kemana? Kata orang-orang kampung, dia tinggalkan rumah ini tadi pagi. Aku juga sempat ngeliat sendiri kok? Emang ada pertengkaran apa? Sapa tau saja, kita-kita bisa bantu. Pan gak enak. Waktu kami-kami ada masalah, pak Junaid dengan senang hati menolong kami. Terutama anak-anak ini lho pak. Mereka menyayangkan sekali kalo Yuyun dan Bapak sempat bertengkar. Mereka pikir, kalo Bapak dengan Yuyun gak akuran, pan mereka jadi tidak enak juga main ke sini. Hilang deh mereka punya tempat nongkrong”, cerocosku. Pak Junaid menghela napas panjang. Muka keriput 70-an tahunnya terlihat lebih jelas. Berkali-kali napas panjangnya terhela. Akhirnya setelah sekian lama duduk tepekur, dia menjawab, “Sebenarnya Yuyun tidak senang Mimin sering jalan-jalan kemari. Dia juga tidak senang tatkala aku bilang kalo aku pengen nikah lagi dengan Mimin. Terus empat hari lalu, dia sampe banting-banting pintu keras-keras, bahkan memaki-maki aku. Mumet aku”. Terlihat jelas keresahan di matanya. Aku pun ikut-ikutan menghela napas panjang. Anak perempuan memang paling jarang bisa menerima kalau bapaknya kawin lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Tapi sebenarnya dia tahu, kalo aku penganut poligami. Sudah saya ceritakan dan rundingkan kalo aku kemungkinan mau beristri lagi setelah menikah dengan dia enam tahun lalu”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;Lho? Jadi? Yuyun? Alamak ........&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5362338551847243131-7536661908553896113?l=penggilatuhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/feeds/7536661908553896113/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5362338551847243131&amp;postID=7536661908553896113' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/7536661908553896113'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/7536661908553896113'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/2007/12/anak-gadis-pak-junaid.html' title='Anak Gadis Pak Junaid'/><author><name>Baeda</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://farm3.static.flickr.com/2244/1572943606_f9e656de54_m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5362338551847243131.post-2280876233254245147</id><published>2007-12-21T00:06:00.000+09:00</published><updated>2007-12-21T00:08:48.870+09:00</updated><title type='text'>Kisah Kusnadi</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Halte Volvo di Jalan Raya Pasar Minggu, Jakarta Selatan, semakin padat. Hujan deras yang tiba-tiba turun membuat sejumlah pengendara sepeda motor berhenti untuk berteduh. Pejalan kaki pun tak mau ketinggalan. Demi menghindari hujan, mereka berlarian menujualte ini. Seorang pemuda tampak terpeleset saat berlari menuju halte ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;Tak sampai lima menit, halte dipenuhi tak kurang dari 30 orang. Halte yang sebelumnya sepi, kini ramai oleh gemeretak rahang orang menahan dingin. Desahan menggigil juga meramaikan suasana. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;Asap rokok tampak begitu tebal di halte ini. Beberapa wanita terpaksa menutup hidung menghindari sambaran tar dan nikotin itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama, sebuah gerobak bakso merapat ke pinggir trotoar halte. Kemudian, sang penjual ikut berteduh. Halte pun makin padat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;"Mas, baksonya dua. Yang satu tidak pakai mi," kata seorang wanita pada si penjual bakso.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;Masih tampak kedinginan, dengan baju sedikit basah, Kusnadi, tukang bakso itu, segera menghampiri gerobaknya dan menyiapkan pesanan sang wanita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;Belum selesai membuat pesanan pertama, dua pemuda juga memesan bakso. "Bakso saya tidak pakai seledri ya, Mas," kata pemuda itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;Tak lama, tukang bakso berusia 32 tahun itu sibuk membagikan empat mangkuk bakso pada pemesannya di tengah kepadatan halte. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;Kepulan asap kuah bakso, ternyata mengundang peneduh lain memesan bakso Kusnadi. Pria asal Bojonegoro, Jawa Timur ini pun membatalkan niatnya berteduh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lagi perduli dengan baju basah dan udara dingin, Kusnadi sigap melayani pembeli seperti halnya saat cuaca cerah. Sesekali, ia tampak sedikit tergelincir licinnya lantai halte..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul 23.50 WIB, hujan mulai reda. Peneduh pun mulai berkurang. Tinggal enam orang yang masih berteduh. Kusnadi pun sibuk membereskan mangkuk kotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sedang mencuci mangkuk, seorang ibu yang sejak tadi duduk di sudut halte, menghampiri Kusnadi. "Mas, saya boleh minta kuah baksonya saja?" kata si ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusnadi mengangkat wajahnya, menatap sang ibu. "Iya, Bu, Nanti saya buatkan. Sebentar ya Bu, saya cuci mangkuk dulu," kata Kusnadi pada wanita itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu pun kembali ke sudut halte, di mana juga tampak seorang anak lelaki berusia sekitar sepuluh tahun. Di pundak kanannya, tersampir tas punggung biru tua yang sudah lusuh. Celana pendek dan kaos yang dipakainya pun, tak lebih baik dari tasnya. Warna sandal jepit yang dipakai pun tak seragam kiri dan kanan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;Wanita berusia empat puluhan tahun ini, duduk di sebelah si bocah dan merangkulnya. Saparti dan Wawan, nama ibu dan anak ini tampak begitu lelah. Sesekali, terdengar gemeretak gigi beradu dari si anak, tanda ia menahan dinginnya udara. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut kedua orang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini Bu, baksonya," kata Kusnadi sambil menyodorkan dua mangkuk bakso lengkap. Bukan cuma kuah seperti pesananan Saparti. "Mas, kok pakai bakso? Saya kan cuma minta kuah?" kata Saparti dengan tatapan bingung. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;"Tenang saja, Bu. Itu gratis kok. Ibu tidak usah bayar," sahut Kusnadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;Tanpa menunggu jawaban Saparti, Kusnadi kembali ke gerobaknya, membuatkan pesanan untuk sepasang muda-mudi yang baru bergabung di halte ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Saparti dan Wawan menyantap bakso itu dengan nikmatnya. Sesekali, Saparti mengarahkan pandangannya pada Kusnadi. Usai membuatkan pesanan muda-mudi tadi, Kusnadi membereskan dagangannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt; "Sudah, Mas. Jadi berapa?" kata Saparti pada Kusnadi. "Sudah, Bu. Tidak apa-apa. Insya Allah, saya ikhlas. Masa saya tega cuma memberi kuah, padahal dagangan saya sedang laris. Hitung-hitung bagi-bagi rezeki, Bu," ujar Kusnadi tersenyum. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt; Saparti tak bisa menolak kebaikan Kusnadi. Berkali-kali, Saparti mengucapkan terima kasih, sebelum akhirnya meninggakan halte ini.  "Kalau mau beramal harus menunggu sampai jadi orang kaya, kapan saya bisa beramal?" tutur Kusnadi sambil tertawa kecil.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5362338551847243131-2280876233254245147?l=penggilatuhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/feeds/2280876233254245147/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5362338551847243131&amp;postID=2280876233254245147' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/2280876233254245147'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/2280876233254245147'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/2007/12/kisah-kusnadi.html' title='Kisah Kusnadi'/><author><name>Baeda</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://farm3.static.flickr.com/2244/1572943606_f9e656de54_m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5362338551847243131.post-2101818248163447258</id><published>2007-12-08T07:36:00.000+09:00</published><updated>2007-12-08T07:46:24.801+09:00</updated><title type='text'>Cinta ....</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Cinta tidak pernah meminta, ia senantiasa memberi....&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;cinta membawa penderitaan tetapi tidak pernah mendendam dan tak pernah membalas dendam&lt;br /&gt;di mana ada cinta, di situ ada kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta sejati adalah ketika orang yg kita cintai mencintai orang lain dan kita masih mampu tersenyum serta berkata ....”aku turut bahagia untukmu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta tidak mengajarkan kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan.&lt;br /&gt;Cinta tidak mengajarkan kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan.&lt;br /&gt;Cinta bukan melemahkan semangat tetapi membangkitkan semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta itu laksana setetes embun yg turun dr langit, bersih dan suci.&lt;br /&gt;cuman tanahnyalah yg berlain-lainan menerimanya.&lt;br /&gt;Jika ia jatuh ke tanah yg tandus, ia akan tumbuh sebagai pendusta, penipu dan lain-lain yg tercela.&lt;br /&gt;tetapi jika ia jatuh ke tanah yg subur, di sana ia akan tumbuhkan kesucian hati, keikhlasan, setia, dan budi pekerti yg tinggi serta perangai lainnya yg terpuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan menciptakan 100 bagian kasih sayang.&lt;br /&gt;99 disimpan di sisinya, dan hanya satu bagian yg di turunkan ke dunia.&lt;br /&gt;dengan kasih sayang yg satu bagian itulah, mahluk yg diciptakan-Nya saling berbagi kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan mencintai seseorang seperti bunga, karena bunga mati kala musim berganti.&lt;br /&gt;Cintailah mereka seperti sungai, karena sungai mengalir selamanya.&lt;br /&gt;Cintailah seseorang itu atas dasar siapa dia sekarang dan bukan atas dasar siapa dia sebelumnya.&lt;br /&gt;kisah silam tak perlu diungkit lagi kiranya kamu mencintainya setulus hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta dan kasih sayang adalah jawaban yg dapat menyembuhkan segala penyakit, dan jalan yg menuju ke pada rasa cinta dan kasih sayang hanyalah melalui kema'afan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta umpama bunga di taman yg sedang mekar, hiasilah, jagalah tamanmu untuk kelihatan cantik dan ceria dan seandainya kamu tidak merawatnya, layulah bunga di taman dan rusaklah cinta itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya cara agar kita memperoleh kasih sayang ialah jangan pernah menuntut untuk di cintai, tetapi mulailah dengan memberi kasih sayang kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan lautlah jika airnya tidak berombak, bukanlah cinta jika perasaan tidak pernah terluka. Bukan kekasih namanya jika hatinya tidak merindu dan cemburu. Cinta sebenarnya tidak buta, cinta adalah sesuatu yg murni, luhur dan diperlukan. yg membuatnya buta ialah bila cinta itu menguasai dirimu tanpa pertimbangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta bukanlah dari kata-kata tetapi dari segumpal keinginan diberi pada hati yg memerlukan. tangisan juga bukanlah pengobat cinta, karena ia tidak mengerti perjalanan hati naluri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kejarlah cita-citamu sebelum cinta, apabila tercapai cita-citamu dengan sendirinya cinta pun akan hadir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta pertama adalah kenangan, cinta kedua pelajaran dan cinta seterusnya adalah keperluan karena hidup tanpa cinta bagaikan masakan tanpa garam. maka dari itu hargailah cinta yg dianugrahkan itu sebaik-baiknya agar ia terus mekar dan mewangi sepanjang musim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecewa bercinta bukan berarti dunia sudah berakhir, masa depan yg cerah berdasarkan pada masa lalu yg tlah di lupakan. kita tidak dapat melangkah dengan baik dalam kehidupan kita sampai kita melupakan kegagalan dan kekecewaan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta yg agung antara hamba dan Tuhannya, cinta suci antara bunda dan anaknya, adalah cinta yg tiada bandingnya antara persaudaraan.&lt;br /&gt;Cinta dikatakan hampir tidak memilih usia, ia juga tidak mengira warna bangsa.&lt;br /&gt;tidak ada miskin-kaya dalam catatan kamus cinta, cinta sesuatu yg luar biasa dalam cakrawala hidup setiap jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang punya rasa cinta, tapi tak setiap orang dapat merasainya&lt;br /&gt;setiap orang pernah bercinta tapi tak setiap orang mampu mengecap bahagianya cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Ketika sebuah cinta mengungkapkan suatu kejujuran, dia tidak akan berbohong.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;tidak akan ada sebuah konspirasi untuk mendahulukan sebuah nafsu untuk memiliki, tidak akan ada sebuah harapan untuk mendapatkan sebuah kebahagiaan tetapi hanya akan mendambakan untuk bisa mendapatkan kesempatan untuk memberikan sesuatu yg lebih berharga. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192); font-family: arial;font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia tidak jatuh ke dalam cinta dan tidak juga keluar dari cinta, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192); font-family: arial;font-size:100%;" &gt;tetapi manusia tumbuh dan besar di dalam cinta .&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192); font-family: arial;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta karunia Illahi mengapa mesti di benci ...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192); font-family: arial;font-size:100%;" &gt;yang harus di benci dan di hindari ialah kepalsuan, bukan cinta&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5362338551847243131-2101818248163447258?l=penggilatuhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/feeds/2101818248163447258/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5362338551847243131&amp;postID=2101818248163447258' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/2101818248163447258'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/2101818248163447258'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/2007/12/cinta.html' title='Cinta ....'/><author><name>Baeda</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://farm3.static.flickr.com/2244/1572943606_f9e656de54_m.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5362338551847243131.post-627988029222199764</id><published>2007-12-08T07:31:00.000+09:00</published><updated>2007-12-08T07:33:31.688+09:00</updated><title type='text'>Cerita Dua Semut</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Koridor ruang kuliah cukup tenang. Tidak ada mahasiswa yang lagi menunggu dosen, apalagi hanya kongkow-kongkow. Pokoknya tenang. Super tenang malah. Tapi kalau telinga manusia bisa menangkap pembicaraan dua semut di lantai, maka super tenang bukanlah kata-kata yang tepat untuk mendeskripsikan keadaan di koridor itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Masih jauh gak?”, tanya Semut Merah. Semut Hitam yang punya kecenderungan berjalan lebih cepat, karena tidak seberat Semut Merah, menoleh, “Masih. Tenang sajalah. Kalau sudah dekat, pasti kuberitahu”. Mereka terus berjalan. Ubin demi ubin. Mengendus ke sana ke mari. Benar-benar penuh ketelitian dan kesabaran. Jengkal demi jengkal, walau semut tak pernah punya tangan yang berjengkal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Seharian, dari matahari muncul sampai tenggelam mereka sudah berjalan. Tak ada henti. Koridor sepanjang hampir dua ratus meter, belum habis mereka selusuri. Letih dan lelah menggayut pada keenam kaki mereka. Andai mereka dapat berpeluh dan berpakaian, pastilah mereka sudah banjir keringat sedari tadi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Hitam, kita sudah jauh sekali dari sarang. Baik sarangku maupun sarangmu. Sejauh ini, kita belum dapat apa-apa. Sungutku sudah lelah menerawang segala sudut. Kita istirahat dulu ya?”, desah Merah. Hitam yang masih tetap berada di depan, memimpin penjelajahan, menoleh lemah. Mengangguk. Dia juga sudah sangat lelah. Perjalanan yang disangkanya cepat dan pendek, ternyata sebaliknya. Mereka kemudian berhenti di ujung sebuah ubin, yang juga awal dinding vertikal. Setelah mencari cukup lama, terpilihlah sebuah lubang yang cukup mereka pakai untuk beristirahat, melemaskan segala segmen kulit keras mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Hitam, maafkan aku kalau tak cukup tenaga untuk pencarian ini. Tapi kuyakinkan kau, semangatku belum pudar sedikitpun. Akan kujalani ini bersamamu. Sampai akhir nanti. Apapun itu”, kata Merah. Hitam yang sudah pada posisi istirahatnya, hanya menoleh perlahan. Memandangnya penuh arti. Menghela napas panjang. “Merah, sudah jauh perjalanan kita. Sudah kau rasakan betapa sulitnya perjalanan ini. Janganlah meminta maaf karena itu. Kan aku juga merasakan apa yang kau rasakan. Paling tidak, segala yang kau rasakan, pastilah kurasakan juga”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Merah memandang Hitam. Hitam pun memandang Merah. Rasa percaya, senasib dan sepenanggungan terpancar dari mata mereka. Keduanya tersenyum. Tapi tak selang lama, terdengar langkah berat memasuki lubang tempat mereka beristirahat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Hei, semut-semut kecil. Ada apa kalian di sini. Daerah ini bukan daerah yang baik untuk kalian”, gema Rangrang yang empat kali lebih besar dari Merah. Sontak, Merah dan Hitam bangun. Mereka tak sanggup berkata-kata. Terlalu takut akan gema suara Rangrang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Jangan kalian takut dengan aku. Badanku memang besar. Tapi aku juga semut. Sama dengan kalian. Hayo, apa yang kalian bikin sampai pergi dari sarang kalian?” kata Rangrang menenangkan. “Maafkan kami, kalau kami merepotkanmu Rangrang. Kami berdua dalam perjalanan mencari sesuatu yang menurut kami punya makna untuk hidup kami”, jawab Merah. “Apa itu?”, tanya Rangrang lagi. “Pernahkah kau rasa bahwa hidup kita ini punya sesuatu tujuan? Kau pasti sudah tahu, kalau kami berdua golongan semut ulet. Aku prajurit dan Hitam pekerja pengangkut. Namun kami rasa, menjadi prajurit dan pekerja bukanlah tujuan hidup kami. Ada sesuatu di balik semua itu. Awalnya, kami pikir yang akan kami cari itu segunung gula. Tapi ternyata bukan. Kami pernah menemukan dan bekerja mengangkut segunung gula ke sarang. Tapi setelah selesai, kerinduan akan tujuan hidup itu tidak kami dapatkan. Akhirnya kami berdua sepakat meninggalkan segalanya untuk mencari sesuatu yang bisa menerangkan mengapa kami selalu rindu tujuan hidup. Tidakkan kau pernah merasakan hal seperti itu, Rangrang?”, tanya Merah mulai tenang. Rangrang menghela napas. Dipandangnya kedua semut kecil di depannya. Timbul rasa kagum akan keduanya. Dia tahu, perjalanan mereka sudah sangat jauh. Dia pun tahu, kalau apa yang mereka cari, tidak akan mereka dapatkan. Walau sampai ke ujung dunia sekalipun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Kalian berdua bukan cuma ulet. Namun juga berjiwa ksatria. Aku, Rangrang yang disebut-sebut sebagai Si Perkasa, sama sekali tak punya keberanian seperti kalian berdua, Ksatria-kstaria sejati”, jawab Rangrang. “Tapi kau kan semut terbesar dan paling perkasa dari semua semut yang ada? Mengapa engkau berkata begitu?”, sanggah Merah. Rangrang kembali menghela napas panjang, “Ketahuilah sahabatku, aku pun pernah merasakan yang kau rasakan. Namun aku tak pernah punya keberanian untuk mencarinya. Aku malu. Bukan padamu. Tapi pada diriku sendiri. Ah ....”, hela Rangrang sambil berjalan tertunduk keluar lubang. Merah dan Hitam saling berpandangan. Benarkah semut segagah dan perkasa Rangrang tidak punya keberanian? Ataukah mereka yang terlalu bodoh? Sampai-sampai tidak tahu kalau apa yang mereka lakukan sekarang hanyalah kesia-siaan belaka? Namun sekejap kemudian, mereka tersenyum. Dengan perasaan bangga, semangat mereka kembali memuncak. Mereka sadar kalau hal terpenting yang harus ada dalam diri mereka adalah kerinduan akan sesuatu itu. Sesuatu yang tak mereka ketahui, entah sampai kapan, namun mereka rasa kehadirannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Ah ....... rindu memang mengalahkan semuanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5362338551847243131-627988029222199764?l=penggilatuhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/feeds/627988029222199764/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5362338551847243131&amp;postID=627988029222199764' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/627988029222199764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/627988029222199764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/2007/12/cerita-dua-semut.html' title='Cerita Dua Semut'/><author><name>Baeda</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://farm3.static.flickr.com/2244/1572943606_f9e656de54_m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5362338551847243131.post-1922252491800714011</id><published>2007-12-07T18:37:00.000+09:00</published><updated>2007-12-07T18:38:52.983+09:00</updated><title type='text'>Kisah Orang-orang Kalah (#4)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Setelah panas sekian lama, akhirnya hujan pun datang. Seperti juga panas, sekali datang susah berhentinya. Terkadang sampai seminggu tak berhenti. Akibatnya, banjir dimana-mana. Depan kampus, dekat gedung DPRD, simpang Tol bahkan di DAK (baca: &lt;u&gt;D&lt;/u&gt;aerah &lt;u&gt;A&lt;/u&gt;liran &lt;u&gt;K&lt;/u&gt;anal). Kenapa bisa ya? Pan kanalnya besar? Mana dalam lagi! Kok masih juga gak bisa menampung air hujan? Apa karena salah alam? Atau mungkin malah kita yang terlalu sombong terhadap alam? Atau karena bakalan ada pengosongan massal DAK, yang bakal dijadikan Mal Super Hebat dan Super Megah? Entahlah ...... yang penting sekarang, dimana-mana air tergenang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Genangan air, ternyata juga membawa penyakit. Sebuah rumah sakit di tengah kota, sekarang ini penuh dengan pasien penderita demam berdarah. Lho, kan Aedes Agepty itu hanya bisa bertelur dan berkembang biak di air tenang? Masa sih bisa begitu di kubangan, genangan berlumpur atau kanal dengan sekumpulan sampah organik dan anorganik? Mati aku! Apa ada evolusi nyamuk secara dadakan dalam waktu singkat? Usut punya usut, hampir semua rumah di kawasan DAK ternyata “menyumbang” anggota keluarganya ke rumah sakit. Masuk dengan predikat “Dengue Fever Patients”. Mengenaskan. Kenapa mereka yang masuk ya? Kan mereka jarang bersentuhan dengan air bersih?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Terdorong rasa heran dan sedikit linglung; kucoba meninjau lokasi. Rumah demi rumah di kawasan DAK itu kudatangi. Kudata segala hal tentang kondisi kesehatan keluarga, rumah serta sanitasi. Pada hari ketiga pendataan, keherananku memuncak. Aku dengan pakaian ala kadarnya, disambut Ketua RT dan seabrek orang DAK. Ada rebana segala. Weleh weleh weleh ........ ada apa ini? Seorang dengan pakaian safari menyalamiku sopan, “Selamat datang pak, semoga segala pendataan bapak ini bisa dilakukan tanpa halangan. Kami siap membantu apa saja”. Benar-benar mengherankan. Seorang pria, yang sepertinya ajudan bapak yang bersafari itu, mempersilahkanku jalan duluan dan mulai membantuku mengambil data. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Selang sepuluhan rumah dan tatkala orang-orang mulai tidak mengikuti kami, dia mulai bicara, “Aduh pak, untung sekali bapak datang. Sekarang ini ada penyakit berbahaya menyerang kampung ini pak. Kata orang sih, namanya DBD. Kalau data yang bapak ambil ini bisa buat rekomendasi ke pemerintah kota untuk segera diadakan tindakan, wah ..... kami sungguh berterima kasih sekali pak”. Aku cuma tersenyum mengangguk. Tanpa sadar, mataku menangkap keanehan. “Pak, kok semua rumah punya kolam ikan?”, tanyaku heran. “Ooo ... itu bukan kolam ikan pak, itu bak air. Biasalah pak, untuk mandi dan minum. Pan daerah ini belum ada air ledeng? Dulu pernah kami minta, namun semua jawaban yang kami terima dari pemerintah hanya sabar pak ... sabar bu’ ... Yah, emang mungkin karena daerah kumuh yah? Sampe pemerintah ogah-ogahan bantu kami”, katanya lancar. Terasa mataku mulai nanar ... pucat pasi sepertinya wajahku. Jadi selama ini, DBD menyerang mereka akibat tidak ada air ledeng lewat pipa; sampai-sampai mereka harus menampung air hujan di bak-bak. Pantas saja, nyamuk-nyamuk heboh itu memangsa mereka. Seketika muka pucatku berubah merah. Kurang ajar!!! Tapi sekejap berubah pucat kembali. Dua buldozer lengkap dengan serombongan polisi pamong praja, baru saja masuk areal DAK. Mal itu ternyata benar-benar bakal ada. Dan rumah-rumah ini berada di tempat yang salah. Lututku lemas .....&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5362338551847243131-1922252491800714011?l=penggilatuhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/feeds/1922252491800714011/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5362338551847243131&amp;postID=1922252491800714011' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/1922252491800714011'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/1922252491800714011'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/2007/12/kisah-orang-orang-kalah-4.html' title='Kisah Orang-orang Kalah (#4)'/><author><name>Baeda</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://farm3.static.flickr.com/2244/1572943606_f9e656de54_m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5362338551847243131.post-3165914191221153312</id><published>2007-12-07T18:36:00.000+09:00</published><updated>2007-12-07T18:37:40.231+09:00</updated><title type='text'>Kisah Orang-orang Kalah (#3)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tsunami Aceh, 26 Desember 2004, menyisakan sesak dalam dada yang teramat sempit. Sesak oleh bau menyengat mayat-mayat manusia teronggok dimana-mana. Walau hanya terlihat dari televisi, tapi baunya seperti merangsek masuk ke lubang hidung. Sesak juga terasa akibat dengan gampangnya keangkuhan manusia terobrak-abrik oleh kemarahan alam. Memprihatinkan, mengerikan bahkan mengenaskan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Seketika, seluruh persada bergerak. Mengumpulkan pakaian bekas, mi instan, obat-obatan bahkan uang. Jejalan manusia membentuk barisan panjang di alur antrian, terlihat di setiap bank yang ada. Di salah satu bank, dalam antrian, juga ada aku. Dengan segepok uang duapuluh ribuan, yang telah kutarik dari rekening di bank lain via ATM. Awalnya aku hanya mau menyumbang paling tidak seratus ribu saja, namun karena hampir semua teman kantorku menyumbang minimum sejuta, akupun ikut. Kutarik dua setengah juta dari ATM. Lalu mengantri di bank lain yang menawarkan jasa pengumpulan dana. Begitu ceritanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Di depanku mengantri, ada seorang gadis cilik. Di tangan kanannya ada gemericing dari tutup botol alumonium yang diratakan dan di paku pada kayu kecil segenggaman. Sepertinya pengamen jalanan yang sering mangkal di lampu merah. Dua buah kaleng susu kecil, terkepit antara lengan kiri dan dadanya. Heran juga aku melihatnya. Tanpa sadar kutanya, “Mau nabung ya?”. Ditolehinya aku ke belakang, “Gak Om. Mau ikut nyumbang Tsunami di Aceh”. “Yee .... emang situ mau sumbang berapa?”, tanyaku mencibir. “Ya ... berapa aja deh yang ada di dua kaleng ini. Tapi kira-kira sih .... hmmm ... gak sampe duapuluh ribuan. Soalnya baru nabung setahun lalu sih. Jadi cuman bisa dapet dua kaleng. Tapi om, kan yang penting niatnya. Aku liat banyak anak-anak di sana gak bisa sekolah. Kan gak baik, kalo gak sekolah. Biar deh tabunganku ini buat mereka. Kali aja bisa buat beli buku pelajaran baru. Sebenernya, tabunganku ini buat sekolah lagi. Tapi biar mereka dululah yang sekolah. Kan aku bisa nyari duit lagi ..... nabung lagi ..... “, cerocosnya tersengal-sengal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Terasa mukaku memanas. Keringatku mulai mengucur deras dari kepala, walau ruangan antrian ini ber-AC. Terbayang betapa pucatnya mukaku karena malu. Dua setengah juta ini ternyata tidak ada artinya dibanding dua kaleng susu penuh recehan seratusan. Dua setengah juta ini entah dari mana kudapat. Bisa dari proyek pemeliharaan jalan atau perbaikan irigasi desa tertinggal, yang berbalut &lt;i style=""&gt;mark up&lt;/i&gt; dana APBN. Sementara duapuluh ribuan dalam dua kaleng susu itu, bermateraikan peluh, airmata dan puasa berhari-hari. Belum lagi kesabaran yang luar biasa. Malu aku .......&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Perlahan aku beringsut keluar dari antrian. Ku tahan maluku melewati orang-orang yang ikut mengantri. Sesampai di luar, berkali-kali kupukul kepalaku. Bodoh ... bodoh ...... Penjahat aku ini ...........&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sementara di dalam, antrian bergerak ke depan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;“Bu ... ini dua kaleng susu. Isinya penuh recehan seratusan loh! Semuanya untuk anak-anak di Aceh ya?”, katanya enteng. Kemudian bergegas bergerak menyamping dan melenggang keluar ruangan. Sepanjang jalannya keluar, semua mata tertuju ke arahnya. Nanar dan berkaca-kaca. Sementara dia hanya senyum. Senyum keikhlasan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5362338551847243131-3165914191221153312?l=penggilatuhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/feeds/3165914191221153312/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5362338551847243131&amp;postID=3165914191221153312' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/3165914191221153312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/3165914191221153312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/2007/12/kisah-orang-orang-kalah-3.html' title='Kisah Orang-orang Kalah (#3)'/><author><name>Baeda</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://farm3.static.flickr.com/2244/1572943606_f9e656de54_m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5362338551847243131.post-239092191669701873</id><published>2007-12-07T18:32:00.000+09:00</published><updated>2007-12-07T18:33:52.404+09:00</updated><title type='text'>Kisah Orang-orang Kalah (#2)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hari panas. Hampir pukul 14 siang. Jalan penuh dengan angkot. Jalan protokol beruas dua saja masih terlalu padat untuk waktu macet dan kelas kota yang cukup terpandang ini. Berulang kali klakson memekakkan telinga, meneriaki orang, angkot lain yang berebut penumpang bahkan anjing yang menyeberang, namun tidak lewat jembatan penyeberangan. Hebat kan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hari masih terlalu panas untuk berjalan langsung di terik matahari. Makanya aku tetap saja jongkok di halte bus rusak dekat jembatan penyeberangan. Walau secara faktuil, halte itu sangat jarang disinggahi bus. Tapi entah mengapa sampai rusak separah itu; bangku jebol, tiang berlubang bahkan sebagian atapnya sudah tidak ada. Ah sudahlah ..... yang penting masih bisa dipakai bernaung. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Di sebelah halte, ada pohon akasia. Cukup rindang. Menariknya, di bawahnya duduk seorang tua. Ada dua bakul besar yang disatukan sebuah pikulan, di sebelahnya. Dalam masing-masing bakul itu ada setumpuk besar kelapa tak bersabut. Kira-kira 14 sampai 20-an buah. Terbayang betapa beratnya bakul-bakul itu dipikul. Namun anehnya, muka kepayahan sang tua, selalu tersungging senyum. Manis lagi. Maklum, mukanya masuk kategori &lt;i style=""&gt;babyface&lt;/i&gt;. Taksirku, umurnya sudah di ambang 60-an. Itu taksiran via wajah, belum tentu benar! Sambil mengipas-ngipas, dia masih saja tersenyum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Keherananku mengalahkan panas. Kuhampiri sang tua itu. Dengan mata heran dan tak pernah lepas, kutanya dia, “Cape’ ya? Emang sudah laku banyak? Dari tadi pagi jualannya? ...”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Belum selesai pertanyaanku, dia memotong, “Gak. Cape’ itu bagian dari jualan. Kalo saya ngerasani cape’, yah .... harus. Wong cape’ itu resiko jualan! Manalagi emang sih, sepertinya harus cape’ ...... “ Diakhirinya dengan senyum. “Terus ... kalo emang cape’ karena harus, kok masih nyengar-nyengir gitu? Harus kan biasanya berarti terpaksa, jadi bapak mestinya tidak perlu senyum!”, sanggahku setengah merengut. Eh ... sang tua itu malah tertawa. Dan tertawa ...... Keherananku masih ada, semakin mengorek rasa ingin tahuku. Tapi tampaknya, sang tua sudah siap jualan lagi. Sembari membetulkan topi bambunya, dia berdiri. “Emang sudah laku berapa sih?”, tanyaku tanpa ragu. “Lima. Ya .... lima, sejak 3 hari lalu”, jawabnya tanpa menoleh ke arahku. “Lha ... kalo sulit laku, kenapa jualan terus?”, desakku lagi. Kali ini, dia berhenti berkemas. Ditatapnya mataku lekat-lekat. “Saya takut gak bisa senyum lagi, kalo berhenti jualan kelapa-kelapa ini”, jawabnya serius. Kemudian dia kembali senyum. Lepas beberapa saat, pikulan sudah di pundak. Dia mengangguk hormat, senyum, terus berjalan kembali di terik matahari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lama aku diam. Menatapnya sampai jauh. Saat sadar, kepalaku sudah cukup panas karena berdiri tanpa naungan atap halte. Bergegas kukembali ke halte yang sudah mulai sesak oleh orang-orang yang baru saja turun dari angkot. Kutoleh kembali ke arah sang tua berjalan. Jalannya kadang tersendat, karena terhalang angkot-angkot yang tiba-tiba memotong jalan tanpa lampu weser. Asap knalpot angkot-angkot itu juga mengerubunginya. Kadang membuatnya terbatuk. Tapi dia tetap saja berteriak menjaja kelapa, diseling riuhnya klakson angkot-angkot. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Lapa ...... kelapa ......... kelapa .........”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Piiiiippppppppp ......... piiiiiipppppppppp ....... piiiiippppppp .......”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Dan senyum itu masih tersungging di bibirnya. Sederet senyum kemenanga&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;n.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5362338551847243131-239092191669701873?l=penggilatuhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/feeds/239092191669701873/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5362338551847243131&amp;postID=239092191669701873' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/239092191669701873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/239092191669701873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/2007/12/kisah-orang-orang-kalah-2.html' title='Kisah Orang-orang Kalah (#2)'/><author><name>Baeda</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://farm3.static.flickr.com/2244/1572943606_f9e656de54_m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5362338551847243131.post-4165537530823999732</id><published>2007-12-07T18:22:00.000+09:00</published><updated>2007-12-07T18:32:08.925+09:00</updated><title type='text'>Kisah Orang-orang Kalah (#1)</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);font-size:100%;" &gt;&lt;a  name="OLE_LINK1" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial; color: rgb(192, 192, 192);font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Kemarin, tatkala sudah sedemikan lelahnya berkeliling mengayuh mencari penumpang, seorang tukang becak akhirnya berhenti di bawah pohon beringin yang cukup rindang di bilangan selatan kota. Jalannya tidak ramai, jadi cukuplah membuat semua efek alam menggelayuti dan merangsang semua indranya untuk santai dan terbuai. Sebentar saja, ia terlelap, mendengkur dan sesekali mengelap liur yang mengalir keluar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192); font-family: arial;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192); font-family: arial;font-family:arial;" &gt;&lt;br /&gt;Tak seberapa lama, lewat sebuah mobil Volvo hitam dengan gagah dan menterengnya. Pada awalnya, mobil tersebut melaju dengan kencangnya; namun selang 50-an meter, mobil tersebut berhenti dan kemudian perlahan-lahan mundur mendekati sang tukang becak yang masih terlelap. Begitu berhenti, kaca pintu mobil bagian belakang perlahan-lahan turun otomatis; didalamnya melongok keluar kepala bapak konglomerat dengan kacamata bermerk terkenal dengan gagang emas. Matanya yang sayu menatap sang tukang becak dengan memelas, kemudian menunduk, melihat sekelilingnya, menarik napas panjang. Menggeleng berulang kali, kemudian menggangguk kepada supir. Perlahan mobil jalan kembali, namun kaca mobil tetap turun dan kedua mata sayu sang bapak konglomerat tetap menatap sang tukang becak yang masih terlelap. Tak terasa, kedua mata sayu tersebut, mengalirkan air. Walau tanpa isak, jelas terlihat penyesalan mendalam dari kedua mata tersebut. Seolah-olah sang mata berteriak, “Mengapa ia bisa tidur selelap itu? Sementara dia tidak punya apa yang aku punya, penthouse lengkap dengan segala perniknya yang akan memberikan penjaminan kelelapan istirahat yang amat baik! Apakah Tuhan tidak menginginkan aku istirahat di atas keringat kotorku? Atau tidur di atas berpeti uang korupsiku? Ahh .... Tuhan memang menghukumku!”. Perlahan pantat mobil menjauh, kemudian hilang di pertigaan.&lt;/span&gt;&lt;o:p style="font-family: arial; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192); font-family: arial;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;Sejam kemudian, sang tukang becak terbangun dari lelapnya. Dilihatnya langit, sudah menjelang sore. Tapi itupun belum apa-apa, masih ada waktu untuk mengayuh lagi, mencari penumpang-penumpang. Di bibirnya merekah senyum, “Hidup ini indah ....” ucapnya. Maka becak pun dikayuhnya kembali. Dia tidak pernah sadar, kalo senyumnya itu adalah senyum kemenangan sebuah pertempuran kehidupan.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192); font-family: arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name="OLE_LINK2"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a style="color: rgb(192, 192, 192);" name="OLE_LINK1"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5362338551847243131-4165537530823999732?l=penggilatuhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/feeds/4165537530823999732/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5362338551847243131&amp;postID=4165537530823999732' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/4165537530823999732'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362338551847243131/posts/default/4165537530823999732'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penggilatuhan.blogspot.com/2007/12/kisah-orang-orang-kalah-1.html' title='Kisah Orang-orang Kalah (#1)'/><author><name>Baeda</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://farm3.static.flickr.com/2244/1572943606_f9e656de54_m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
